Arca Dwarapala dan Arah Pengkiblatan Istana Singasari

Rabu, 20 Maret 2019 11:31 Reporter : Darmadi Sasongko
Arca Dwarapala dan Arah Pengkiblatan Istana Singasari Arca Dwarapala. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Sepasang arca Dwarapala ukuran raksasa peninggalan kerajaan Singasari masih berdiri tegak hingga saat ini. Arca tersebut berada sekitar 300 meter sebelah barat dari Candi Singosari.

Sesuai namanya, Dwara berarti jalan dan Pala adalah penjaga atau tepatnya arca penjaga pintu gerbang. Lewat posisi hadap arca tersebut banyak memberikan informasi, di antaranya terkait arah pengklibatan Istana Singasari yang segaris dengan gunung Arjuno yang disucikan.

Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono mengatakan, salah satu arca Dwarapala sempat tergeser dari posisinya lantaran Pemerintah Hindia Belanda pernah berusaha mengangkutnya ke Batavia atau Belanda, tetapi gagal. Karena itu arca sebelah selatan mengalami perubahan arah hadap.

"Karena itu yang arah hadapnya benar itu yang di utara, yang selatan mengalami perubahan arah hadap karena pernah dicoba dikren. Dirantai pas tubuhnya dan seterusnya, tetapi gagal karena terlalu berat sampai rantainya putus. Tapi sempat terangkat, saat terangkat itulah terjadi perubahan arah hadap," kata Dwi Cahyono kepada merdeka.com di Malang, Rabu (20/3).

Sehingga arah hadap yang belum mengalami perubahan dan dapat dijadikan patokan adalah arca Dwarapala sisi utara. Arah menghadapnya belum terganggu hingga saat ini, yakni menghadap ke timur agak miring ke selatan. Sedangkan arca sebelah selatan menghadap ke utara.

Jejak gapuranya sendiri masih bisa dilihat walaupun tinggal reruntuhan di bagian sisi selatan jalan. Sayang sekali tidak utuh, bentuknya balok-balok batu, baik batu isian berupa batu padas maupun batu kali atau batu andesit.

Bagian tertentu ditemukan balok batu berukuran besar, yang menumpang di atas dan lainnya berserakan. Begitupun di arca Dwarapala sisi utara juga ditemukan banyak balok-balok batu berserakan.

"Balok-balok batu itu komponen atau unsur pembentuk dari gapura atau pintu gerbang," tegasnya.

Dwi menegaskan, arca tersebut dipastikan bukan berada di jalan berbeda, tetapi satu jalan. Selain itu dalam arsitektur juga mengenal teori simetris terhadap jalan tersebut, didukung sejarah arca sendiri yang pernah akan dibawa ke Batavia, sebagaimana banyak arca yang lain.

Berdasarkan reruntuhan gapura, posisi arca Dwarapala berada di sebelah barat pintu gerbang. Jalan kunonya yang dijaga Dwarapala sudah bergeser arah dari yang sekarang ini mengarah timur ke barat.

Jalannya pun jauh lebih lebar dengan sedikit menyerong ke arah barat daya ke tenggara. Lebar jalannya bisa dilihat dari jarak antara Dwarapala atau reruntuhan gerbangnya sekitar antara 15-20 meter.

"Sehingga ini memang jalan besar yang dilengkapi dengan gapura dan pintu gerbang," tegasnya.

Akses pintu masuk berdasarkan Dwarapala, tidak mungkin dari arah barat ke timur karena akan membelakangi arca. Karena itu aksesnya diperkirakan dari timur ke barat. Sehingga posisi hadap Dwarapala ke arah timur sedikit ke selatan.

Terkait posisi Dwarapala yang terletak setelah gapura, Dwi mengaku menemukan model tersebut di banyak candi-candi tua. Ada penjaga atau Dwarapala yang ditempatkan di depan atau sebelum gapura, tetapi juga ada arca penjaga ditempatkan setelah gapura.

"Candi-candi tua seperti candi Sewu di dekat Prambanan, Candi Plaosan Lor, candi-candi abad ke-8-9, Dwarapala tidak selalu diletakkan sebelum pintu gerbang. Bisa saja di belakangnya atau sesudahnya. Setelah masuk pintu gerbang, disambut Dwarapala. Nampaknya Singosari seperti itu," katanya.

Selain itu, kata Dwi, banyak pendapat mengatakan Dwarapala tersebut sebagai penjaga pintu memasuki istana kerajaan Singasari. Kalau masuknya dari arah timur dan dipastikan pusat kerajaan atau istananya berada di sebelah baratnya.

"Arah hadapnya agak nyerong ke selatan. Dwarapala kita tarik garis lurus dan inilah jalan kunonya. Posisi jalan lama tidak lurus dengan jalan baru, agak melenceng menuju arah orientasi," jelasnya.

Arah orientasi Dwarapala yang dimaksud Dwi adalah puncak Gunung Arjuno yang menjadi arah pengklibatan, dan ibukota atau istana Singasari yang tidak terlalu jauh. Kasus arah hadap arca Dwarapala bukan karena pertimbangan mata angin, tetapi lebih arah pengkiblatan tempat suci.

"Tempatnya membungkit yang sekarang menjadi pemandian Kendedas itu. Ibukotanya membentang dari timur ke barat. Ada punggungan, kalau diarahkan tepat di sana, di posisi kadatonya. Sekarang hanya ada bata-bata yang sudah terurug," jelanya.

Kata Dwi, posisi kedaton atau istananya jika ditarik lurus posisinya ke arah Puncak Arjuno. Sehingga memang ditemukan satu poros antara gerbang ke keraton dan puncak Arjuno.

"Di samping menuju ke keraton juga menuju ke arah puncak Gunung Arjuna, yang menjadi gunung suci atau semacam pengklibatan," katanya.

Keraton sendiri memang sebagai bangunan suci, mempunyai orientasi atau pengkiblatan. Pengkiblatannya ke gunung, bukan ke tempat terbit atau terbenamnya matahari.

Karena memang dikenal dua orientasi yakni langit dan bumi. Kalau orientasi langit mengarah pada tempat terbit dan tenggelamnya matahari, tetapi kalau bumi, orientasinya unsur di bumi seperti laut dan gunung.

Ibukota Singasari sendiri diapit dua gugusan gunung yakni Gunung Semeru Dan Bromo di timur dan Gunung Arjuno di Barat. Tetapi yang menjadi pengklibatan istana Singosari itu Gunung Arjuno.

Sehingga memang arah hadap Dwarapala dipengaruhi oleh sumbu astronomis, letak istana atau kedaton, serta mempertimbangkan Gunung Suci, yakni Gunung Arjuno. Bahkan muncul pendapat, Dwarapa terbesar di Indonesia itu tidak hanya ditugaskan menjaga keraton tetapi juga menjaga gunung. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini