Anggota DPRD Pangkep Bantah Bangun Tembok Karena Risih Dengar Suara Anak-Anak Tahfiz

Sabtu, 24 Juli 2021 15:45 Reporter : Ihwan Fajar
Anggota DPRD Pangkep Bantah Bangun Tembok Karena Risih Dengar Suara Anak-Anak Tahfiz Anggota DPRD Pangkep dari Fraksi PAN Amiruddin. ©2021 Merdeka.com/Ihwan Fajar

Merdeka.com - Anggota DPRD Pangkep yang juga politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Amiruddin, memberi penjelasan soal tembok yang dia bangun menutup akses masuk ke rumah tahfiz di Jalan Ance Dg Ngoyo Lorong 5, Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Amiruddin membantah jika tembok yang dia bangun karena risih mendengar suara-suara dari rumah tahfiz.

Amiruddin bahkan berani bersumpah tindakannya menembok pintu akses rumah tahfiz Nurul Jihad bukan karena risih akibat mendengar suara mengaji anak Tahfiz. Dia sesumbar paham agama dan sudah empat kali pergi haji.

"Kalau saya bisa bersumpah, bahwa semua kebaikan-kebaikan saya tidak diterima di akhirat kalau saya pernah mengucapkan kata itu," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (24/7).

Ia mengaku bersyukur Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dan Polsek Panakkukang melakukan mediasi agar masalah tersebut tidak melebar. Berdasarkan hasil musyawarah, pihaknya menyepakati untuk membongkar tembok tersebut.

"Saya kira ini sudah selesai. Sudah ada kesepakatan bersama di sini ada Pak RW, camat, kapolsek, dan Danramil untuk membuka itu dan tidak ada lagi ngantuk penutupan," bebernya.

rumah tahfiz alquran di makassar ditembok

Ia menjelaskan, dirinya membeli rumah tersebut pada tahun 2012. Saat itu, rumah tahfiz itu belum memiliki pintu.

"Saat dia mau perbaiki itu rumah, dia minta untuk dibobol agar bisa memasukkan bahan material untuk bangunannya (renovasi rumah tahfiz). Kemudian dia berjanji bahwa setelah selesai rumah dikerja akan ditutup kembali," ucapnya.

Tetapi hingga pengerjaan perbaikan rumah tahfiz tersebut selesai, tidak dilakukan penutupan. Menurutnya, rumah Tahfiz tersebut baru berjalan tiga tahun lalu.

"Sampai ada kejadian ini dia tidak tutup. Dia pakai untuk pengajian, karena ini pengajian baru berjalan 3 tahun," kata dia.

Camat Panakkukang, Thahir Rasyid Dg Ngalli, mengatakan pihaknya sudah berkoordinsi dengan pihak keluarga Amiruddin untuk meluruskan dan menyelesaikan masalah penembokan akses pintu rumah tahfiz dan warga. Thahir mengatakan kejadian tersebut murni karena kesalahpahaman antar warga.

"Kejadian ini murni karena kesalahpahaman antara sesama warga. Saya selaku pemerintah merasa memiliki, karena ini adalah fasum sehingga menegur karena membangun tembok itu," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (24/7).

Setelah adanya komunikasi tersebut, Thahir menegaskan pihak keluarga dari Amiruddin sepakat untuk membongkar tembok tersebut. Ia mengaku, keluarga Amiruddin sebenarnya ingin merobohkan sendiri tembok tersebut pada Jumat (23/7) malam.

"Ini fasum boleh diakses oleh semua warga. Beliau juga menyadari ini terjadi kelalaian, sehingga berbesar hati beliau membongkar sendiri," kata dia.

pembongkaran tembok yang tutup akses rumah tahfid
©2021 Merdeka.com/Ihwan


Anggota DPRD Harus Tunjukkan Sertifikat

Meski kasus ini sudah selesai, Camat Panakkukang mempertanyakan sertifikat kepemilikan tanah fasilitas umum (fasum) yang sempat diklaim oleh keluarga Amiruddin. Klaim kepemilikan tanah atas fasiltas umum (fasum) dalam bentuk jalan ternyata tidak disertai dengan sertifikat.

Keluarga Amiruddin, Achmad Akbar mengaku membeli tanah tersebut dari pemilik sebelumnya bernama Toni. Saat itu, kata Akbar, Toni menyarankan kepada keluarganya untuk membeli kelebihan tanah yang ada di depan rumah.

"Kami beli tanah ini dari orang Asindo (perusahaan properti)," ujarnya.

Meski telah membeli kelebihan tanah, Akbar tidak bisa menunjukkan sertifikat kepemilikan tanah yang saat ini menjadi jalanan. Akbar mengatakan pihaknya masih menyimpan bukti pembelian tanah tersebut. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini