Bos distributor tembakau akui suap dua penyidik pajak

Rabu, 13 November 2013 03:26 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Bos distributor tembakau akui suap dua penyidik pajak ilustrasi sidang tipikor. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Saksi Laurentius Suryawidjaja mengakui memberikan uang Rp 3,25 miliar kepada dua penyidik pegawai negeri sipil Direktorat Jenderal Pajak, Eko Darmayanto dan Muhammad Dian Irwan Nuqisra. Menurut bos distributor tembakau dari PT Delta Internusa dan PT Nojorono International Tobacco itu, dia terpaksa memberikan uang itu supaya urusan penyidikan pajak perusahaannya oleh Eko dan Irwan dihentikan dan usahanya tidak diganggu lagi.

"Saya pikir ya sudah berikan saja. Karena kami kan tidak ingin operasional perusahaan terganggu," kata Laurentius saat bersaksi dalam sidang Eko dan Irwan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (12/11).

Laurentius yang sudah paruh baya itu mengaku awalnya dia diberi tahu oleh anak buahnya, Giwangseh, ada surat panggilan dari penyidik pajak. Alasannya adalah ada masalah faktur pajak PT Delta Internusa soal penjualan tembakau.

"Menurut kantor pajak, penjualan kami mencapai Rp 13 triliun. Tapi yang tercatat di pembukuan perusahaan cuma Rp 6 triliun. Perbedaan itu yang dipermasalahkan," ujar Laurentius yang memakai kacamata itu.

Surat panggilan itu dikirim oleh Eko dan Irwan. Keduanya meminta bertemu empat mata dengan Laurentius untuk membicarakan penyidikan pajak PT Delta Internusa. Tetapi, Laurentius tidak menggubrisnya dan mengutus anak buahnya, Adi Winarko.

Namun, Manajer Keuangan PT Delta Internusa, Adi Winarko, melapor kepada Laurentius ada dua penyidik pajak, Eko dan Irwan, yang justru meminta uang. Menurut Adi, Eko dan Dian mengatakan jika tidak membayar duit diminta, maka perkara penyidikan pajak itu akan dilanjutkan.

"Awalnya mereka minta Rp 10 miliar. Tapi Pak Laurentius tidak setuju. Akhirnya setelah beberapa lama turun menjadi Rp 3,5 miliar. Tetapi, dinego lagi dan turun jadi Rp 3,25 miliar," kata Adi.

Adi dan rekannya lantas mengantar duit itu ke Jakarta. Mereka lantas membuat janji dengan Eko dan Irwan bertemu di Hotel Ciputra, Jakarta. Setelah bertemu, mereka menyerahkan uang itu. Tetapi lucunya, saat uang Rp 3,5 miliar diterima Eko dan Irwan, mereka malah memberikan Rp 550 juta kepada Adi.

"Alasannya sebagai uang balas jasa. Saya tadinya enggak mau dan saya kejar mau saya kembalikan. Tapi enggak ketemu lagi. Akhirnya uang itu saya bawa lagi ke Kudus dan disimpan di lemari. Kemudian waktu pemeriksaan di KPK, saya serahkan uang Rp 550 juta itu ke KPK," lanjut Adi.

Laurentius berdalih diperas penyidik pajak

Di persidangan, Laurentius mengaku diperas oleh Eko Darmayanto dan Muhammad Dian Irwan Nuqisra. Bos perusahaan distributor tembakau itu mengatakan menolak permintaan uang oleh Eko dan Irwan, tapi nyatanya akhirnya dia malah memberikan duit supaya proses penyidikan kejanggalan pajak perusahaannya dihentikan.

"Saya cuma ingin cepat selesai saja urusannya, dan tidak memperpanjang. Karena kami juga harus fokus mengurus bisnis dan operasional perusahaan," kata Laurentius.

Namun, saat didesak Ketua Majelis Hakim Amin Ismanto, Laurentius baru mengakui dia setuju memberikan duit suap sebesar Rp 3,25 miliar. Tetapi, dia masih saja berkilah saat itu perusahaannya diancam akan bermasalah soal penggelapan pajak.

"Saya terpaksa memberikan dan tidak banyak. Karena saya juga diancam pajak perusahaan akan diperkarakan," lanjut Laurentius.

Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi, Andi Suharlis, sempat heran kenapa Laurentius tidak melaporkan permintaan uang Eko dan Irwan ke polisi. Tetapi, Laurentius mengatakan tidak ingin masalah itu berlarut-larut.

"Sempat dipertimbangkan juga melaporkan ke polisi. Tetapi saya ingin masalah ini cepat selesai dan tidak ingin berurusan dengan banyak orang," ujar Laurentius. [has]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Mafia Pajak
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini