KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Amankan laut, Bakamla gunakan pesawat buatan profesor ITB

Rabu, 20 Mei 2015 23:13 Reporter : Sri Wiyanti
TNI AL tenggelamkan 35 kapal asing. ©puspen tni

Merdeka.com - Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) berkomitmen mendukung program Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Oleh sebab itu, Bakamla gencar memperkuat armada serta kemampuannya dalam menjaga keamanan laut Indonesia. Salah satunya dengan melengkapi peralatan deteksi dini, juga SAR.

Sekretaris Utama Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI), Dicky Munaf mengatakan peralatan tersebut merupakan buatan dalam negeri.

Selain, Forward Looking Infra Red (FLIR), Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Radar Over The Horizon (OTH), Bakamla juga bakal membeli enam pesawat yang mampu mendarat di air dan diterbangkan dari air. Pesawat ini sedang dalam proses pengerjaan oleh pakar Institut Teknologi Bandung.

"Pesawat itu dikembangkan oleh Prof Mulyo Widodo dari ITB. Tapi kami sudah pesan, tahun depan, awal tahun depan. Kita pesan enam, kita akan letakkan dua di Batam, dua di Manado, dua di Ambon. Pokoknya Januari mau dipakai operasi, 2016," tutur Dicky di Kantor Bakamla, Rabu (20/5).

Dicky menjelaskan, saat ini banyak sekali aktivitas ilegal di perairan Indonesia. Aktivitas ilegal tersebut rata-rata terjadi di Zona Economy Exclusive (ZEE) atau wilayah laut yang sangat jauh dari pantai agar pelaku aktivitas ilegal lebih mudah melarikan diri ke perairan internasional.

"Kalau mereka terdeteksi, mereka akan lari cepat ke perairan internasional. Kalau kita gerakkan kapal (mengejar) itu kan perlu waktu kira-kira delapan sampai sembilan jam. Oleh karena itu kita harus punya fasilitas yang cepat, yaitu kapal perahu terbang. Jadi dia bisa mendarat di laut dan naik dari laut. Itu bukan pesawat tanpa awak, tapi dengan awak karena di dalamnya harus ada pilot, harus ada navigator, harus ada penyidik," jelas Dicky.

Meski obyek pesawat yang dimaksud belum berwujud sempurna, Dicky menjelaskan, Bakamla berani memesan hingga enam unit agar peneliti tanah air termotivasi menyelesaikan tugasnya. Diakui, perlu keberanian untuk mulai memanfaatkan teknologi buatan anak anak bangsa.

"Harus ada keberanian mengambil keputusan. Kita mau pakai. Kita pesan, sekalipun barangnya belum ada. Itu memacu peneliti menyelesaikan pekerjaan," imbuh Dicky. [bal]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.