Berkas Perkara ASN di Kupang Hina Polisi Diserahkan ke Kejaksaan

Kamis, 2 Juli 2020 16:26 Reporter : Ananias Petrus
Berkas Perkara ASN di Kupang Hina Polisi Diserahkan ke Kejaksaan Ilustrasi Facebook. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Berkas perkara kasus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial dengan tersangka Stefanuals Jefons alias Kang Asep (54), Aparatur Sipil Negara (ASN) di Politeknik Negeri Kupang dinyatakan lengkap atau P21 oleh kejaksaan.

Kang Asep yang juga warga Jalan Kedondong Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang ini dipolisikan oleh Kompol Margaritha Sulabesi (52), mantan Kapolsek Maulafa sesuai laporan polisi nomor LP/B/237/Res.1.24/VII/2019/SPKT tanggal 11 Juli 2019.

"Berkasnya sudah P21 sehingga kita limpahkan ke kejaksaan," kata Direktur Reskrimum Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe di Mapolda NTT, Kamis (2/7).

Dalam perkara ini, Kang Asep diduga melanggar pasal 45 ayat (3) jo pasal 27 ayat (3) Undang-Undang nomor 11 tahun 2008, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 dengan ancaman pidana penjara 4 tahun dan denda Rp 750 juta.

Kasus ini bermula dari unggahan Kang Asep di Facebook akun Asep Jeff, yang menilai kinerja Kapolsek Maulafa Polres Kupang Kota tidak mampu menyelesaikan sejumlah kasus. Kasus yang dimaksud berupa pencurian brankas di Balai pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi NTT, dan kasus penganiayaan yang melibatkan Naning Jari.

Dalam unggahan itu, ia menyebut Polsek Maulafa tidak mampu menyelesaikan kasus pencurian brankas di balai BPSDM NTT senilai Rp 300 juta lebih, padahal menurutnya kasus itu sudah mempunyai indikasi petunjuk yang jelas, yang melibatkan orang dalam.

Dia juga mengunggah dua kasus penganiayaan dengan penyelesaian yang berbeda kemudian membandingkannya.

"Posting-an dibagikan ke akun Facebook, sehingga dibaca oleh umum yang mana menurut ahli telah menyerang harkat dan martabat Kapolsek Maulafa yang saat itu dijabat Margaritha R Sulabesi," ujar Dir Reskrimsus Polda NTT.

Polda NTT sudah berupaya melakukan mediasi. Saat itu Kang Asep beralasan bahwa semua unggahannya itu merupakan bentuk kritikan kepada Kapolsek Maulafa. Kritikan itu berarti ia mempunyai kepedulian pada Polsek Maulafa.

Kapolsek kemudian meminta Asep Jef membuktikan semua tuduhan itu di hadapan tim mediasi. Sebab semua unggahan Asef Jeff tidak benar adanya. Dia memiliki semua bukti atas kasus yang dituduhkan kepadanya.

"Tidak ada rekayasa kasus, jika itu terjadi maka tidak ada P21. Semua kasus diselesaikan sesuai prosedur yang ada, jadi saya minta Kang Asep membuktikan semua ucapan itu," ujar Margaritha Sulabesi.

Ia mengatakan, kritikan itu wajar, namun disertai dengan kata-kata yang diunggahnya itu, 'baingao', buta knop, dan rekayasa.

Margaritha menilai, unggahan Kang Asep di facebook merugikan dirinya. Publik terlanjur menghakiminya sebagaimana unggahan Asep Jeff. Publik menghakiminya sebagai seorang 'Baingao (tolol)', rekayasa kasus, dan buta knop (tidak paham aturan).

Dalam mediasi di Polda NTT, Kang Asep Jeff meminta maaf dan berjanji akan menghapus semua posting-an yang diunggah, serta mengklarifikasi ke publik melalui akun Facebookn.

Margaritha menerima permintaan maaf dari Asep atas kasus penghinaan dan pencemaran nama baik yang sudah dilaporkan, namun tetap menyerahkan semua penyelesaian kasus melalui ranah hukum.

"Sejak awal saya sudah memberikan maaf, namun untuk memulihkan nama saya tetap melalui prosedur hukum dan saya tidak mencabut laporan saya," tegas Margaritha. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pencemaran Nama
  3. Kupang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini