Anas: Tak pernah ada pertemuan di Sukamiskin, hoax kok dipercaya

Selasa, 13 Februari 2018 14:06 Reporter : Indra Cahya
Anas Urbaningrum. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Mantan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat,Anas Urbaningrum menyangkal merancang sebuah skenario dalam kasus korupsi e-KTP. Bantahan ini disampaikan Anas dari dalam Lapas Sukamiskin yang menjadi tempatnya ditahan saat ini.

Anas membantah tuduhan dirinya bertemu dengan pihak tertentu di Lapas Sukamiskin sebelum nama SBY muncul dalam sidang perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

Anas membantah tuduhan tersebut dengan menuliskan sebuah surat yang tersebar di sosial media. Di bawah surat itu tertulis jelas nama Anas beserta bubuhan tanda tangan pada 10 Februari 2018.

Surat klarifikasi Anas soal pertemuan di Sukamiskin 2018 Merdeka.com

Surat dengan tulisan tangan itu dibenarkan oleh kolega Anas, Tri Dianto. "Iya benar, itu dari Mas Anas," ujar Tri Dianto saat dikonfirmasi.

Berikut bantahan Anas soal penyeretan nama SBY dalam sidang e-KTP.

1. Awalnya saya geli dengar cerita ada tuduhan pertemuan di Sukamiskin untuk merancang fitnah kepada Pak SBY dan Mas Ibas.
2. Tetapi karena menjadi berita luas, dagelan itu perlu diluruskan, karena bisa menyesatkan.
3. Jelas bahwa tidak pernah ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, Mirwan Amir, dan Saan Mustofa.
4. Terpikir untuk bikin pertemuan saja tidak pernah, tidak ada hujan, besok tiba-tiba ada banjir, hoax.
5. Itu cerita hoax berasal dari surat hoax yang entah dibikin oleh siapa. Tapi jelas disebarkan oleh siapa saja.
6. Mudah banget untuk membuktikan pertemuan itu fakta atau hoax. Ada CCTV, buku tamu, dan banyak warga yang bisa ditanya.
7. Hoax kok dipercaya dan disebarkan. Lalu kemana kampanye anti hoax dan fitnah yang belum lama dideklarasikan.
8. Hoax juga disebarkan hampir bersamaan dengan narasi jihad untuk keadilan. Ada kontradiksi yang nyata diantara keduanya.
9. Citra kekuasaan, ketenaran dan kekayaan boleh dicapai. Tapi caranya tidak mesti dengan menista orang lain dengan hoax dan tuduhan konspirasi fitnah.
10. Keadilan mesti diperjuangkan dengan cara-cara yang sejalan dengan makna keadilan itu sendiri.

Sebelumnya beredar kabar ada pertemuan antara Firman Wijaya dengan mantan kader Demokrat Mirwan Amir. Pertemuan tersebut dilakukan sebelum sidang e-KTP berlangsung. Mirwan tegas membantah hal tersebut.

"Soal pertemuan ini di Sukamiskin, saya ingin cek. Ada buktinya dan datanya enggak," ucap Firman di Jakarta, Sabtu (10/2/2018).

Dia mengungkapkan dapat sangat mudah untuk mengecek ada tidaknya pertemuan tersebut. Bahkan bisa ditanyakan langsung kepada pihak terkait.

"Itu mudah ya, bisa ditanyakan ke Kalapas Sukamiskin," jelas Firman.

Soal nama lain yang berada di catatan hitam Setya Novanto, dia menyerahkan sepenuhnya kepada kliennya. Barangkali, itu bagian menjadi justice collaborator.

"Kita serahkan kepada Pak Novanto yang paham betul peritiwa kebijakan E-KTP itu," tutur Firman.

Sumber:Liputan 6 [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini