Belajar Bersama Maestro, Nasirun: Saya banyak belajar dari anak-anak

Rabu, 25 November 2015 11:54 Reporter : Iman Herdiana
Belajar Bersama Maestro, Nasirun: Saya banyak belajar dari anak-anak Pelukis Nasirun. ©2015 Merdeka.com/ Nasirun menegaskan, program BBM tujuan utamanya bukan mencetak generasi muda

Merdeka.com - Program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang digulirkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak Juni lalu puncaknya di gelar lewat acara Pergelaran dan Pameran Hasil Belajar Bersama Maestro di Kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI/STSI) Bandung, Senin (23/11) malam.

Pelukis kondang Nasirun mengatakan, program tersebut tentu harus selalu siap dievaluasi. Evaluasi harus berdasarkan kepentingan publik dan peserta BBM sendiri. “Ini (BBM) bisa dilihat dari hasil. Kalau hasil ini memang nilai positifnya bagus mengapa tidak (diteruskan). Tapi kalau sekiranya dalam publik atau dirasa anak didik nilai positifnya kurang ya ngapain diteruskan,” kata Nasirun, kepada Merdeka Bandung.

Untuk diketahui, program BBM tahun ini diikuti 89 pelajar yang dibimbing oleh seniman Indonesia. Masing-masing seniman membimbing 9 sampai 10 pelajar selama 10 hari. Maestro yang dilibatkan di antaranya musisi Purwacaraka, sutradara Aditya Gumay, pematung Nyoman Nuarta, penari Irawati Durban, musisi Gilang Ramadhan, maestro sinden Supadminingtyas, koreografer Didik Ninik Thowok, pelukis Nasirun, maestro karawitan Tan Deseng dan Saung Angklung Udjo.

Nasirun menegaskan, program BBM tujuan utamanya bukan mencetak generasi muda sebagai seniman. Ia sendiri membimbing 9 pelajar di rumahnya. “Kita belajar bersama, saya juga banyak belajar dari anak-anak. Tapi yang saya fokuskan dalam BBM ini menjadi penting karena kita tidak bermaksud menciptakan seniman, tapi memberikan suatu rangsangan kreativitas buat anak-anak,” jelasnya.

Terlebih, sambung pelukis yang karyanya sangat tinggi ini, di era globalisasi posisi generasi muda sangat rentan. Maka karakter mereka harus diasah. Dengan demikian, mereka bisa memaknai warisan budaya dan alam Indonesia yang tak ternilai harganya.

“Potensi itu tentunya ke depan BBM makin mengepakkan sayapnya untuk berkontribusi. Kebudayaan bukan anak tiri pendidikan. Bangsa besar dilihat dari budayanya. Andaikan 9 anak ini menjadi seniman, seniman ini akan memberikan sumbangsih dalam membangun kebudayaan baru untuk memperkaya kebudayaan nusantara,” ungkapnya.

Ia sendiri mengajak 9 "anak asuhnya" dengan cara informal, mulai dari ngobrol-ngobrol, jalan-jalan melihat warisan budaya Yogyakarta merasakan alam dan iklimnya. Semua itu diharapkan menginspirasi para pelajar dan melahirkan karya. "Akhirnya mereka terasah. Sebetulnya bakat itu bagaimana kita mengasahnya," katanya.

Pengasahan potensi anak muda lewat seniman diharapkan pula memunculkan kesadaran yang berkembang menjadi kekuatan.

"Poin penting belajar melukis ini anak-anak punya kesempatan berproses mencari jati dirinya. Ini kesempatan langka di saat orang ingin serba instan. Perilaku kita (seniman) dilihat. Mereka jadi kaya anak asuh yang tidak lahir dari rahim istri saya. Ada paham gambaran mungkin sedikit ilmu, sedikit proses," katanya. [frh]

Topik berita Terkait:
  1. Merdeka Bandung
  2. Bandung
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini