KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Ahok tambah deretan panjang kekalahan calon gubernur diusung PDIP

Kamis, 20 April 2017 08:03 Reporter : Ramadhian Fadillah
Konpers ahok-djarot usai kalah pilgub dki. ©2017 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Pilkada DKI Jakarta telah usai. Sejumlah lembaga survei merilis hitung cepat mereka. Hasilnya Anies Baswedan- Sandiaga Uno mengalahkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

Banyak pengamat politik yang menyebut Pilkada DKI sebagai Pilgub rasa Pilpres. Pertarungan PDIP melawan Gerindra ini mengingatkan pada pertarungan Pilpres 2014 lalu, barisan PDIP yang mengusung Jokowi berhadapan dengan kubu Gerindra yang menjagokan Prabowo Subianto.

Kekalahan Basuki atau Ahok ini melengkapi daftar kekalahan calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan. Baru saja partai banteng ini menelan kekalahan pahit di Provinsi Banten bulan Februari 2017 lalu. Jagoan mereka Rano Karno sebagai gubernur petahana dikalahkan oleh Wahidin Halim-Andika Hazrumy yang diusung Partai Golkar, Demokrat, PAN, PKB, PKS, Hanura dan Gerindra.

Wahidin mendapat 50,95 persen suara, Rano Karno 49,05 persen. PDIP dipaksa menelan pil pahit kekalahan.

Buntut kekalahan ini, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mencopot Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Serang Ida Rosida Lutfi. Dia juga mencopot Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Kota Tangerang Hendri Zein dari jabatannya.

Dalam perhelatan pemilihan kepala daerah serentak 2017, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menderita kekalahan di 44 daerah atau 43,6 persen. Partai berlambang banteng moncong putih itu menang di 57 daerah dari 101 provinsi, kabupaten, dan kota yang menggelar pilkada.

Angkanya memang di atas 50 persen. Tapi diakui PDIP saat itu, kemenangan ini belum memuaskan karena pertaruhan penting ada di Banten dan DKI Jakarta.

"Persentase kemenangan yang di atas 50 persen tentu cukup bagus meskipun belum sepenuhnya memuaskan, karena daerah penting, seperti DKI dan Banten, prosesnya belum selesai," kata Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira bulan Februari lalu.

Mundur beberapa tahun lalu, PDIP juga menderita kekalahan di sejumlah provinsi yang penting. Yang paling menyakitkan mungkin di Bali. Di mana dari sembilan, tujuh bupati berasal dari PDIP. Selama ini Bali pun dikenal sebagai basis massa PDIP paling loyal.

Tahun 2013 lalu, PDIP mengusung Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan melawan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta yang diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, Partai Gerindra, Partai Hanura.

Mangku Pastika mendapatkan 50,02 persen suara sementara Puspayoga 49,98 persen suara.

"Bu Mega kecewa. Tidak menyangka sembilan kabupaten, tujuh bupati kami kalah," kata Ketua Bidang Hukum DPP PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan saat itu.

Di Sumatera Utara, jagoan PDIP Effendi Simbolon juga dikalahkan politikus PKS Gatot Pujo Nugroho. Padahal tahun 2013 lalu, Jokowi diterjunkan jadi jurkam andalan PDIP.

Di Jawa Barat tahun 2013, Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki dilibas Politikus PKS Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Di Provinsi Jawa Timur, PDIP pun menelan pil pahit. Bambang DH kalah.

Cuma di Jawa Tengah pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko berhasil menang dan menyelamatkan wajah PDIP.

Akankah di Pilkada serentak tahun 2018 nanti partai banteng ini bisa mendulang kemenangan?

[ian]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.