Berapa gaji Perwira PETA di tahun 1944?

Jumat, 14 Februari 2014 07:56 Reporter : Ramadhian Fadillah
Berapa gaji Perwira PETA di tahun 1944? A YANI-PETA. ©Ahmad Yani Tumbal Revolusi

Merdeka.com - Saat Jepang membuka pendaftaran tentara Pembela Tanah Air (PETA) tahun 1943, pemuda Indonesia berduyun-duyun mendaftar. Pemuda Ahmad Yani salah satunya.

Setelah mengikuti pendidikan Shodancho atau komandan peleton selama beberapa bulan, Yani dilantik menjadi perwira dengan pangkat setara Letnan.

Dia kemudian ditugaskan di Prembun, Purworejo, Jawa Tengah. Di sana Yani bertemu dengan Yayuk Ruliah Sutodiwirjo, bekas guru mengetiknya. Salah satu syarat menjadi Shodancho adalah bisa mengetik. Karena itu Yani ikut kursus mengetik sebelum daftar PETA.

Pertemuan itu berlanjut jadi jalinan asmara. Lagi-lagi Yani nekat. Dia menikahi Yayuk tanggal 5 Desember 1944. Seharusnya Shodancho belum boleh menikah dalam jangka waktu tertentu. Tapi Yani rupanya sudah ngebet. Maka pernikahan agak dirahasiakan agar tak ketahuan tentara Jepang.

Gaji Yani sebagai Shodancho berpangkat letnan saat itu sebesar enam rupiah. Gaji tersebut lebih dari cukup. Harga daging per kilo di tahun 1944 cuma enam sen.

Jika dibandingkan harga daging sapi saat ini yang mencapai Rp 70.000. Maka gaji letnan tentara PETA jika dihitung dengan kondisi kini mungkin tak kurang dari Rp 7 juta.

Untuk Chodancho, komandan kompi berpangkat kapten dan Daidancho, komandan batalyon berpangkat mayor, tentu gajinya lebih tinggi.

Tapi kenikmatan menjadi perwira PETA tak lama. Bulan-bulan berikutnya perekonomian terus merosot.

Kisah itu dituliskan Amelia Yani dalam buku 'Ahmad Yani Tumbal Revolusi' terbitan Galang Press tahun 2007.

Tentara PETA kena imbasnya. Tak ada lagi jatah seragam sehingga para prajurit harus memakai seragam yang sobek-sobek.

Untuk makanan pun dikurangi. Tak ada lagi jatah nasi untuk sarapan. Cuma ada tepung tapioka yang diberi air panas sehingga bentuknya seperti lem.

Yani, dan dua rekannya, Sarwo Edhie Wibowo serta Sudarmadji coba menyiasati agar tak makan 'lem' di pagi hari. Jika digabungkan, mereka bertiga punya jatah enam piring nasi setiap hari. Yani dkk membaginya dua piring untuk sarapan, dua piring untuk makan siang dan dua piring untuk makan malam.

Jumlah makanan tentu jadi berkurang, tapi setidaknya mereka tak makan bubur yang seperti lem.

Jatah ayam goreng jadi sangat langka. Jika kebetulan dapat ayam goreng akan ada upacara khusus. Yani biasanya meludahi ayamnya agar tak dicuri teman-temannya.

Memang kondisi sangat melarat pada waktu itu.

Tahun 1945, Jepang semakin terdesak oleh sekutu. Di akhir perang dunia II, tentara Jepang di Indonesia membubarkan PETA.

Yani dan kawan-kawannya pun mendirikan Barisan Keamanan Rakyat. Dia menjadi salah satu komandan batalyon.

Ketika Belanda datang kembali Yani pernah menghalau mereka. Dia kemudian digelari de ridder van Magelang atau penyelamat Kota Magelang.

karir Yani terus melejit. Dia menduduki posisi puncak sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Berondongan peluru pasukan G30S mengakhiri hidup Yani tanggal 1 Oktober 1965 dini hari. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. PETA
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini