Banjir Jakarta dari masa ke masa

Minggu, 27 Januari 2013 06:30 Reporter : Iqbal Fadil
Banjir Jakarta dari masa ke masa banjir bundaran hi. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Siklus banjir besar di Jakarta terulang lagi 17 Januari lalu. Curah hujan yang tinggi dikombinasikan dengan tanggul di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat yang jebol membuat pusat bisnis di Ibu Kota lumpuh.

Di utara Jakarta, Waduk Pluit meluap,membuat warga di kawasan itu hingga akhir pekan ini masih merasakan genangan air yang tak kunjung surut. Belum lagi kawasan yang dilalui aliran Sungai Ciliwung, banjir sudah menjadi bagian hidup warga bantaran sungai tersebut.

Jakarta, sejak masih bernama Batavia, akrab dengan banjir. Wajar saja, Jakarta merupakan wilayah dataran rendah seluas 650 km2. Ketinggian tanah diukur di titik nol Tanjung Priok dari pantai sampai ke kanal banjir berkisar antara 0-10 m di atas permukaan laut.

Sedangkan dari batas paling selatan wilayah DKI, kanal banjir berkisar antara 5-50 m di atas permukaanlaut. Daerah pantai merupakan daerah rawa atau daerah yang selalu tergenang air pada musim hujan. Di daerah bagian selatan kanal banjir terdapat perbukitan rendah dengan ketinggian antara 50 m sampai 75 m.

Hanya berselang dua tahun setelah Batavia dibangun lengkap dengan sistem kanalnya oleh Jan Pieters Z Coen, tahun 1621 kota ini mengalami banjir besar. Selain itu banjir-banjir kecil hampir setiap tahun terjadi di daerah pinggiran kota, ketika itu wilayah Batavia telah melebar hingga ke Glodok, Pejambon, Kali Besar, Gunung Sahari dan Kampung Tambora. Tercatatbanjir besar terjadi antara lain pada tahun 1654, 1872, 1909 dan 1918.

Salah satu bencana banjir terparah terjadi pada bulan Februari 1918. Saat itu hampir sebagian besar wilayah terendam air. Daerah yang terparah adalah Gunung Sahari, Kampung Tambora, Suteng, Kampung Klenteng akibat jebolnya bendungan Kali Grogol.

Semakin kompleksnya banjir yang terjadi, penguasa Belanda kemudian membuat Kanal Banjir Barat pada tahun 1922. Namun, kanal ini ternyata tidak mampu menjadi solusi dan hingga Belanda hengkang dari Indonesia, pembangunan KBB belum tuntas.

Pada Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta. Saat Indonesia telah merdeka, tercatat beberapa banjir besar terjadi di Jakarta, seperti pada tahun 1965, 1976, 1984, 1994, 1996, 1997, 1999, 2002, 2007 dan 2008.

Presiden Soekarno, di tahun-tahun terakhir kekuasaannya, membentuk Komando Proyek (Kopro) Banjir Jakarta, yang tugasnya memperbaiki kanal dan membangun enam waduk di sekitar Jakarta. Proyek itu dimulai setelah banjir menghantam Jakarta pada 1965. Dibuatlah Rencana Induk Jakarta 1965-1985 menyatakan banjir sebagai salah satu masalah utama Ibu Kota.

Hasilnya adalah pembangunan Waduk Setia Budi, Waduk Pluit, Waduk Tomang, Waduk Grogol. Normalisasi sungai-sungai juga dilakukan. Namun, waduk itu sebagian sudah hilang dan ada beberapa rencana pembangunan waduk yang belum terbangun hingga kini. Tahun 1984 pemerintah merencanakan pembangunan waduk di kawasan Depok namun tidak terealisasi hingga kini.

Banjir besar yang terjadi pekan lalu menjadi peringatan bagi pemerintah pusat dan pemimpin Jakarta untuk memfokuskan penanganan terhadap masalah banjir. Gubernur Jakarta Joko Widodo tentu saja tidak mampu menanggung beban warisan masalah ini sendirian. Dibutuhkan kerjasama dengan berbagai kementerian terkait dan kepala daerah di hulu sungai Ciliwung.

Jangan mengulangi kesalahan dengan melupakan masalah banjir saat musim hujan berlalu dan kembali berteriak-teriak saat musim hujan kembali tiba dan air kembali menggenang. [did]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Banjir Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini