Benarkah Tjakrabirawa tembak mati Arief Rahman Hakim?

Senin, 30 September 2013 08:01 Reporter : Ramadhian Fadillah, Islahudin
Tjakrabirawa. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Kekuatan mahasiswa terus menggoyang kekuasaan Presiden Soekarno pasca peristiwa 30 September 1965. Kemarahan mahasiswa makin menjadi setelah Soekarno membentuk kabinet Dwikora yang disempurnakan. Sebabnya kabinet ini malah sangat gemuk, ada 100 menteri di dalamnya hingga disebut kabinet 100 menteri.

Saat pelantikan kabinet 100 menteri 24 Februari 1966, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), memblokade jalan menuju Istana. Mereka juga mengempesi mobil-mobil sehingga tak bisa dilalui. Pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat dan Kostrad turut mendukung aksi mereka.

Aksi hari itu menewaskan seorang mahasiswa Universitas Indonesia bernama Arif rahman Hakim. Peristiwa tersebut dikenang dengan insiden jaket kuning berdarah. Penembak Arif disebut dari Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno .

Mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan berusaha puluhan tahun menepis hal tersebut.

Versi Saelan, hari itu dia memonitor kegiatan mahasiswa lewat posko di Istana. Saelan mendengar ada kericuhan karena mahasiswa berusaha merusak Tugu Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Dalam demonstrasi itu tertembak seorang demonstran oleh petugas patroli Garnisun.

Pukul 11.00 WIB para demonstran membawa jaket kuning dengan noda darah. Mereka mengelilingi Istana dan berteriak "Tjakrabirawa pembunuh!"

"Disebarkan isu bahwa mahasiswa tersebut ditembak oleh prajurit Tjakrabirawa di depan Gedung Pemuda, di depan markas Detasemen Kawal Pribadi (DKP)," tulis Saelan dalam buku Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 terbitan Visimedia.

Kapten Hidrosin, komandan batalyon Tjakrabirawa yang bertugas mendengar teriakan tersebut. Dia mengumpulkan semua senjata anggota Tjakrabirawa yang berjaga hari itu. Setelah diperiksa dengan teliti, laras senjata bersih. Tak ada anggota Tjakrabirawa yang melepaskan tembakan.

Saelan terus mencari informasi soal penembakan itu. Dia mendapat penjelasan dari anggota Polisi Militer Kodam Jaya, tembakan itu berasal dari salah satu anggota Pom Dam yang bertugas di garnizun ibu kota. Dari informasi itu, dia berusaha mendapatkan visum Arif Rahman.

"Namun hingga Resimen Tjakrabirawa dibubarkan saya tak mendapat visum Arif Rahman Hakim itu," kata Saelan.

Penyelidikan mendalam juga tak pernah dilakukan soal penembakan itu. Tak ada seorang pun divonis bersalah dalam kasus penembakan Arif Rahman Hakim. Hanya nama Tjakrabirawa yang semakin terpuruk.

Kematian Arif Rahman Hakim makin menggelorakan perlawanan pada Soekarno . Akhirnya Soekarno terjungkal dari kekuasaannya. Tanggal 12 Maret 1967, Jenderal Soeharto dilantik menjadi pejabat presiden. Satu tahun kemudian, Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia.

Kelak kasus penembakan mahasiswa juga terjadi jelang Presiden Soeharto lengser 12 Mei 1998. Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie tewas tertembak di dalam kampus Trisakti. Peristiwa yang kelak dikenal dengan tragedi Trisakti ini juga menjatuhkan Soeharto .

Sejarah rupanya berulang.

Baca juga:
Tjakrabirawa di malam kelam 1 Oktober 1965
G30S gagal, Untung ditangkap, Letnan Dul Arief ditembak mati

Topik berita Terkait:
  1. G30S
  2. Bung Karno
  3. Resimen Tjakrabirawa
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini