Awal Mula Penemuan Harta Karun Sriwijaya di Cengal

Sabtu, 26 Oktober 2019 07:03 Reporter : Irwanto
Awal Mula Penemuan Harta Karun Sriwijaya di Cengal Mencari Harta Karun Sriwijaya di Cengal. ©2019 Merdeka.com/Irwanto

Merdeka.com - Musim kemarau dinanti-nanti warga Kecamatan Cengal, Sungai Menang, dan Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, untuk mencari harta karun diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Aktivitas ini telah berlangsung sejak empat tahun lalu.

Menurut Sukas (50), warga Cengal, penemuan harta karun itu terjadi ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan milik sebuah perusahaan di Sungai Jeruju, Cengal, 2015. Secara tak sengaja seseorang menemukan perhiasan cincin di atas lahan gambut bekas terbakar.

Dari mulut ke mulut, cerita itu sampai ke warga-warga sekitar. Banyak yang percaya namun tak sedikit juga yang mengacuhkan kabar itu. Bagi yang penasaran, mereka menuju lokasi dan akhirnya ketagihan mencari karena benar-benar menemukannya.

"Ketika itu kami tidak perlu gali tanah karena emas-emas itu muncul di permukaan tanah, anehnya tidak rusak, banyak masih utuh," ujarnya.

Lantaran lahan bekas terbakar itu digarap perusahaan, aktivis warga terhenti. "Kami yakin masih banyak lagi emas-emas di sana, karena tidak dilimbang (ayak) seperti sekarang, cuma mengais-ngais tanah sedikit," ujarnya.

Di tahun yang sama, perburuan kembali terulang karena penemuan emas Sriwijaya kembali ditemukan oleh kernet ekskavator yang membuat galian sudah cair di dusun Talang Petai. Dari sinilah mulai menggunakan sistem pengayaan karena berada di sungai.

Lokasi ini menjadi tempat dan masa jayanya pemburu harta karun. Mereka mendirikan tenda bermalam dan membawa bekal selama seminggu sebelum pulang untuk menjual hasil buruan. Ketika itu mereka sangat mudah mendapatkan perhiasan emas dalam kondisi utuh, tanpa cacat sedikitpun.

Selain perhiasan, warga juga banyak menemukan gerabah atau tembikar yang terbuat dari tanah liat maupun keramik. Gerabah itu bervariasi, ada yang kecil ada juga yang besar setinggi 50 sampai 60 sentimeter.

Di dalam guci besar, berisi tulang belulang manusia. Banyaknya tulang tersebut membuat warga menjuluki areal itu sebagai pulau tengkorak. Mayoritas tulang-tulang itu berukuran kecil, berbeda dengan tulang manusia saat ini.

"Setiap gerabah besar pasti atau tulang-tulang, lengkap dari kaki sampai tengkorak. Tidak ada yang kami bawa ke rumah, takut juga, kan tidak tahu tulang siapa," kata dia.

Baca Selanjutnya: Benda Bersejarah Berserakan di Pinggir...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini