Borgol Tahanan Korupsi dan Masa Akhir Tugas Pimpinan KPK Jilid IV

Kamis, 3 Januari 2019 14:42 Reporter : Merdeka
Borgol Tahanan Korupsi dan Masa Akhir Tugas Pimpinan KPK Jilid IV Pimpinan KPK Saut Situmorang. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan terobosan baru di tahun 2019. Lembaga antirasuah memutuskan memborgol para tahanan yang akan diperiksa penyidik maupun diperiksa jaksa penuntut umum di Pengadilan Tipikor.

Kini, para tahanan KPK tak hanya menggunakan rompi oranye saja, sebagai ciri khas seseorang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Nantinya, di kedua tangan para tahanan disematkan gelang besi yang dihubungkan dengan rantai pendek.

Pemborgolan para tahanan tertuang dalam peraturan KPK Nomor 01 Tahun 2012 tentang Perawatan Tahanan pada Rumah Tahanan KPK. Hal tersebut dijelaskan dalam Pasal 12 ayat (2). Pasal tersebut berbunyi 'dalam hal tahanan dibawa ke luar Rumah Tahanan (Rutan), dilakukan pemborgolan'.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menyebut, keputusan lembaga antirasuah memborgol para tahanan karena alasan keamanan.

"Lebih pada hasil evaluasi keamanan pergerakan tahanan dan batasan resources KPK dalam hal pengamanan pengawalan tahanan," ujar Saut saat dikonfirmasi, Kamis (3/1).

Menurut Saut, pemborgolan tahanan belum tentu akan membuat efek jera atau menghilangkan senyum para koruptor. Hal tersebut serupa dengan saat KPK memutuskan untuk menyematkan rompi oranye terhadap para tahanan.

"Itu relatif, dulu pakai rompi juga diawali diskusi antara lain isyu efek jera, nyatanya OTT (operasi tangkap tangan) sampai double enggak pengaruh juga," kata Saut.

Saut tak mau dikatakan bahwa keputusan memborgol para tahanan lantaran masa tugasnya akan segera habis di tahun 2019 ini. Dia tak mau disebut bahwa komisioner KPK jilid empat ini telah mewarisi hal baru di lembaga antirasuah, meski borgol merupakan hal baru di KPK.

Masa akhir pimpinan KPK jilid IV ini akan segera berakhir pada 2019. Saut mengaku tak habis pikir dengan para koruptor yang semakin banyak di setiap tahun. Di 2018, KPK rekor melakukan OTT sebanyak 30 kali dan menjerat 31 kepala daerah.

Menurut Saut, rompi oranye dan borgol sepertinya tak akan membuat jera para koruptor merampok uang negara dan masyarakat. Saut menyebut hanya Tuhan yang bisa membuat jera para koruptor.

"Didoakan setiap saat, biar Tuhan yang bekerja, habis apalagi ya," kata Saut.

Rabu, 2 Januari 2019 kemaren merupakan awal penerapan pemborgolan terhadap para tahanan. Sebanyak kurang lebih 34 orang tahanan KPK yang berada di Jakarta, Surabaya, Medan, Ambon, dan Bandung di borgol oleh KPK.

Reporter: Fachrur Rozie
Sumber: Liputan6.com [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini