Baksil Bandung terancam pembangunan kota

Minggu, 22 November 2015 19:04 Reporter : Iman Herdiana
Baksil Bandung terancam pembangunan kota Baksil. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Warga Bandung boleh berbangga karena memiliki Babakan Siliwangi atau Baksil yang ditetapkan sebagai hutan kota dunia oleh Unesco. Tetapi sampai kapan status ini disandang Baksil di tengah gencarnya pembangunan kota?

Hutan kota Baksil berada di tengah kota Bandung, posisinya tepat di jantung kota, di tengah sibuknya lalu lintas, aktivitas kampus, perkantoran, perbelanjaan, apartemen dan pembangunan.

Hutan kota Baksil menempati tanah berkontur lembah dengan luas hanya 3,8 hektare. Jumlah ini terlalu kecil sebagai paru-paru kota berpenghuni 2,6 juta jiwa. Luas Bandung sendiri 167,67 Km2 atau perhektarnya dihuni sekitar 155 jiwa.

Meski luasnya tinggal 3,8 hektar, di dalam hutan kota Baksil masih banyak berdiri pepohonan tinggi menjulang. Di bagian dalam hutan kota berdiri beberapa bangunan, yakni bangunan sederhana dari kayu Sanggar Olah Seni (SOS), kafe, masjid.

Selebihnya, masih berupa lahan hutan yang ditumbuhi pepohonan dan tumbuhan liar. Burung-burung liar masih bisa ditemukan, banyak anak muda yang berselfie di antara pohon yang ditumbuhi tanaman rambat yang menjuntai hingga ke tanah.

Dibandingkan dengan dulu, tentu kini Baksil banyak berubah. Para seniman SOS hafal betul dengan kondisi hutan kota yang makin terdesak. Sejak 1982, SOS sudah berkegiatan seni di hutan kota tersebut.

“Bicara Baksil mau tidak mau harus membicarakan sanggar ini yang dari dulu berlokasi di sini,” kata seniman SOS, Tommy Dermawan, saat berbincang dengan Merdeka Bandung, Minggu (22/11).

Menurutnya, Baksil merupakan daerah limpasan air sehingga dulunya banyak ditemukan sumber mata air. Daerah limpasan air berbeda dengan daerah resapan. Daerah resapan berfungsi menangkap air untuk dialirkan di sungai bawah tanah, dan air ini akan keluar di daerah limpasan.

Ia menyebutkan, tahun 80-90-an di Baksil masih terdapat 18 mata air alami yang airnya sangat jernih. Namun seiring dengan gencarnya pembangunan di sekitar Baksil, sumber mata air tersebut kini tinggal kenangan.

“Sekarang semuanya mati. Saya yakin matinya mata air-mata air itu ada kaitannya dengan pembangunan di atas Baksil,” kata pria 54 tahun ini.

Pantauan Merdeka Bandung, meski masih rimbun dan teduh lokasi Baksil tampak gersang akibat musim kemarau. Terdapat jalan setapak yang bisa menghubungkan ke bagian dalam hutan kota. Di dalam hutan masih terdapat kolam yang penuh dengan lumut hijau, mata air masih tampak menetes.

Di sejumlah titik terdapat pohon-pohon yang baru ditanam, di antaranya pohon pinus. Namun penanaman pohon baru dikhawatirkan tanpa perawatan yang memadai. Penanaman itu juga kurang memerhatikan aspek penyinaran matahari dan penyiraman yang penting bagi pertumbuhan pohon.

Hutan kota ini juga memiliki jembatan khusus pejalan kaki seperti di luar negeri. Namun Tommy menilai, jembatan ini tidak cocok dengan kultur dan disiplin warga Bandung. Buktinya masih terdapat sampah berserakan di sekitar jembatan.

Ia menambahkan, hingga kini masih banyak pihak yang menginginkan Baksil dibangun. Baksil dari sisi bisnis dianggap lebih menguntungkan daripada sebagai paru-paru dunia. [has]

Topik berita Terkait:
  1. Merdeka Bandung
  2. Bandung
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini