Banting Setir Manager Hotel di Sikka jadi Petani Ubi Gara-Gara Pandemi

Minggu, 18 Oktober 2020 16:29 Reporter : Merdeka
Banting Setir Manager Hotel di Sikka jadi Petani Ubi Gara-Gara Pandemi Manager Hotel di Sikka Banting Setir Jadi Petani Ubi. ©2020 Liputan6.com

Merdeka.com - Pandemi Covid-19 banyak mematikan bidang usaha. Salah satu yang terdampak adalah bisnis di bidang pariwisata.

Sepinya wisatawan membuat bisnis hotel seolah hidup segan mati tak mau. Dampaknya, banyak karyawan dirumahkan sementara karena perusahaan tak dapat penghasilan.

Seperti yang dialami Fransiskus Lopis, warga Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Manager salah satu hotel di Sikka ini coba memutar otak dan mengasah kemampuannya di bidang lain sembari mengisi waktu saat pembatasan sosial. Fransiskus Lopis memilih bertani ubi jalar.

Saat ditemui tim Liputan6.com di lahannya di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) Kamis (15/10), Lopis, sapaan akrab ayah satu anak ini, tampak sedang membersihkan lahan bersama sang istri yang berprofesi sebagai guru honorer di SMPK San Karlos Habi.

Ia menceritakan, pada awalnya ketika dirumahkan, dirinya bersama sang istri mencoba menanam sayur-sayuran, namun gagal akibat dimakan hewan peliharaan tetangga. Namun, keduanya tidak menyerah dan mulai mencoba menanam ubi jalar di halaman rumahnya yang luasnya tak seberapa. Saat panen, hasil ubi jalarnya ada yang mau membeli dengan harga Rp500 ribu.

"Dari situ saya mulai tertarik untuk membudidayakan ubi jalar, mudah dan cepat dapat uang," ungkapnya. Demikian dikutip dari Liputan6.com, Minggu (18/10).

Tertarik dengan hasil panen yang mereka tanam akhirnya mereka memilih membuka lahan baru yang luasnya kurang lebih 1 hektare.

Kini, bukan hanya ubi jalar yang mereka tanam. Pasangan suami istri itu coba menanam beberapa jenis tanaman hortikultura, seperti brokoli, wortel. Ternyata, hasilnya memuaskan dan terbukti mampu menghasilkan uang. Belakangan, ia lebih memilih menanam ubi jalar karena dianggap lebih menguntungkan.

"Kalau ubi jalar ini panennya terus menerus, jadi satu pohon itu kadang saya ambil satu umbi, yang lainnya saya lepas. Satu tahun itu bisa tiga kali panen. Kalau diuangkan, tidak sempat dihitung karena kami dapat setiap hari, tergantung pesanan. Sekali jual itu bisa capai Rp100 ribu rupiah termasuk sayur-sayuran, paling banyak itu saya antar di rumah sakit. Kalau dihitung penghasilan satu bulan saya bisa dapat kurang lebih 3 jutaan, karena setiap hari orang beli sayur sedikit-sedikit selain ubi jalar," ujarnya.

Lopis mengakui, tanaman hortikultura dan ubi jalar miliknya tanpa menggunakan pupuk, hanya mengandalkan air dari sumur yang berada di lahan miliknya. Sementara untuk mendapatkan bibit ubi jalar, Lopis memesannya dari daerah Welomosa, Kabupaten Ende dan Boru, Kabupaten Flores Timur.

Lopis menceritakan, ilmu menanam ubi dia dapat dari orangtua yang juga petani ubi jalar. Kini, selain dijual secara langsung, tanaman hortikultura dan ubi jalar hasil garapannya juga dia pasarkan melalui media sosial.

"Sementara ini saya cari penambahan lahan sekitar 2 hektare untuk kembangkan lagi ubi jalar ini," katanya.

Dia menceritakan, usaha ini tentu ada kendalanya. Salah satunya terkait air. Karena itulah, Lopis sedang berpikir bagaimana cara pemasangan jaringan pipa air yang akan digunakan untuk penyiraman, juga menara air sebagai media untuk menampung air. Sebab cara penyiraman yang ia gunakan masih menggunakan sistem manual.

"Kalau pake siram atau sistem kincir air, tapi masih kendala di pipa dengan menara air," sebutnya.

Sementara itu, Fransiska Nona Yun, istri Fransiskus Lopis mengatakan, saat tidak ada kegiatan di sekolah, dirinya membantu suaminya bekerja di lahan.

Selain tanaman hortikultura dan ubi jalar, ternyata Lopis bersama sang istri juga menanam cabai, dan menjadi distributor di beberapa tempat usaha gorengan di Kota Maumere.

Reporter: Dionisius Wilibardus
Sumber: Liputan6.com [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini