ABG ini jadi Pak Ogah untuk keperluan melahirkan sang ibu

Kamis, 11 September 2014 00:15 Reporter : Dharmawan Sutanto
Ilustrasi. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Senja sore menghiasi langit Utara Jakarta, kala itu terlihat seorang anak tengah memarkirkan kendaraan roda empat di Jalan Sulawesi, pos 9 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bocah tersebut bernama Rosdiana (15).

Ros begitu dirinya disapa, rela mencari uang untuk menghidupi ibu kandungnya yang tengah hamil 9 bulan. Ros mulai bekerja menjadi pak Ogah sejak pukul 07.00 WIB sampai dengan tenggelamnya matahari.

"Saya udah 1,5 bulan jadi tukang parkir dan setiap satu jam sekali ganti-gantian dengan yang lain. Saya jadi tukang parkir karena kepengin bantu ibu yang sebentar lagi lahiran, bapak sakit keras di Bogor dan saya jadi tulang punggung keluarga," ujar Rosdiana kepada wartawan, Rabu (10/9).

Ros yang merupakan anak kelima dari 7 bersaudara tersebut, akhirnya putus sekolah kelas XI akibat himpitan ekonomi yang melanda kedua orang tuanya. Ros mengaku tidak ada paksaan dari pihak keluarga, dirinya dengan tulus membantu keluarganya, terutama sang Ibu yang tengah lepas dan tinggal menunggu waktu kelahiran anak kedelapannya.

"Bapak tinggal di Bogor sakit keras, kalau Ibu di Cilincing, saya gak betah di rumah dan sering diomelin sama bapak, kadang nenek juga ikut omelin karena saya cuma dapat Rp 75 ribu sehari," katanya.

Lanjut Ros, uang sebesar Rp 70 ribu tersebut kemudian diberikan kepada sang ibu sebesar Rp 60 ribu, sedangkan sisanya untuk makan dirinya sehari-hari.

"Buat pegangan saya Rp 10 ribu, sisanya saya kasih ke ibu buat biaya lahiran," tandasnya.

Namun nahas, hidupnya menjadi pak ogah terhenti, ketika dirinya terjaring razia Operasi Cipta Kondisi yang dilakukan Polres Metro Jakarta Utara. Bersama puluhan Pak Ogah lainnya, dirinya hanya tersenyum lesu, ketika digiring dan tiba di halaman Polres Metro Jakarta Utara.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Azhar Nugroh mengatakan, dalam operasi cipta kondisi (Cipkon) bersama Satpol PP yang digelar sejak Senin (8/9) sampai Rabu (10/9) di wilayah Jakarta Utara, pihaknya berhasil menciduk 48 orang yang diindikasikan sebagai Pak Ogah, preman, bajing loncat dan pengamen.

Menurut Azhar, keberadaan mereka meresahkan masyarakat atau pun pengguna jalan. Oleh karena itu, pihaknya melaksanakan Cipkon dalam rangka pemberantasan premanisme. Adapun puluhan orang itu, dibawa ke panti sosial Dinas Sosial DKI Jakarta untuk dilakukan pembinaan. [gib]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Inspiratif
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.