Alat Diagnosa Rusak, Bikin Telat Penanganan Pasien DBD di NTT

Rabu, 11 Maret 2020 14:55 Reporter : Supriatin
Alat Diagnosa Rusak, Bikin Telat Penanganan Pasien DBD di NTT Fogging Nyamuk DBD. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Demam berdarah dengue (DBD) menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT). Informasi terakhir, 37 warga NTT meninggal dunia akibat DBD. Kemenkes telah mengirim tim dokter spesialis ke NTT untuk menangani kasus DBD.

"Kemarin Pak Menteri (Menkes Terawan Agus Putranto) bersama tim dari Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P), sudah menambah tenaga dokter spesialis sehingga diagnosisnya lebih cepat. Kalau tidak salah ada 20 dokter," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes, Saraswati di Manhattan Hotel, Jakarta, Rabu (11/3).

Selain dokter spesialis, Kemenkes juga mengirim lima alat diagnostik untuk menguji sampel pasien yang diduga terkena DBD. Menurut Saraswati, alat diagnostik yang ada di NTT tak dapat digunakan lagi.

Sebabnya, selama ini alat diagnostik dipaksa bekerja tidak sesuai dengan kapasitasnya. Misalnya, alat diagnostik berkapasitas 80 sampel dipaksa untuk menguji lebih dari 300 sampel pasien diduga terpapar DBD.

"Akibatnya apa yang mungkin dilihat trombositnya harusnya sudah drop, sudah harus segera dilakukan penanganan transfusi misalnya jadi kelihatannya ternyata belum. Akhirnya terlambat dalam memutuskan tindakan penanganan karena alat diagnostiknya ada kelemahan," kata dia.

Baca Selanjutnya: Saraswati memastikan Kemenkes akan melibatkan...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Penyakit DBD
  3. DBD
  4. Demam Berdarah
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini