Aksi Heroik Mengejar Pecatan TNI Pemerkosa Bocah di Kendari Dikenal Jago Lari

Kamis, 2 Mei 2019 10:18 Reporter : Merdeka
Aksi Heroik Mengejar Pecatan TNI Pemerkosa Bocah di Kendari Dikenal Jago Lari Korban penculikan pecatan TNI di Kendari. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - AP alias Adrianus Pattian, pecatan anggota TNI Yonif 725 Woroagi di Sulawesi Tenggara harus mempertanggungjawabkan perbuatan kriminal yang dia lakukan. Andrianus tegas menculik sejumlah bocah SD di Kendari kemudian melakukan pencabulan.

AP masuk di TNI pada tahun 2011. Sebelumnya dia dikenal cukup berprestasi diangkatannya. Dia pernah menjuarai Cross Country (lomba lari lintas alam) yang diikuti seluruh perwakilan anggota TNI terbaik se-Indonesia pada tahun 2017 lalu. AP dikenal memiliki fisik yang kuat dan mampu bertahan lebih lama pada sejumlah latihan fisik.

Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Diki Kurniawan, penangkapan pelaku juga tak mudah. Dia sempat terjatuh dari motor saat berusaha kabur. Bahkan korban dia buat sebagai tameng sambil terus memacu motornya dengan kencang.

Saat terjatuh, pelaku juga masih berusaha mengelabui polisi. Dia terus memeluk korban sambil berguling di rumput.

"Pelaku kemudian bangkit dengan cepat karena di belakangnya ada mobil anggota kami. Hanya berjarak beberapa meter, pelaku langsung bangkit, dan lari masuk hutan setelah jatuh. Kita hanya selamatkan korban dan amankan motor pelaku penculikan yang ternyata juga dicuri dari orang," ujar Diki.

Kepolisian telah berkoordinasi dengan Denpom TNI dan pihak Korem 143 Jali Oleo untuk menindak pelaku. "Kami sementara cari dengan bantuan TNI. Kami harap bisa menemukan pelaku secepatnya," ujarnya.

Sebanyak 7 anak di bawah umur hilang secara misterius di Kota Kendari sejak Kamis, 25 April 2019, malam hingga Senin, 29 April 2019. Setelah hilang dari sekolah dan rumah selama beberapa jam, ketujuh bocah itu ditemukan di beberapa lokasi di Kota Kendari. Dugaan ketujuh bocah itu korban penculikan pun menguat.

Saat polisi melakukan penyelidikan, anak yang diduga hilang itu ternyata berada sekitar 20 kilometer di wilayah hutan di pinggiran Kota Kendari. Pengejaran pun dilakukan bersama Kodim 1417 Kendari.

Komandan Kodim 1417 Kendari, Letkol Fajar Luvti Haris Wijaya, mengatakan PAP lahir di Desa Romean Kecamatan Yaru Kabupaten Maluku Tenggara, pada 21 Januari 1994. Dia sudah ditetapkan sebagai DPO pada 13 September 2018 oleh kesatuannya.

Sudah berkali-kali desersi dari tugas, dia menambahkan pelaku sudah tidak masuk (in absentia) di Yonif 725 sejak setahun. Yang bersangkutan masuk sebagai anggota TNI sejak 2015 di Yonif 725 Woroagi.

"Dia desertir Yonif 725 Woroagi, dia sudah keluar, desersi sejak setahun yang lalu. Dia sudah tidak tercatat sebagai prajurit TNI," ujar Fajar Luvti Haris Wijaya.

Informasi yang beredar, pelaku juga pernah melakukan kekerasan seksual pada seorang wanita pada 2016 dan sudah ditindak tegas kesatuannya. Namun, belum ada yang bisa dikonfirmasi soal informasi ini.

Saat ditemukan warga dan orangtuanya, semua anak yang berjenis kelamin perempuan ini dalam kondisi lemah. Dan ketujuhnya diduga sudah mengalami kekerasan seksual oleh pelaku penculikan sebelum ditemukan kembali.

Enam anak korban penculikan ini ditemukan dengan beberapa bercak darah di pakaiannya. Sementara, satu anak diduga tidak sempat mengalami kekerasan seksual.

Laporan hilang dua anak di bawah umur awalnya pada Kamis, di wilayah Kelurahan Kemaraya, Kota Kendari. Beberapa jam setelah itu, keduanya ditemukan di depan Kompleks Kantor Museum Sulawesi Tenggara pada malam hari.

Laporan kehilangan kedua, terjadi pada Jumat (26/4/2019). Awalnya, satu anak dilaporkan hilang dari rumahnya, kemudian menyusul satu laporan lagi soal hilangnya anak secara misterius. Keduanya ditemukan beberapa jam setelahnya.

Laporan ketiga, terjadi pada Minggu (28/4/2019). Satu anak hilang dan beberapa jam kemudian ditemukan warga dan orang tuanya. Laporan keempat, terjadi pada Senin (29/4/2019) sekitar pukul 15.30 Wita, seorang anak perempuan dijemput dari sekolah oleh seseorang yang mengaku pamannya.

Orangtua korban langsung melaporkan ke Polsek Mandonga Kendari saat tidak menemukan anaknya di sekolah, Senin (29/4/2019). Dia mengatakan, baru sadar jika anaknya hilang saat menjemputnya sekitar pukul 16.00 Wita dari sekolah.

"Saya ketemu tinggal teman-temannya. Mereka bilang, anak saya dijemput orang dengan motor oleh pamannya. Saya langsung pulang dan melapor," ujarnya.

Reporter: Ahmad Akbar Fua

Sumber: Liputan6.com [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini