Ada Situs Sejarah, Pengerjaan Proyek Tol Malang-Pandaan Digeser

Rabu, 13 Maret 2019 09:42 Reporter : Darmadi Sasongko
Ada Situs Sejarah, Pengerjaan Proyek Tol Malang-Pandaan Digeser Situs Sejarah di Jalur Tol Malang-Pandaan. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Jalur tol Malang-Pandaan (Mapan) menabrak situs sejarah di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sehingga perlu dibuat alternatif berupa penggeseran jalur sekitar 10 meter.

Namun demikian, keputusan itu masih menunggu hasil dari ekskavasi yang sedang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto. Tim sedang bekerja untuk menemukan bentuk dan seberapa signifikan situs tersebut.

Jasa Marga Pandaan-Malang selaku penanggungjawab tol Mapan telah menyiapkan skenario terkait penemuan situs cagar budaya tersebut. Skenarionya menggeser jalur sekitar 10 meter dari jalur semula.

General Manager Teknik Jasa Marga Pandaan-Malang, Muhammad Jajuli mengatakan sementara waktu kegiatan kontruksi di sekitar situs dihentikan. Pihaknya akan menunggu hasil kajian yang sedang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto.

"Sementara waktu kegiatan kontruksi kita hentikan, selain itu sudah membuat alternatif. Misalkan kalau ini betul-betul situs cagar budaya, akan kita geser trace (jalur) jalannya," kata Muhammad Jajuli di Malang, Selasa (13/3).

Jajuli mengatakan, sudah melakukan pengukuran jarak lokasi situs dengan pusat jalan sekitar 13 meter. Sehingga cukup dilakukan pergeseran ke arah Sungai Amprong.

"Sehingga kita geser ke arah sungai. Nanti kemungkinan ada tambahan konstruksi. Nanti dipasang penguat sekitar 50 sampai 100 meter. Digeser sekitar 10 meter (dari posisi semula) sudah cukup. Kita sementara menunggu dulu," ungkapnya.

Sebuah situs sejarah ditemukan di seksi V jalur tol Malang-Pandaan. Seksi V sendiri memang tengah menghadapi persoalan lahan di Kelurahan Madyopuro, Kota Malang. Sehingga penemuan tersebut tidak mengganggu secara signifikan pengerjaan proyek tol.

"Seksi I-IV itu target sampai April selesai, kalau seksi V kita belum, targetnya Juni. Tapi kayaknya mundur. Masih ada persoalan lahan di Madyopuro, dari pengadilan kan belum berani eksekusi," katanya.

Target penyelesaian seksi V masih menunggu 50 lahan yang sempat masuk gugatan di pengadilan.

Sementara itu, Wicaksono Dwi Nugroho, Arkeolog BPCB Jawa Timur selaku Ketua Tim Ekskavasi mengatakan akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait pembangunan tol. Pihaknya sedang melakukan kajian terkait jenis dan bentuk situs yang akan menjadi penentu dari tindak lanjut proyek tol.

"Selanjutnya koordinasi dengan pihak Jasamarga untuk penanganan ke depan berkaitan dengan pembangunan tol," kata Wicaksono Dwi Nugroho, Arkeolog BPCB Jawa Timur selaku Ketua Tim Ekskavasi, Selasa (12/3).

Wicaksono menegaskan, sebelumnya telah dilakukan koordinasi dengan Jasa Marga guna membicarakan proses ekskavasi. Hasilnya akan menjadi rekomendasi untuk kelanjutan dan alternatif proyek tol tersebut.

Beberapa ruas tol yang dibangun di Jawa Timur juga mengalami kejadian serupa sehingga ditempuh alternatif yang tidak merusak situs. Langkah yang ditempuh di antaranya pembuatan flyover atau pemindahan jalur.

"Kalau di tol seperti di Saradan melewati pemukiman kuno, akhirnya tol dibuat flyover. Jadi tidak mengganggu situs, begitu pun yang di Beji, semacam petirtaan zaman Belanda, itu juga flyover," katanya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini