BNPB Petakan Daerah Rawan Bencana di Calon Ibu Kota Baru

Rabu, 22 Januari 2020 14:47 Reporter : Saud Rosadi
BNPB Petakan Daerah Rawan Bencana di Calon Ibu Kota Baru Banjir di Samarinda. ©2020 Merdeka.com/Saud Rosadi

Merdeka.com - BNPB tengah memetakan lokasi risiko bencana di kawasan calon ibu kota baru, tepatnya sebagian kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pemetaan itu melibatkan banyak ahli. Mulai dari ahli kepakaran hingga ahli lingkungan.

BNPB mencatat, provinsi Kalimantan Timur punya risiko kebakaran hutan dan lahan sangat besar saat memasuki kemarau. Namun di 2019 lalu, area yang terbakar relatif sedikit.

"Data kami peroleh, provinsi Sumsel ada 328 ribu hektare yang terbakar, di provinsi Kalteng ada 330 ribu hektare. Kaltim, sekitar 64 ribu hektare. Dibanding daerah lain masih sangat kecil," kata Kepala BNPB Doni Monardo saat rapat koordinasi di kantor Gubernur Kaltim, di Samarinda, Rabu (22/1).

BNPB mendapat tugas dari pemerintah pusat melalui Setkab untuk melakukan kajian risiko bencana terhadap wilayah calon ibu kota baru.

"Saya tanya ke staf, potensi gempa ada. Tapi di bawah 5 skala Richter. Ini perlu kita dalami lagi dengan kerja sama banyak pihak geologi dan pakar gempa serta tsunami. Termasuk, Ikatan Ahli Bencana Indonesia," ujar Doni.

"Kami masih perlu waktu merampungkan kajian ini. Agar hasil yang kita dapatkan bisa jadi rujukan, perkiraan akan ancaman paling utama di ibu kota baru. Supaya kita bisa lakukan mitigasi yang tepat," tambah Doni.

1 dari 1 halaman

Doni menyebut Indonesia sebagai supermarket bencana lantaran memiliki 500 gunung api. Di mana, 127 di antaranya merupakan gunung api aktif serta memiliki 256 patahan.

"Ini berpeluang bisa bertambah. Seperti di pulau Ambon dan pulau Haruku, ada patahan baru. Kita kerja sama, koordinasi dengan ITB, BMKG, Badan Geologi dan kementerian terkait. Ini unik dan fenomenal," terang Doni.

"Gempa di Ambon itu, hampir 3.000 kali. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kita bersyukur, gempa terjadi sering dan banyak. Kalau sekali saja, maka yang terjadi (kekuatan) gempa akan sangat besar. Apalagi, negara indah Indonesia ini dipengaruhi letak topografi pertemuan 3 lempeng benua," paparnya.

Doni menggarisbawahi bahwa dunia, tidak terkecuali Indonesia sedang menghadapi perubahan iklim. "Penanggulangan bencana, sesuaikan dengan perubahan iklim. Global Warming (pemanasan global itu) bukan omong kosong," jelas dia.

"Dampak perubahan iklim itu, seperti kemarau yang panjang, kekeringan semakin lama. Hujan lebat dan durasi lebih lama. Ke depan, sangat memungkinkan terjadi gagal panen. Kalau kita menjaga alam, InsyaAllah alam akan menjaga kita," tutupnya. [ray]

Baca juga:
Bappenas Prediksi Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi Jika Ibu Kota Pindah
Perpres Badan Otorita Pembangunan Ibu Kota Baru Terbit Akhir Januari
Banjir Investasi dan Bantuan Asing di Ibu Kota Baru
Hongaria Bakal Investasi Rp13,6 Triliun di Ibu Kota Baru Indonesia
Pemerintah Habiskan Rp800 Miliar Bangun Bendungan di Ibu Kota Baru

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini