Beda data produksi beras versi BPS dan Kementan bisa jadi peluru serang Jokowi

Jumat, 26 Oktober 2018 14:45 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Beda data produksi beras versi BPS dan Kementan bisa jadi peluru serang Jokowi Beras. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Indonesia Corruption Watch ( ICW) menyoroti persoalan perbedaan data produksi beras yang berbeda antara Kementerian Pertanian d dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Koordinator Divisi Riset Firdaus ICW Ilyas menilai, diperlukan pendataan ulang secara komprehensif untuk meluruskan perbedaan ini.

Kementan perlu melakukan pendataan kembali secara komprehensif, akuntabel, dan faktual. Dilihat dari berapa kebutuhan berasnya atau berapa yang harus diisi oleh mekanisme pasar atau impor dan seterusnya. Secara umum Kementan harus memastikan apakah betul data BPS menunjukkan angka itu, atau memang harus mengakui kesalahan.

"Kalau dikatakan metodenya yang berbeda, kan yang disampling dan disurvei itu sama. Apalagi untuk data nasional, BPS itu kan dibentuk oleh Undang-Undang (UU), memiliki kewenangan untuk mengumpulkan data per instansi dan menjadi pusat data untuk nasional. Data BPS data official loh," ucap Firdaus, Jumat (26/10).

ICW juga mendesak pula agar DPR dan BPK untuk melakukan audit komprehensif terkait neraca pangan Indonesia dan bagaimana kinerja penanganan pangan Indonesia sehingga dapat didapatkan gambaran awal persoalan.

Pengamat politik Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai, perbedaan data merupakan persoalan yang berlarut-larut dan selalu muncul dari tahun ke tahun. Termasuk di tahun politik. Dia tak menafikan polemik beras dan impor menjadi persoalan yang mengganggu pemerintahan Jokowi.

Ujang memandang, sangat sulit mengampanyekan keberhasilan dan kesuksesan pemerintah jika sumber datanya berbeda. Akibatnya, kubu oposisi bisa menangkap isu yang seksi ini untuk bisa 'menembak' pemerintah.

"Mengkritik itu tergantung momentumnya. Sekarang sudah ada momentum karena data yang tidak sama itu tidak mampu dituntaskan meski sempat disebut akan diselesaikan," katanya.

Untuk diketahui, perbedaan data beras itu terlihat dari versi BPS yang menyebut surplus produksi beras 2018 hanya mencapai 2,8 juta ton, jauh di bawah data atau perhitungan Kementan.

Berdasarkan laman resmi Kementan, surplus beras tahun ini sebesar 13,03 juta ton. Perhitungan tersebut dari produksi beras 2018 sebesar 80 juta ton atau 46,5 juta ton setara beras, sementara total konsumsi beras nasional hanya 33,47 juta ton. [noe]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini