4 Negara di Asia Tenggara dengan kekuatan Angkatan Udara terlemah

Kamis, 8 September 2016 09:02 Reporter : Yulistyo Pratomo
4 Negara di Asia Tenggara dengan kekuatan Angkatan Udara terlemah AU Kamboja. ©2016 istimewa

Merdeka.com - Di samping kekuatan darat dan laut, angkatan udara juga memiliki peran penting dalam hasil akhir dari sebuah pertempuran. Lewat udara, militer sebuah negara bisa menjangkau area yang sulit ditembus pasukan darat, entah akibat medan yang sulit dilalui atau kuatnya perlawanan dari musuh.

Sejak Perang Dunia Pertama, keberadaan angkatan udara banyak menyumbangkan hasil gemilang dalam menggebuk perlawanan musuh. Rentetan tembakan dari udara membuat lawan ketar ketir, pasukan darat pun bisa meraih kemenangan dengan mudah tanpa harus mengorbankan banyak nyawa.

Amerika Serikat, Singapura bahkan Indonesia terus berupaya memperbaharui armada udaranya masing-masing, dengan membeli teknologi terbaru. TNI AU sendiri sudah mengincar Sukhoi Su-35 dari Rusia, Malaysia sedang melirik Eurofighter untuk memperkuat pertahanan udaranya.

Di upaya pembelian besar-besaran, rupanya masih ada beberapa Angkatan Udara di Asia Tenggara yang tak memiliki pesawat tempur. Mirisnya, pesawat-pesawat yang dimiliki usianya sudah cukup tua, dan kebanyakan dipakai untuk transportasi.

Berikut beberapa negara di Asia Tenggara dengan kekuatan udara terlemah yang dirangkum merdeka.com:

1 dari 4 halaman

Laos

AU Laos. ©2016 istimewa

Angkatan Udara Laos baru terbentuk tahun 1976. Perang Vietnam membuat negara ini pernah memiliki armada besar, berkat bantuan yang diberikan Amerika Serikat, demi mencegah menyeberangnya tentara Viet Cong masuk dari negaranya.

Sayangnya, minimnya suku cadang dan perawatan membuat banyak pesawat tempur seperti T-6, T-28, dan AC-47 terpaksa dipensiunkan. Negara ini masih mengoperasikan satu unit pesawat uzur, yakni Antonov An-26 sebagai sarana transportasi.

Sama halnya dengan tetangganya Kamboja, Laos tak memiliki satu pun pesawat tempur. Kebanyakan pesawat yang dimiliki dipakai untuk transportasi dan kepentingan VIP, serta sejumlah helikopter.

Pesawat terbaru yang dimiliki adalah dua unit Xian MA60 buatan China. Ada 16 unit helikopter yang dimiliki Laos, yakni 4 unit Bell UH-1, 4 unit Harbin Z-9, 3 unit Mil Mi-17, 1 unit Mil Mi-26 dan 2 unit Kamov Ka-27.

Tidak diketahui berapa jumlah personel yang dimiliki AU Laos. Berdasarkan globalfirepower.com, kekuatan militernya berada di urutan ke-121 dari 126 negara.

2 dari 4 halaman

Kamboja

AU Kamboja. ©2016 istimewa

Berdiri sejak 1953, AU Kerajaan Kamboja telah mempekerjakan 2.500 personel. Sama halnya dengan Brunei, negara ini tidak mengoperasikan satupun pesawat tempur, mereka hanya mengoperasikan pesawat untuk keperluan transportasi udara.

Beberapa jenis pesawat yang dioperasikan masih terhitung baru, di antaranya 1 unit Airbus A320, 1 unit Xian MA60, dan 1 unit Harbin Y-12. Meski begitu, Kamboja masih mengoperasikan satu unit pesawat buatan tahun 1965, yakni Britten-Norman BN-2.

Kamboja juga mengoperasikan sejumlah helikopter, yakni 5 unit Mil Mi-17. 2 unit Mil Mi-26, 11 unit Harbin Z-9, 1 unit Eurocopter AS350, dan 1 unit Eurocopter AS355. Seluruhnya dipakai untuk kepentingan VIP dan transportasi.

Tidak tercatat berapa personel yang mengabdi di AU Kamboja. Berdasarkan globalfirepower.com, kekuatan militernya berada di urutan ke-88 dari 126 negara.

3 dari 4 halaman

Timor Leste

Tentara Timor Leste. ©2016 istimewa

Sejak berpisah dari Indonesia, Timor Leste langsung membentuk Angkatan Darat sebagai alat pertahanan utama. Menyusul kemudian dibangunnya Angkatan Laut.

Sayangnya, hingga kini negara tersebut belum membangun kekuatan udaranya sendiri. Sebagian besar pesawat masih dioperasikan sendiri oleh Angkatan Darat Timor Leste.

Jumlah pasukan yang dimiliki negara ini sebanyak 1.250 personel. Timor Leste sendiri diketahui memiliki 2 bandar udara yang beraspal, 4 bandar udara tidak beraspal, serta 8 heliport.

4 dari 4 halaman

Brunei Darussalam

AU Brunei. ©2016 istimewa

Angkatan Udara Kerajaan Brunei baru dibentuk pada 1966, sebelumnya melebur di dalam Resimen Kerajaan Brunei Malay. Tugas pertamanya adalah mengantar dokter ke area terpencil dengan menggunakan helikopter Sikorsky S-55.

Meski telah memiliki lima skadron dan satu pasukan payung, namun belum memiliki jet tempur. Untuk memperkuat kekuatannya, Brunei telah memesan 8 unit T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Sebagian besar armadanya merupakan helikopter, kebanyakan dipakai sebagai media transportasi udara.

Pesawat dimiliki Brunei adalah satu unit N-235 buatan IPTN. AU Brunei juga mengoperasikan tiga jenis helikopter, yakni 1 unit Bell 214ST, 5 unit Bo 105 dan 12 unit UH-60. Jika dibutuhkan Bo 105 yang merupakan buatan Jerman itu bisa dipersenjatai dengan roket atau senapan mesin.

Sementara, untuk berlatih personel AU Brunei menggunakan 4 unit PC-7 dan 3 unit Bell 206. Saat ini, mereka juga tengah memesan 12 unit KT-1 buatan Korea Selatan.

  [tyo]

Baca juga:
Mengintip perakitan kendaraan tempur militer Ukraina
Ngeri, China kembangkan rudal cerdas berjuluk 'drone maut'!
Aksi tempur militer Taiwan kepung pulau di Pingtung
Jepang unjuk kebolehan dalam latihan militer tahunan

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini