Apa kelainan seks bisa disembuhkan?

Minggu, 23 Agustus 2015 11:00 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
Apa kelainan seks bisa disembuhkan? ilustrasi seks. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Ivory27

Merdeka.com - Ahli Psikologi Kriminal dan Forensik dari PTIK, Lia Sutisna Latif mengatakan, kelainan seksual berupa penyimpangan dan perilaku seks yang tidak wajar sebenarnya masih mungkin disembuhkan dengan pendekatan terapi secara psikologis.

Dirinya menyebut, masalahnya bukan apakah bisa atau tidak si penderita kelainan seksual ini disembuhkan. Namun, hal itu akan lebih ditekankan pada seberapa lama proses yang harus dilakukan, guna memberikan terapi psikologis kepada penderita kelainan seksual tersebut.

"Penyembuhan adalah hal yang niscaya. Namun, yang juga harus dilihat adalah seberapa parah si penderita ini mengalami kelainan seksualnya. Misalnya dia baru terjangkit pornografi, itu masih mudah disembuhkan dengan metode terapi kognitif," ujar Lia saat dihubungi Merdeka.com, Jumat (21/8).

"Tapi kalau sudah level sedang sampai berat, itu masalah penanganannya pasti akan lebih sulit lagi, tergantung jenis penyimpangan seksualnya apa, dan sudah separah apa gejala dalam hal psikologisnya?" katanya menambahkan.

Lia mengaku tak menutup kemungkinan jika si penderita gangguan seksual ini, justru tidak akan sembuh dari gejala-gejala seks menyimpang yang diidapnya.

Hal itu menurutnya juga sangat terpengaruh, dari penerimaan lingkungan sosial terhadap si penderita, sebagai bentuk dukungan sosial dari lingkungan terdekatnya untuk kembali meyakinkannya, mengenai mana orientasi seksual yang baik, dan mana yang akan merugikannya sendiri.

"Tapi ada kemungkinan juga si penderita itu tidak bisa sembuh. Karena hal itu juga kembali dari individunya. Apakah ia memang berniat untuk menjalani terapi kognitif atau tidak. Sebab, terapi dan metode apapun hanyalah media bagi orang tersebut, untuk membawanya kembali pada pembenahan hasrat seksual yang sebagaimana mestinya. Namun jika tidak, maka biasanya orang itu akan tetap asik pada kelainan seksualnya tersebut, karena dirinya merasa sudah cukup terpenuhi," ujar Lia.

"Peran lingkungan sosial di sekitar orang penderita kelainan seksual ini juga merupakan aspek pendukung, dalam menjalani terapi kognitif. Diharapkan, masyarakat jangan menjustifikasinya dan menyudutkannya ke dalam situasi yang justru akan membuatnya semakin tertutup. Karena, dukungan masyarakat terutama keluarga, adalah salah satu media terpenting bagi orang itu untuk kembali memiliki hasrat seksual yang sebagaimana mestinya seorang manusia miliki," pungkasnya. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini