Akademisi anggap longsor di Desa Clapar akibat manusia dan alam

Rabu, 30 Maret 2016 15:34 Reporter : Chandra Iswinarno
Akademisi anggap longsor di Desa Clapar akibat manusia dan alam Longsor di Banjarnegara. ©2016 merdeka.com/chandra iswinarno

Merdeka.com - Terjadinya pergerakan tanah mengakibatkan longsor di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, sejak Minggu (23/3) pekan lalu menjadi perhatian serius kalangan akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Geolog Unsoed, Fadlin, melakukan penelitian langsung ke lapangan buat melihat faktor-faktor gejala peristiwa alam itu. Dari risetnya, Fadlin mengemukakan, secara topografi, kawasan Desa Clapar memiliki kemiringan lereng cukup curam dan berpotensi mengganggu kestabilan.

"Kondisi ini memberi peluang terjadinya gerakan tanah atau longsoran," kata Fadlin, Rabu (30/3).

Tak hanya dari topografi, dari segi batuan (litologi) ditemukan adanya susunan batu pasir kasar tuffan hingga konglomeratan di Desa Clapar. Menurut Fadlin, litologi di lokasi terjadinya longsoran sudah mengalami pengubahan akibat aktivitas hydrothermal fluid cukup kuat.

"Sehingga menghasilkan mineral lempung yang memiliki tingkat elastisitas tinggi (sweeling). Terutama mineral smektit yang dapat berfungsi sebagai bidang gelincir saat kejadian longsoran pada tanggal 26-27 Maret 2016 lalu," ujar Fadlin.

Fadlin mengemukakan, struktur geologi cukup intensif berupa patahan geser berarah realtif arah utara-selatan, tepat melewati Desa Clapar. "Hasil interpretasi kami, jalan alternatif Banjarnegara-Wonosobo yang melewati Desa Clapar dibangun di atas sesar geser, yang diyakini oleh ahli geologi sebagai zona lemah. Dengan kata lain, litologinya memiliki tingkat kestabilan yang sangat rendah," ucap Fadlin.

Sementara itu, intensitas curah hujan cukup tinggi juga berpengaruh terhadap terjadinya aktivitas longsoran. Sehingga, lanjut Fadlin, air hujan meresap masuk melalui rekahan maupun pori-pori tanah akan menambah kadar air dalam tanah.

Masih menurut Fadlin, longsoran juga tidak menutup kemungkinan dengan pemanfaatan lahan oleh masyarakat yang sebagian besar ditanami pohon salak. Pohon salak, ujar dia, memiliki karakter akar serabut yang memperlemah daya ikat tanah.

"Dengan kata lain, tanah di bagian atas menjadi gembur sehingga mengganggu kestabilan tanah tersebut," lanjut Fadlin.

Fadlin mengemukakan, perlu dilakukan pemetaan detail tentang penyebaran potensi rawan bencana longsor. Untuk saat ini, lanjut dia, diperlukan mitigasi dan juga memperhatikan kemungkinan zona-zona bahaya lain di luar titik longsor yang terjadi saat ini.

"Sudah saatnya pemerintah melakukan pendataan serta pemetaan yang lebih detil dan sistematik, terhadap daerah yang memiliki potensi bahaya longsor. Yang paling penting, peta zona bahaya longsor harus terintegrasi dengan tata guna lahan," tutup Fadlin. [ary]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini