Aceh diserang penyakit difteri, 2 dari 17 pasien meninggal dunia

Selasa, 21 Februari 2017 12:54 Reporter : Afif
Aceh diserang penyakit difteri, 2 dari 17 pasien meninggal dunia ilustrasi rumah sakit. Shutterstock/sfam_photo

Merdeka.com - Rumah Sakit Umum Zainoel Abidian (RSUZA), Banda Aceh sejak awal Januari 2017 diserbu pasien difteri. Tercatat ada 17 pasien terkena difteri dan dua di antaranya meninggal dunia.

Saat ini lima pasien virus bakteri itu tengah menjalani perawatan intensif. Para pasien itu dirawat dalam ruang isolasi, dibatasi untuk akses untuk siapapun karena butuh penanganan khusus.

Wakil Direktur Pelayanan RSUZA, dr Azharuddin mengatakan, kasus difteri di Aceh sudah memprihatinkan, karena masih tinggi penderita difteri di Aceh. Seharunya, penyakit menular ini sudah tidak ada lagi. "Provinsi lain justru sudah hilang, sangat prihatin kita masih tinggi penderita difteri," kata Azharuddin di Banda Aceh, Selasa (21/2).

Kata Azharuddin, RSUZA Banda Aceh saat ini memiliki 6 tempat tidur dalam ruang isolasi. Sehingga kelima pasien difteri tersebut bisa tertangani. “Bayangkan kalau bertambah, kita kasih ke orang lain tidak mau pastinya,” jelasnya.

Azharuddin meminta kepada seluruh masyarakat Aceh untuk melakukan pencegahan dengan cara memberikan imunisasi. Dengan adanya imunisasi kekebalan tubuh akan kuat, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit, termasuk bakteri difteri.

"Umumnya penderita yang ada, cakupan imunisasi itu rendah, data lebih lengkap ada di Dinkes. Daerah yang banyak penderita difteri itu ada di Aceh Timur dan Aceh Utara," sebutnya.

Adapun gejala diderita terserang bakteri difteri seperti demam tinggi, susah menelan dan mulutnya berselaput putih, termasuk lidah. Bahkan bisa lebih parah, bila susah bernaas berakibat meninggal dunia. "Kalau ada gejala seperti itu segera periksa, sampai dibuktikan oleh medis bukan difteri," pintanya.

Lanjutnya, bila penderita difteri sudah parah. Seluruh rongga mulut penderita putih, baik lidah, langit-langit mulut dan bahkan leher penderita bengkak. "Begitu ganasnya bakteri defteri ini," sebutnya.

Menurut Azharuddin, pencegahan tidak hanya dilakukan hilir, tetapi dari hulu sampai ke hilir. Salah satunya adalah penting masyarakat mendapat pemahaman pentingnya imunisasi, agar kekebalan tubuh seseorang kuat.

"Soalnya penyakit ini juga berpengaruh dan berdampak pada sosial. Besar beresiko untuk orang lain, karena penularan bisa lewat udara seperti batuk," tegasnya.

Kalau ada anggota keluarga yang diduga terjangkit difteri, sebutnya, cukup anggota keluarga lain menggunakan masker. Menghindari kontak langsung seperti batuk atau pernapasan lainnya dengan penderita difteri.

"Maskernya bisa dibeli di apotek atau toko obat. Yang penting jangan ada kalau batuk muncrat langsung," terangnya. [ang]

Topik berita Terkait:
  1. Aceh
  2. Banda Aceh
  3. Virus
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini