KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Air bersih di Pulau Rote harus beli, harganya Rp 200 ribu

Sabtu, 12 Agustus 2017 23:33 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
ilustrasi kekurangan air bersih. ©REUTERS/Romeo Ranoco

Merdeka.com - Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu daerah yang akan mengikuti Pilkada serentak 2018. Partai Gerindra dan Demokrat akan mengusung pasangan Bima Fanggidae dan Ernest Pella.

Bima mengakui jika selama 15 tahun, wilayah paling selatan Indonesia itu belum memberi perubahan yang berarti untuk kemajuan ekonomi masyarakat dan daerahnya.

Selama ini, masyarakat Rote masih kesulitan untuk mengelola sumber daya alam terutama hasil pertanian menjadi produk dengan nilai tambah yang bisa mengubah keadaan ekonomi mereka. Salah satunya, kata Bima, adalah pohon lontar.

"Julukan Rote itu pulau sejuta lontar. Lontar itu sumber kehidupan, bayi di Rote itu baru lahir dikasih air dari olahan lontar. Tapi sayang masyarakatnya tidak tau bagaimana cara mengelola lontar, istilah di kami iris pohon lontar, untuk bisa jadi sumber ekonomi mereka," kata Bima di Jakarta, Sabtu (12/8).

Padahal, kata Bima, lontar jika bisa dikelola dengan baik bisa menghasilkan gula air, gula semut, kecap dengan kadar gula yang rendah dan jenis minuman. Hasilnya, kata Bima, bahkan bisa di ekspor ke seluruh Indonesia dan luar negeri.

"Cuma selama ini lontar cuma diambil airnya saja. Malah (daging) buahnya dikasih ke babi. Coba kalau kita kasih pendidikan soal mengubah lontar jadi produk yang punya nilai tambah dan kita ciptakan pasarnya masyarakat Rote bisa sejahtera," kata Bima.

Selain lontar, Bima juga menceritakan, ada jagung yang menjadi andalan masyarakat Rote. Namun lagi-lagi pemerintah daerah tidak bisa mengelola hasil olahannya dan tak bisa sediakan pasr bagi petani jagung di Rote.

Saat ini, kata Bima, masyarakat sangat kesulitan untuk mengakses air bersih. Jangankan untuk memenuhi perairan pertanian, untuk kebutuhan sehari-hari saja masyarakat Rote harus membeli air bersih seharga Rp 200.000 untuk membeli satu tangki air sebanyak 5.000 liter. Padahal pendapatan rata-rata masyarakat Rote hanya 300.000 per-bulannya.

Di tempat yang sama, calon wakil Bupati Ernest Pella mengatakan, jika pemerintah saat ini hanya menyediakan embung (penampungan air) untuk dijadikan sumber air. Hal itu, menurutnya sia-sia, karena curah hujan di Rote sangan minim. Ditambah lagi, banyak embung yang terbengkalai karena tidak dipelihara dengan baik.

"Jadi ini soal kepedulian dan political will untuk mampu menyediakan air bersih dan menciptakan pasar bagi masyarakat Rote. Kontrol pemerintah harus jalan. Itu yang akan kami benahi," kata Ernest. [rnd]

Topik berita Terkait:
  1. Krisis Air Bersih
  2. Air Bersih
  3. Rote Ndao
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.