Bareskrim periksa Kapten Rolf, nahkoda superyacht disita di Teluk Benoa

Kamis, 1 Maret 2018 14:37 Reporter : Henny Rachma Sari
Bareskrim periksa Kapten Rolf, nahkoda superyacht disita di Teluk Benoa kapal pesiar mewah disita FBI dan Polri. ©2018 Merdeka.com/Kadafi

Merdeka.com - Kapten Rolf, nahkoda kapal pesiar mewah, Equaminity serta 34 ABK diperiksa penyidik Bareskrim Polri. Diketahui, kapal jenis Superyacht itu ditangkap ketika melintas di perairan laut Teluk Benoa Bali, Rabu (28/2).

Diduga, pemilik membeli kapal dari hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Pemeriksaan terhadap Kapten Rolf sebagai nakhoda kapal dan sejumlah ABK," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Mohammad Iqbal dalam pesan singkatnya, Kamis (1/3).

Iqbal menambahkan, penyidik juga berkoordinasi dengan PT Indonusa selaku agen yang mengurus dokumen kapal pesiar serta berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Benoa untuk mengecek dokumen administrasi pelayaran kapal Equaminity.

Selanjutnya, penyidik juga berkoordinasi dengan Imigrasi guna memeriksa kelengkapan dokumen baik nahkoda dan 34 ABK.

"Untuk memeriksa kelengkapan dokumen nakhoda dan ABK," kata seperti diberitakan Antara.

Kapten Rolf mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) Superyacht ketika masuk ke wilayah perairan Filipina dan Singapura. Dugaan mengarah kepada Kapten Rolf yang terlibat TPPU dengan menyembunyikan kapal pesiar tersebut.

Untuk mendalami kasus ini, polisi meminta keterangan sejumlah ahli, diantaranya ahli TPPU, ahli pelayaran dan ahli forensik.

Dalam waktu dekat, polisi akan melakukan gelar perkara untuk menetapkan tersangka.

Sebelumnya, sebuah kapal pesiar mewah senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 T disita tim gabungan FBI dan Bareskrim Tanjung Benoa, Bali.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan kapal tersebut merupakan barang bukti yang diduga hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat.

Agung mengatakan, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari 2018 yang isinya permintaan bantuan kepada Polri untuk mencari keberadaan kapal tersebut.

Superyacht tersebut diketahui masuk ke wilayah perairan Indonesia pada November 2017. Mengetahui hal itu, FBI selanjutnya berkoordinasi dengan Polri untuk melakukan penyitaan.

"Jadi, FBI AS melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Kami membantu," kata Agung.

Diketahui bahwa pihak FBI telah memburu kapal tersebut selama empat tahun. Saat ini, pengadilan Amerika Serikat sudah memutus kasus tersebut. Barang bukti superyacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang yang melibatkan sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Swiss, Malaysia, dan Singapura. [rhm]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini