Belum Mengungsi, Warga Desa Sidorejo Klaten Lebih Takut Corona ketimbang Merapi

Senin, 11 Januari 2021 07:56 Reporter : Arie Sunaryo
Belum Mengungsi, Warga Desa Sidorejo Klaten Lebih Takut Corona ketimbang Merapi Lava Pijar Gunung Merapi. ©YouTube/Induk Frekom_86

Merdeka.com - Warga di kawasan rawan bencana (KRB) III, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, hingga saat ini masih enggan mengungsi. Meskipun Gunung Merapi telah memasuki fase erupsi, seperti dikatakan kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, beberapa waktu lalu.

Tokoh masyarakat Desa Sidorejo Sukiman menyampaikan alasan warga yang belum mau meninggalkan lokasi berbahaya tersebut.

"Warga itu bukan ngeyel (bandel). Kata warga, mereka lebih takut Covid-19 daripada Merapi," ujar Sukiman, Senin (11/1).

Meski demikian, dikatakannya, warga yang rentan sudah siap sewaktu-waktu jika harus dievakuasi, termasuk kendaraannya.

Pertimbangan lainnya, menurut Sukiman, saat ini warga sudah merasa lega karena setelah menunggu lama, ternyata lubang atau kubah titik api Merapi berada di sebelah barat. Padahal, posisi Desa Sidoarjo berada di tenggara Gunung Merapi.

Kendati demikian, lanjut dia, warga siap mengungsi jika Merapi mengalami erupsi. Pihaknya memilih konsep sister family dibanding paseduluran desa (sister village). Hal tersebut untuk menghindari penularan Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan.

"Dulu memang konsepnya paseduluran desa (sister village). Misalnya dari dukuh sini ke desa yang ada di bawah. Tapi kan ini Covid-19 naik terus, jadi kita memilih konsep yang lain, paseduluran keluarga atau sister family," jelasnya.

Pemilihan konsep sister family, menurutnya, bukan tanpa risiko. Para pengungsi dikhawatirkan tidak akan mendapatkan hak-haknya seperti para pengungsi lainnya. Namun warga lebih memilih tidak mendapatkan bantuan sebagai pengungsi, asalkan selamat.

"Kata warga, lebih baik ora etuk (tidak dapat bantuan) tapi selamat. Daripada dapat bantuan, tapi mengungsi bareng-bareng dan bahaya Covid-19 mengancam," katanya.

Sukiman yang juga merupakan relawan, mempersilakan warga di KRB III Sidorejo untuk mencari tempat pengungsian dari keluarga masing-masing. Namun untuk yang belum memperoleh tempat pengungsian dari keluarga, disarankan agar mengungsi di selter atau TES (tempat evakuasi sementara) Kalimosodo, Kecamatan Kemalang, jika status Merapi naik menjadi awas.

Sukiman menambahkan, dari 24 kepala keluarga di RT 27 Dukuh Bangan yang ia tempati, separuh lebih telah mendapatkan tempat mengungsi. Mereka akan mengungsi di rumah saudaranya di desa lain bersama hewan ternak.

"Konsep ini juga bukan sekedar karena Covid-19. Tapi hasil ngobrol kita ditingkat RW, satu RW ini kan tidak semua masuk KRB III. Tapi kalau ngungsi, mereka juga menyebutnya masuk KRB III, karena satu RW. Takutnya kalau di KRB III mengungsi dan kosong, KRB dibawahnya ikut. Makanya yang rentan-rentan disini kalau malam biar aman gesernya ke bawah (KRB II)," jelasnya.

Lebih lanjut Sukiman menyampaikan, sebagai antisipasi jika Gunung Merapi sudah tidak kelihatan atau berstatus awas, disediakan kendaraan untuk evakuasi di depan rumah masyarakat yang termasuk golongan rentan. Sehingga sewaktu-waktu mereka bisa dipindahkan ke lokasi pengungsian atau di sister family.

"Kalau malam itu, tidak terus, kalau sudah tidak nyaman mereka geser. Kalau masyarakat umum yang sehat sehat itu ronda. Tapi yang perempuan, atau yang rentan tidurnya bukan di kamar, tapi di ruang tengah. Harapanya dekat dengan pintu keluar, jadi kalau dipanggil gampang. Hari ini akan dipasang toa, jadi kalo ada apa-apa, instruksinya langsung melalui pengeras suara itu," pungkas dia.

Informasi ysng dihimpun, jumlah warga yang berdomisili di KRB III Gunung Merapi Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, mencapai 365 jiwa atau 123 keluarga. Jumlah tersebut tersebar di tiga dukuh, yakni Deles, Bangan dan Petung. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini