BMKG: Fenomena Alam di Selat Sunda Bisa Jadi Bencana Jika Warga Tak Beradaptasi

Sabtu, 22 Januari 2022 08:04 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
BMKG: Fenomena Alam di Selat Sunda Bisa Jadi Bencana Jika Warga Tak Beradaptasi Banjir Rob Kali Adem di Muara Angke. ©2022 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Peneliti ahli madya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mohamad Ramdhan menilai, fenomena alam seperti gempa, tsunami, dan erupsi di Selat Sunda, Banten, akan menjadi bencana jika masyarakat tidak beradaptasi.

Dia mengatakan, adaptasi menjadi penting lantaran kawasan tersebut memiliki potensi gempa maksimal magnitudo M 8,7 dengan potensi tsunami hingga 20 meter.

"Seandainya terjadi kita harus siap, gempa bumi, tsunami dan erupsi untuk memikirkan bagaimana beradaptasi," ujar Ramdhan saat menjadi pembicara di webinar Gempa Bumi Banten M 6,6 yang diikuti secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu (22/1).
.
Menurut dia, gempa yang terjadi di Kabupaten Pandeglang M 6,6 pada Jumat (14/1) merupakan ‘foreschock' atau energi yang dirilis sedikit-sedikit sebelum ‘main schok’ atau energi maksimal gempa.

Menurut kajian BMKG, Pulau Sumatera hingga Jawa bagian barat pergeseran lempeng terdapat banyak sumber gempa yang dapat menjadi ancaman. Sebab, sumber gempa selain dari zona subduksi, sesar Sumatra dan sesar yang ada di Jawa.

2 dari 2 halaman

Selain itu, longsoran Gunung Krakatau telah mengakibatkan tsunami pada 2018 dan paling fenomenal dengan ketinggian lebih dari 30 meter akibat erupsi 1883.

"Jawa bagian barat ada ibu kota, penduduk tinggi, daerah wisata. Tugas kita semua meningkatkan kesiapsiagaan kita meningkatkan adaptasi dengan fenomena alam," ujar dia.

Dibandingkan dengan gempa di Malang M 6,0, karakter gempa Banten terbilang merusak. Sebab terjadi selama lebih dari 12 detik dan menurut pengalaman di lapangan menyebabkan 3.000 lebih rumah rusak.

Gempa Banten tidak menghasilkan tsunami, karena tidak cukup kuat energinya untuk menghasilkan deformasi signifikan di permukaan bawah laut.

"Gempa selatan Banten, menurut BMKG, terjadi di zona subduksi, masih kita diskusikan lagi di zona interplate atau transisi, karena selain kedalamannya menengah, karakternya antara keduanya," katanya.

Hasil perubahan coloumb stress dan sebaran aftershock menunjukkan rambatan rupture ke arah vertikal.

BMKG telah mendiseminasikan peringatan dini gempa lima menit sebelum kejadian, dan memperbarui perubahan magnitudo berdasarkan data gempa yang diolah secara sistematik. [rnd]

Baca juga:
Banyak Rumah Roboh Imbas Gempa M6,6, BMKG Sebut 'Bangunan Tak Sesuai Standar'
Gempa Megathrust 8,7 Magnitudo Ancam Selatan Jawa, Begini Kata BMKG Bandung
BMKG Sebut Rentetan Gempa Tiga Hari Terakhir Tak Berkaitan
BMKG Minta Masyarakat Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem 17-22 Januari 2022
Letusan Gunung Api Bawah Laut di Tonga Tak Berdampak pada Indonesia
Kepala BNPB Terima Laporan 1.100 Rumah Rusak Dampak Gempa Banten M 6,6
Penjelasan BMKG soal Prediksi Gempa Megathrust Selat Sunda M 8,7 Perlu Diwaspadai

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini