Banjir juga pusingkan Raja Purnawarman dan Belanda

Kamis, 16 Januari 2014 05:02 Reporter : Hery H Winarno
Banjir juga pusingkan Raja Purnawarman dan Belanda banjir jakarta tempo doeloe. ©kaskus.com

Merdeka.com - Setiap kali musim hujan tiba, warga Ibu Kota dan sekitarnya selalu direpotkan dengan banjir yang menggenang. Banjir seolah menjadi momok menakutkan bagi warga Ibu Kota dan sekitarnya di musim hujan.

Namun banjir yang melanda Jakarta bukan hanya terjadi di era saat ini. Jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan di zaman sebelum penjajah Belanda datang, wilayah yang kini disebut Jakarta sudah sering dilanda banjir.

Dari literatur sejarah, banjir sudah terjadi di wilayah yang kini disebut Jakarta sejak 1.600 tahun lalu. Hal ini terlihat dari Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di Cilincing, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti yang dibuat sekitar tahun 403 Masehi itu bertuliskan tentang penggalian kanal atau Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati oleh Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara.

Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman. Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, desa Tugu yang sekarang menjadi wilayah kelurahan Tugu selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Topik Pilihan: Jokowi ahok | DKI Jakarta

Namun pada tahun 1911, Prasasti atau Tugu Batu itu dipindahkan ke Museum Bataviaasch genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau yang kini disebut sekarang Museum Nasional.

Prasasti Tugu dipahatkan pada batu berbentuk bulat telur berukuran kurang lebih 1 meter. Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta.

Di zaman penjajahan Belanda, banjir juga mengancam wilayah Ibu Kota yang dulu masih bernama Batavia. Saat Jan Pieterszoon Coen saat menjadi gubernur jenderal, dia memimpikan agar Batavia menjadi duplikat Amsterdam di Belanda.

Namun tidak mudah merancang kota pelabuhan yang sering dilanda banjir itu. Batavia lalu dibangun di atas reruntuhan Jayakarta dengan dikelilingi parit-parit, tembok kota, lengkap dengan kanal banjir.

Sungai Ciliwung yang berkelok-kelok dirombak dan dibuat lurus menjadi kali besar dan kanal yang membelah kota Batavia menjadi dua.

Namun kanal ini pun rupanya tidak cukup efektif untuk menahan terjangan banjir di Batavia. Pendangkalan sungai dan kanal, sampah yang menumpuk serta penyempitan daerah aliran sungai (DAS) dan daerah resapan dituding jadi biang kerok semakin meluasnya banjir di Jakarta.

Dan hingga kini banjir masih menjadi momok warga ibu kota. Banjir bahkan sudah identik dengan ibu kota selain macet. Benarkah banjir tidak hilang dari Jakarta? [hhw]

Baca juga:
Hikayat banjir Jakarta dari era Jenderal Coen sampai Jokowi
Empat bisnis rugi gara-gara banjir Jakarta
Klaim-klaim Jakarta sukses atasi banjir 2014
Cegah Jakarta banjir, pemerintah bangun 2 waduk senilai Rp 1,9 T

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Banjir Jakarta
  3. Hikayat Banjir Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini