Berurai air mata, Lisa ngaku mau dibuat lumpuh oleh Bu Pur

Senin, 12 Januari 2015 17:39 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Berurai air mata, Lisa ngaku mau dibuat lumpuh oleh Bu Pur ilustrasi sidang tipikor. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur CV Rifa Medika sekaligus mantan anggota tim asistensi Kementerian Pemuda dan Olahraga, Lisa Lukitawati Isa, mengaku diancam dihabisi oleh salah satu saksi kasus korupsi proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional Hambalang, Sylvia Sholeha atau kerap disapa Bu Pur. Lisa bahkan membeberkan wejangan terakhir dari salah satu orang dekat Bu Pur, Arif Gunawan alias Arif Gundul, sebelum wafat.

Hal itu terkuak saat Lisa bersaksi dalam sidang lanjutan terdakwa Machfud Suroso, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (12/1). Lisa sampai menguras air mata saat menjelaskan kata-kata terakhir Arif Gundul di hadapan majelis hakim.

Dengan terbata-bata, Lisa menjelaskan soal nasihat terakhir Arif. "Saudara Arif Gundul terakhir pernah menghubungi saya. Dia (Arif) bilang memang 'Hati-hati Mbak Lisa, perasaan saya enggak enak. Mata saya sudah tidak melihat. Pada suatu nanti (Mbak Lisa) dibuat lumpuh," kata Lisa sambil menangis.

Sontak suasana ruang sidang menjadi suram setelah mendengar pengakuan Lisa. Penampilan Lisa saat menghadiri sidang hari ini pun cukup mengejutkan. Dia ternyata mesti menggunakan kursi roda dan kepayahan bila mesti berjalan.

Entah sakit apakah ada hubungannya kondisi Lisa saat ini dengan nasihat Almarhum Arif Gundul. Sebab, saat bersaksi dalam sidang Andi Mallarangeng dia masih terlihat segar.

Bahkan dia sempat mengobrol dengan awak media selepas sidang sembari merokok. Dia saat ini sudah menjadi terdakwa dalam kasus dugaan korupsi proyek di Universitas Negeri Makassar dan sedang menjalani persidangan di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Karena memang saya diancam mengenai kasus di Makassar. Tapi Alhamdulillah, majelis hakim saya di Makassar di persidangan yang menguatkan saya," jawab Lisa.

Ketua Majelis Hakim Sinung lantas mencoba menenangkan Lisa. "Proses yang di Makassar masih berjalan atau sudah selesai?"

"Masih berjalan alhamdulillah. Anggota hakim dan kejaksaan sangat kooperatif membuka fakta," jawab Lisa.

Mudah-mudahan apa yang saudara sampaikan ini bisa menjadi pertimbangan bagi majelis yang di Makassar," lanjut Hakim Ketua Sinung.

Tangis Lisa makin menjadi setelah membeberkan ancaman Bu Pur kepadanya. Dia mengatakan, pernah secara tidak sengaja bertemu dengan Bu Pur di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Pada saat itu memang saya...saya hanya mau mengkonfirmasi apakah memang benar ada uang-uang gitu. Karena setelah saya diperiksa KPK pada 2011 itu, satu kata beliau (Bu Pur). Jangan pernah membuka mulut mengenai uang. Kalau tidak...bisa berakhir seperti Arif Gundul. Begitu yang mulia," ucap Lisa.

Bu Pur adalah istri Komisaris Besar Polisi Purnomo. Pensiunan polisi itu disebut-sebut sebagai Kepala Rumah Tangga Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor. Tetapi dia menampiknya. Dia juga pernah menjadi Staf Khusus Syarief Hasan saat masih menjabat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Sampai hari ini, sudah empat saksi penting dalam kasus Hambalang wafat. Pertama adalah Arif Gunawan alias Arif Gundul. Dia meninggal mendadak pada akhir 2012 dan dimakamkan di Yogyakarta. Menurut informasi didapat, dia adalah salah satu tangan kanan Bu Pur dalam urusan proyek selain Widodo Wisnu Sayoko. Widodo disebut-sebut masih memiliki hubungan saudara dengan SBY.

Saksi kunci lainnya juga sudah tutup usia adalah Direktur Operasi PT Wijaya Karya Ikuten Sinulingga. Dia meregang nyawa setelah jatuh dari jembatan layang Cawang, Jakarta Timur. Kabarnya, sebelum wafat dia juga diancam oleh seseorang.

Saksi penting ketiga adalah bekas Deputi Kementerian Negara badan Usaha Milik Negara, Muchayat. Dia meninggal pada Rabu, 18 Juni 2014, akibat stroke. Ayah salah satu sahabat Anas Urbaningrum, Munadi Herlambang, itu mengembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Singapura.

Muchayat disebut-sebut berperan dalam proyek-proyek pemerintah di bidang konstruksi. Dia kabarnya adalah salah satu orang yang mengatur perusahaan pelat merah mana bisa menggarap proyek, asalkan siap menggelontorkan komisi. Dalam merebutkan proyek Hambalang, Muchayat kabarnya bertugas menjaga PT Adhi Karya dari persaingan Badan Usaha Milik Negara lain. Dengan wewenangnya saat itu, dia bisa mengatur proyek itu bakal jatuh ke tangan siapa.

Saksi baru-baru ini wafat adalah Asep Wibowo. Dia merupakan Direktur Utama PT Metaphora Solusi Global. Perusahaannya memenangkan pekerjaan konsultan perencana proyek Hambalang. Dia wafat setelah mendadak terserang stroke. [eko]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Hambalang
  2. Korupsi Wisma Atlet
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini