Asmara terlarang Deviardi dan bos Parna Raya terungkap

Selasa, 11 Februari 2014 16:22 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Asmara terlarang Deviardi dan bos Parna Raya terungkap Deviardi bersaksi di sidang Simon Gunawan. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini memutar setidaknya lima rekaman percakapan telepon hasil sadapan antara terdakwa kasus dugaan suap pengurusan lelang di SKK Migas dan pencucian uang, Deviardi dengan Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri (KPI) dan Direktur Utama PT Surya Parna Niaga (SPN), Artha Meris Simbolon. Dari semua rekaman itu, Deviardi yang sudah berkeluarga terdengar menggoda Meris yang juga sudah menikah dan memiliki anak.

Seluruh rekaman pembicaraan itu berisi soal permintaan Meris kepada Deviardi supaya mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini, supaya mau menurunkan formulasi harga gas amoniak buat PT KPI. Tetapi, dalam percakapan itu ternyata Ardi, sapaan Deviardi, mencoba mencuri kesempatan merayu Meris.

Saat diperdengarkan rekaman sadapan itu, awalnya Deviardi masih bisa tersenyum. Tetapi lambat laun, dia terlihat tertunduk lesu, sembari tangan kanannya memegang dahi.

Berikut ini adalah beberapa rayuan Deviardi kepada Meris yang ada di dalam rekaman percakapan telepon hasil sadapan KPK, yang diperdengarkan dalam sidang Rudi Rubiandini, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (11/2).

Rekaman 1:

Deviardi (D): Halo Meris.

Meris (M): Iya bang. Abang di mana bang?

D: Abang ada di hatimu. Abang di Kemang. Abang susul ke mana?

M: Aduh jauh ya bang. Emm, mungkin kalau, mohon izin bang, aku kan sekarang udah on the way ke rumah, karena anakku kan panas.

D: lho kenapa? Ke rumah sakit? Anakmu yang lucu itu?

M: Bukan, memang sudah 3 hari berturut-turut. Iya bang. Bisa enggak bang izin? Bisa enggak yang anterin driver Meris yang kantor bang?

D: Oh boleh, yang kemarin itu?

M: Iya. Kira2 di daerah mana bang untuk aku temuin?

D: Di McDonald Kemang, biar gampang.

M: Oh. McDonald Kemang ya bang? Oke bang. Ya udah bang, nitip ya bang. Salam buat Pak Rudi ya bang ya.

D: Terima kasih Meris, mudah-mudahan cepat sembuh ya.


Rekaman 2:

M: Kalau nelpon good news nih bang.

D: Good news. Coba Meris, apa sih ya enggak buat kamu. Abang cari uang dan cinta.

M: Alah

D: Kenapa sih? Semua abang belikan buat Meris coba. Iya kan.

M: Surat rekomendasi dong. Bilangin ke pak Rudi dong.

D: Apa yang enggak Abang kasih buat Meris.

M: iya bang, izin bang.

D: Eh Meris, hari Rabu ya, ketemu Bapak (Rudi) ya. Bapak, Pak Popi (Kepala Divisi Komersialiasi Gas bidang Pengendalian Komersil di SKK Migas Popi Ahmad Nafis). Kita semua ketemu di Pondok Indah ya. Sekalian golf terus buka bersama ya.

M: Iya. Terima kasih ya bang. Waktunya itu jam berapa ya itu bang?

D: Ya jam 1.30 lah itu

M: Oh iya bang. Mohon izin bang, nanti sebelum Rabu saya ketemu abang untuk ngasih dokumen saja dulu bang ya. Supaya Pak Popi paham mengarahkan ke pak itunya.

D: Jadi gini. Itu paham, satu. Bahkan saya sekarang mengarahkan supaya hari Rabu itu clear semuanya. Kalau ada yang belum clear sampai Rabu, kan ada Pak Popi tuh di situ, nanti kita ngomong di situ semuanya.

M: Iya oke.

D: Sebelum Rabu kita pacaran dulu lah pakai surat menyurat itu.

M: Tapi nanti saya kasih lihat surat permohonan kami.

D: Hari ini Meris di mana? Aku lagi ganteng banget nih hari ini. Habis ketemu beliau (Rudi) masalahnya.

M: Bapak (Marihad Simbolon. Komisaris Utama PT SPN. Ayah Meris) disuntik lagi. Bilangin Pak Rudi. Setelah ketemu Pak Rudi kan bapak agak tenangan. Bapak kan nerima surat lagi, stres lagi. Dapat surat lagi dari KPA (PT Kaltim Pasicifc Amoniak. Perusahaan saingan PT KPI milik Marihad). Bapak itu stres lagi, disuntik lagi, muntah-muntah dia.

D: Saya telepon bapak, sakit katanya.

M: Bilangin Pak Popi. By the way, Rabu saya bawa draft-nya.

D: Nanti hari Rabu lah ya

M: Rabu Pak Popi bawa draft surat dari SKK (Migas), tapi Meris juga bawa draft. Kami harap SKK mau pakai untuk Pak Menteri (Jero Wacik). Jadi nanti Pak Rudi bisa dapat dokumentasi dari kita juga untuk mengarahkan itu lho bang.

D: Ya enggak apa-apa, ya bisa juga.

M: Ya hari Selasa gitu

D: Ya hari ini. Rabu itu ada Pak Popi sekalian. Bilang bapak jangan stres lah. Saya telepon katanya sakit, laki-laki yang angkat.

M: Iya, muntah bang karena 12 kali disuntik. Karena kan stres dapat surat dari SKK. Apa dapat surat dari KPA lagi. Nanyain lagi. Kok yang lain bisa produksi, kami enggak. Karena THR dan bonus itu kan tergantung produksi bang. Udah hampir 10 bulan, bilangin bang.

D: Tapi ini termasuk cepet prosesnya ya.

M: Pak Popi, Pak Rudi kan merekomendasikan juga. Kalau bisa suratnya dulu.

D: Begini Meris, kamu harus bisa. Kan Meris kerjanya bagus banget. Sangat bagus, abang senang cara kerjanya Meris. Cuma Meris harus bisa nenangin bapak. Kalau bapak itu usia sudah tua kan. Meris harus berpikir bapak ini sehat terus, tidak semua harus dimuntahkan ke bapak terus.

M: Bang, sumpah bang. Kalau gua kuat sih enggak apa-apa. Sebenarnya, gua sudah jatuh dan nangis juga gua di depan Pak Popi bang. Ini aja ngomong sama lu udah keringetan gua.

D: Oh iya?? Kita belum ngapa-ngapain sudah keringatan.

M: Bang, tolong dong bang.

D: Iya iya. Iya Meris. Makanya gitu.

M: Pak Popi itu kalau gua sebut namamu, "dapat salam dari Bang Deviardi." "Oh iya, makasih," dia gitu lho bang.

D: Aku itu kalau ditanyain, "Pak Ardi dapat salam dari Meris," baru berbunga-bunga itu. Bisa jungkir balik dan koprol. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini