Adegan per adegan diperagakan Dokter Helmi hingga istri meregang nyawa

Selasa, 14 November 2017 05:34 Reporter : Ahda Bayhaqi, Henny Rachma Sari
Prarekonstruksi penembakan Dokter Letty. ©2017 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Kamis, 9 November 2017 sekitar pukul 14.30 Wib, suara letusan tembakan mendadak buat Klinik Azzahra Medical Centre, hening. Padahal, saat itu klinik yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur tersebut sedang ramai-ramainya warga yang hendak berobat.

Ada enam letusan yang terdengar. Setidaknya, jumlah tersebut yang didengar Rahmat, seorang pengemudi ojek online.

Jika ditarik ke belakang, ada sejumlah persiapan yang dilakoni Dokter Ryan Helmi, pelaku penembakan di klinik tersebut untuk menghabisi nyawa Letty Sulitri, istrinya yang juga berprofesi sebagai dokter.

Pukul 12.00 Wib, Helmi menuju klinik Azzah dengan menumpangi ojek online. Ia berangkat dari Klinik Bidan Estin Pondok Ungu Permai, Bekasi. Kemudian, di sekitar kantor Wali Kota Jakarta Timur, Helmi mengisi senjata apinya dengan peluru.

Adegan tersebut diperagakan helmi di Polda Metro Jaya saat prarekonstruksi.

"Jadi adegan pertama dan kedua ada di sekitar Walkot Jakarta Timur tapi pelaksanaannya di Polda Metro Jaya. Saat ke warung pengisian peluru senpi dan juga adegan 23 dilaksanakan di Polda Metro Jaya di penjagaan yang bersangkutan masuk," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di klinik Azzahra Medical Centre, Senin (13/10).

Tiba di tempat tujuan, yakni Klinik Azzahra, Helmi meminta ojek online yang ia pesan untuk menunggu.

Sementara itu, ia masuk ke klinik dan menemui Letty, istrinya.

Adegan selanjutnya, yakni yang ke-8. Helmi memperagakan ketidaksenangan Letty saat mengetahui kedatangannya. Sebab, di adegan tersebut Helmi memaksa istrinya berbicara empat mata di ruang praktik.


Helmi kesal permintaannya ditolak, keduanya cekcok. Tak tahan ribut berkepanjangan, Letty memilih berlari menuju ruang pelayanan.

Kadung emosi, Helmi mengejar dan menendang-nendang pintu ruangan.

"Ruang konsultasi dokter kan tertutup, istrinya lari masuk ruang pelayanan dan pintunya ditendang-tendang, dan dia masuk," kata Kasubdit Jatanras AKBP Hendy F Kurniawan di TKP.

Merasa keselamatannya terancam, Letty pun berteriak minta tolong dan mengundang pegawai serta resepsionis klinik datang.

Namun, langkah keduanya terhenti saat melihat Helmi mengeluarkan senjata api dari dalam tasnya dan langsung mengokang.

Helmi tidak bisa masuk ke ruangan Letty karena pintu terkunci. Lantas, ia mengacungkan pistol dari luar lewat kaca loket.

Dari dalam ruangan, korban bersembunyi di balik kursi merah ruang kerjanya.

Kursi itu tidak menghentikan peluru yang ditembak pelaku lantaran jarak keduanya hanya dua meter. Enam peluru revolver habis dilepaskan semua. Tiga menembus tubuh korban, dua tepat di bagian dada dan satu di paha. Sisanya masih dicari polisi.

"Semuanya meletus, saksi sudah menjelaskan enam selongsong tapi ada ditubuhnya tiga proyektil," jelas Hendy.

Ketika dua tembakan dilepaskan, dua saksi keluar ruangan dan menghampiri pelaku. Layaknya koboi, pistol itu diacungkan ke arah saksi. Gangguan hilang, pelaku kembali menembak korban sampai terkapar.

Kemudian pelaku keluar dan kembali naik ojek daring yang ia suruh menunggu. Setelahnya, motor langsung tancap gas menuju Polda Metro untuk menyerahkan diri.

"Gojeknya sampaikan ke saya, 'tunggu ya abis ini saya mau ke polda'. Dia nunggu setelah ada keributan habis itu disuruh anter ke polda," tandas Hendy.

[rhm]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.