Antisipasi serangan teroris, Polwan dilibatkan amankan Mapolda DIY

Selasa, 15 Mei 2018 14:46 Reporter : Purnomo Edi
Polwan ikut dilibatkan amankan Mapolda DIY. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Guna mengantisipasi adanya terorisme, pengamanan di Mapolda DIY diperketat. Sejumlah polisi pria dan Polwan pun disiagakan untuk berjaga di pos penjagaan di Mapolda DIY. Para polwan yang bertugas di pos penjagaan Mapolda DIY ini nampak mengenakan rompi antipeluru dan helm pelindung. Masing-masing Polwan juga dilengkapi dengan sebuah senapan serbu.

Salah seorang Polwan yang ditugaskan menjaga Mapolda DIY adalah Brigadir Swesti Anggraini (30). Swesti mengatakan bahwa saat ini ada 10 Polwan yang ditugaskan berjaga di pos pengamanan Mapolda DIY. Setiap harinya ada empat Polwan yang bertugas dengan pembagian dua sif, pagi dan sore.

Swesti yang kesehariannya bertugas sebagai staf Sabhara mengaku tak canggung bertugas di pos penjagaan Mapolda DIY. Menjaga pos penjagaan baru pertama kali ini dilakoni.

"Walaupun staf Sabhara, kita ada penjagaan untuk patroli juga. Kalau patroli sering. Kalau penjagaan di sini (pos penjagaan Mapolda DIY) baru pertama kali," ujar Swesti, Selasa (15/5).

Swesti menjelaskan tugasnya selama di pos penjagaan Mapolda DIY adalah memeriksa barang bawaan pengunjung perempuan. Selain itu juga bertugas memeriksa identitas pengunjung.

Terkait aksi teror bom di Polresta Surabaya yang menyasar petugas yang tengah berjaga di pos penjagaan, Swesti mengaku mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Swesti hanya berusaha menjalankan tugas dengan baik dan sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan.

"Kalau takut ya ada rasa takut, tapi kembalikan saja ke Tuhan untuk hidup dan mati. Yang penting jaga diri," tegas ibu dua orang anak ini.

Swesti mengungkapkan sejumlah persiapan telah dilakukannya selama bertugas sebagai Polwan. Di antaranya kesiapan fisik dan mental. Swesti juga mengaku telah dibekali latihan rutin penjagaan dan menembak.

"Polwan juga didoktrin bahwa tugas dan kewajiban sama (dengan polisi laki-laki). Kalau tugas (semua) sama, berat atau enggak itu tanggung jawab dari masing-masing. Seperti ini enggak berat, kami melaksanakan perintah, tanggung jawab tidak ada rasa paksaan," urai Swesti.

Sementara itu menurut Polwan lainnya, Bripda Karini Dio (20), usai terjadinya ledakan bom bunuh diri di pos penjagaan Polresta Surabaya, rasa was-was dalam bertugas memang ada. Namun Karini mengaku hal itu manusiawi. Selama bertugas dia jalani dengan penuh kewaspadaan dan sesuai dengan standar prosedur pelaksanaan yang telah ditetapkan.

"Kewaspadaan yang utama. Kalau penggunaan peralatan ini (rompi antipeluru, helm dan senapan serbu) sudah terbiasa. Tinggal mengaplikasikan apa yang ada saat pendidikan," ujar Polwan yang baru saja merampungkan pendidikannya ini. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Terorisme
  2. Yogyakarta
  3. Teror Bom
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini