Amankan 22 Juli, TNI siagakan 35.000 anggota dan peluru karet

Rabu, 16 Juli 2014 09:57 Reporter : Efendi Ari Wibowo
Amankan 22 Juli, TNI siagakan 35.000 anggota dan peluru karet TNI. Merdeka.com/imam

Merdeka.com - TNI siap siaga mengamankan hasil akhir Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Mereka sudah membangun strategi pengamanan jika terjadi hal yang tak diinginkan.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan telah menyiapkan ribuan pasukan untuk mengamankan hasil rekapitulasi pilpres. Pasukan TNI pun sudah berkoordinasi dengan Polri.

"TNI siapkan 35 ribu pasukan yang stand by. Rinciannya 10 ribu pasukan yang siap digerakkan secara cepat dan yang 23 ribu sekian pasukan melekat dengan Polri," kata Moeldoko di Markas Kostrad Gambir Jakarta, Rabu (16/7).

Menurutnya fokus pengamanan hanya dilakukan di tempat-tempat penyelenggaraan pemilu. Instruksi ini khususnya untuk mengantisipasi hal-hal buruk pada tanggal 22 Juli mendatang.

"Pengumuman khususnya konsen yang tinggi baik KPUD maupun KPU, karena itu sumber informasi. Ini instruksi khususnya menghadapi tanggal 22 Juli, TNI konsentrasi penuh," ujar dia.

TNI pakai peluru karet

Moeldoko menginstruksikan pasukannya agar menyiapkan dengan baik persenjataan yang cukup jelang pengumuman hasil pilpres 22 Juli mendatang di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka diinstruksikan tak menggunakan peluru tajam saat bertugas.

"Saya minta seluruh prajurit mengikuti perkembangan saat ini. Apabila terjadi situasi yang krusial, tidak ada prajurit yang membawa amunisi tajam, sekali lagi tidak ada prajurit yang membawa amunisi tajam," kata dia.

Moeldoko menjamin anggotanya akan melakukan pengamanan dengan menggunakan peluru karet. Jika ada peluru tajam beredar saat pengaman berlangsung, itu bukan dari pihak TNI.

"Amunisi akan diganti isi karet dan amunisi hampa. Kalau ada amunisi tajam yang beredar itu bukan dari TNI," terang dia.

Selain itu, dia juga mengungkapkan cara pengamanan ini berkaca dari tragedi reformasi dulu. Hal tersebut untuk mencegah agar konflik tidak meluas.

"Saya katakan dengan tegas karena saya mempunyai pengalaman pada 1997. Ini untuk menghindari agar tidak terjadi sesuatu di lapangan," pungkas dia. [gib]

Topik berita Terkait:
  1. TNI
  2. Pilpres
  3. Pemilu 2014
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini