Asal muasal kampung jamu di Sukoharjo & eksistensi mbok jamu

Sabtu, 12 Juli 2014 03:02 Reporter : Fariz Fardianto
Patung jamu Sukoharjo. ©istimewa

Merdeka.com - Meski Nyonya Meneer tersohor sebagai pengusaha jamu pertama dan paling sukses sejak tahun 1919 silam, tapi tahukah Anda bila jauh sebelumnya sejarah panjang pembuatan jamu berawal dari sebuah desa kecil di ujung perbatasan Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri yang bernama Desa Nguter. Dari sanalah, orang pertama kali mengenai seni meracik jamu secara tradisional.

Awalnya, warga Nguter Sukoharjo sudah mulai meracik aneka dedaunan rempah-rempah menjadi minuman jamu sejak zaman Kerajaan Mataram kuno. Konon, pada masa itu baru segelintir orang yang bisa meracik jamu. Cara pembuatannya pun, masih memakai tenaga tangan manusia alias manual. Salah satunya, membersihkan buah kencur, kunyit, cengkeh dan kayu manis untuk kemudian direndam dalam satu wadah air. Setelah itu, aneka rempah-rempah itu ditumbuk sampai hancur di dalam lumpang lalu diseduh dengan air panas sebelum diminum.

Pada umumnya, para peracik jamu berasal dari kaum ibu-ibu rumah tangga yang saban hari tinggal di rumah. Sambil mengurusi pekerjaan rumah, biasanya kaum ibu ini juga memiliki kegiatan sampingan yakni meracik jamu bubuk untuk kemudian dijual. Keperkasaan ibu-ibu desa Nguter dalam meracik jamu lambat laun mulai dikenal oleh warga Sukoharjo dan sekitarnya.

Rasa jamu yang dihasilkan kaum ibu dari Nguter yang enak dan berkhasiat tinggi ini pun, akhirnya membuat banyak orang kesengsem. Tak jarang, banyak kerabat Keraton Surakarta ingin memesan jamu pada waktu tertentu.

Maka tak heran, sejak dulu warga Nguter dikenal sebagai daerah pemasok jamu bagi keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ada banyak jamu yang sudah dihasilkan oleh mereka. Mulai dari beras kencur, kunir asem, temulawak, jamu pahitan, jamu pegel linu, jamu penambah keperkasaan lelaki bahkan mereka juga bisa membuat jamu khusus ayam aduan dan hewan lainnya.

Untuk menyiasati banyaknya pesanan yang datang, para ibu-ibu peracik jamu ini lalu mencoba membawa botol atau gendul jamu dengan dimasukan dalam tenggok atau bakul dan digendong di belakang punggung. Cara menjual jamu seperti itu akhirnya dikenal dengan sebutan penjual jamu gendong atau mbok jamu asal Nguter. Saat ini, harga secangkir jamu gendong sekitar Rp 3000.

Memasuki era modern seperti sekarang, jumlah mbok jamu asal Nguter terus bertambah misalnya dari 1.600 kepala keluarga kini sepertiganya sudah berjualan jamu gendong. Tak hanya itu saja, para penjual jamu juga berasal dari desa-desa sekitarnya.

Mereka saat ini tak hanya keliling membawa gendongan jamu melainkan juga berjualan dengan naik sepeda onthel. Lantaran terasa khasiatnya, warga pun meracik dan membuat jamu dalam bentuk cair dan kemasan. Akhirnya mereka memberanikan diri menjualnya ke luar daerah mulai dari wilayah Jawa Tengah sampai merambah ke luar Pulau Jawa.

Saking terkenalnya Desa Nguter sebagai sentra penghasil jamu gendong, Pemkab Sukoharjo bersama warga setempat sampai-sampai membuatkan sebuah patung Jamu Gendong berukuran besar tepat di jalan masuk Desa Gupit Nguter.

Patung mbok jamu, yang memakai kebaya lurik yang sedang menggendong bakul yang berisi botol minuman jamu dan tangan kirinya menjinjing ember berisi air itu sekarang masih kokoh berdiri setinggi 1,6 meter. Dia kini menjadi ikon kabupaten berslogan makmur terse [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kuliner Indonesia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini