Akibat puting beliung, puluhan siswa SMP Bogor ujian di lapangan

Jumat, 5 Desember 2014 14:32 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Akibat puting beliung, puluhan siswa SMP Bogor ujian di lapangan Siswa belajar lesehan. ©2014 merdeka.com/Gede Nadi Jaya

Merdeka.com - Puluhan siswa-siswi SMP PGRI 6 Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terpaksa melaksanakan ujian tengah semester ganjil di lapangan sekolah karena kekurangan ruang belajar yang rusak diterjang puting beliung.

Sekitar 40 siswa dari kelas VII dan VIII secara bergiliran ujian di lapangan sekolah, Jumat (5/12).

"Kejadian puting beliungnya sudah satu bulan lalu tepatnya 25 Oktober, empat kelas rusak, ruang guru hancur, ruang TU dan laboratorium juga rusak," kata Kepala Sekolah SMP PGRI 6 M Ahyar Budiana, seperti dilansir Antara.

Ahyar menjelaskan akibat kerusakan tersebut, kegiatan belajar mengajar siswa menjadi terganggu.

SMP PGRI 6 memiliki sembilan ruang belajar, empat rusak diterjang angin beliung, sehingga siswa terpaksa berbagi kelas untuk tetap bisa belajar.

"Biasanya kami masuk pagi, tidak ada yang belajar siang, karena harus berbagi kelas, terpaksa ada yang masuk pagi dan masuk siang," kata Ahyar.

SMP PGRI 6 memiliki siswa 338 orang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX yang masing-masing berjumlah tiga kelas. Pasca diterjang angin beliung siswa sempat diliburkan karena sekolah melakukan pembenahan.

Kerusakan yang dialami sekolah cukup parah, terutama ruang guru yang hancur, begitu juga TU. Sedangkan ruang kelas selain rusak bagian atap, juga merusak fasilitas seperti bangku dan meja belajar.

"Kerusakan hampir 80 persen, kami mengalami kerugian hingga Rp 300 juta," kata Ahyar.

Ahyar menyebutkan, pasca puting beliung, sekolah secara swadaya melakukan perbaikan seperti atap TU dan atap ruang belajar.

Pihak sekolah telah mengeluarkan uang sampai Rp 15 juta untuk biaya perbaikan yang diambil dari dana BOS dan uang pribadi kepala sekolah.

"Sampai hari ini kami belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten maupun Dinas Pendidikan, kami sudah melaporkannya. Mungkin karena kami swasta tidak jadi prioritas," kata Ahyar.

Selain memperbaiki sendiri, pihak sekolah juga sudah mendapatkan bantuan dari Dompet Dhuafa untuk membenahi perpustakaan yang rusak. Bantuan dari Dompet Dhuafa berupa buku, sementara untuk perbaikan fisik dilakukan oleh pihak sekolah.

Menurut Ahyar, lokasi sekolah memang menjadi kawasan rawan angin puting beliung.

"Kejadian ini merupakan yang kedua, tahun 2011 kami juga pernah kena tapi tidak separah tahun ini. Selain merusak gedung sekolah juga melukai seorang penjaga yang ikut tersapu angin," kata Ahyar.

Fintia (13) salah satu siswa kelas IX mengaku terganggu dengan kondisi tersebut.

"Kalau belajar siang sering was-was apalagi kalau hujan, suka takut ada puting beliung lagi," ujar Fintia.

Fintia berharap perbaikan sekolahnya dapat segera dilakukan agar ia dan teman-teman dapat belajar dengan baik. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Anak Sekolah
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini