Bebas murni, Pollycarpus datangi Balai Pemasyarakatan Bandung

Rabu, 29 Agustus 2018 12:13 Reporter : Aksara Bebey
Bebas murni, Pollycarpus datangi Balai Pemasyarakatan Bandung Polycarpus Budihari Priyanto. ©2018 Merdeka.com/Aksara Bebey

Merdeka.com - Pollycarpus Budihari Prijanto, terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib resmi bebas murni hari ini. Ia mendatangi Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bandung di Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung untuk menerima surat pengakhiran bimbingan setelah menjalani bebas bersyarat sejak 2014 lalu.

Pantauan merdeka.com, Pollycarpus tampak mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamata.

Diketahui, sebelum resmi bebas murni, Pollycarpus mendapat bebas bersyarat di tahun 2014 serta sejumlah remisi dari Kementerian Hukum dan Ham (kemenkumham) sejak menjadi tahanan di Lapas Sukamisikin.

Ia menjalani pidana selama 14 tahun setelah vonis upaya hukum peninjauan kembali (PK) Mahkamah Agung dikabulkan, dari semula 20 tahun penjara menjadi 14 tahun.

Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas I Bandung, Hardjani Pudji Astini mengatakan Pollycarpus telah memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan murni. Selama bebas bersyarat, Pollycarpus disebut kooperatif menjalani bimbingan dan melaksanakan wajib lapor.

"Kalau yang bersangkutan tidak tepat waktu misalkan ada di Papua tetap berkoordinasi dengan kita. Tapi kalau beliau di Jakarta atau Bandung dia tetap melapor," kata Hardjani di Kantor Balai Pemasyarakatan, Kota Bandung, Rabu (29/8).

Pembimbing Kemasyarakatan Madya pada Balai Pemasyarakatan Kelas I Bandung, Budiana mengatakan, Polycarpus sudah jadi manusia yang merdeka.

"Sudah merdeka," katanya singkat.

Seperti diketahui, Pollycarpus mantan pilot Garuda Indonesia yang bertugas di dalam pesawat dalam penerbangan dari Indonesia ke Belanda via Singapura, saat Munir Said Thalib didapati jatuh sakit dan kemudian meninggal dalam perjalanan awal September 2004.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhi pidana pada Polycarpus dengan pidana 14 tahun penjara. Namun jaksa mengajukan upaya hukum ke Mahkamah Agung hingga mantan pilot Garuda Indonesia itu hukumannya ditambah jadi 20 tahun.

Ia kemudian mengajukan PK yang kemudian dikabulkan ke Mahkamah Agung (MA) dengan pengurangan pidana kembali menjadi 14 tahun pada 2013. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini