4 Kader Golkar Dicokok KPK Bukti Korupsi Masih jadi Pilihan Politikus Memperkaya Diri

Kamis, 21 Oktober 2021 14:07 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
4 Kader Golkar Dicokok KPK Bukti Korupsi Masih jadi Pilihan Politikus Memperkaya Diri KPK Tahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin Terkait Kasus Suap. ©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Empat kader Partai Golkar berturut-turut ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sebulan terakhir. Peneliti Formappi, Lucius Karus menilai, berulangnya kasus korupsi yang dilakukan kader parpol menjadi bukti sistemiknya korupsi di tubuh parpol.

Masalah lainnya, adalah minimnya partai untuk mendorong kader berintegritas dengan upaya-upaya nyata berupa kaderisasi. Serta, regenerasi yang terbuka di posisi parpol masih cenderung mempertimbangkan kekayaan kader.

"Berulangnya kasus korupsi yang dilakukan kader parpol juga menjadi bukti sistemiknya korupsi di tubuh parpol. Minimnya upaya parpol untuk mendorong kader berintegritas dengan upaya-upaya nyata berupa kaderisasi dan juga regenerasi yang terbuka membuat posisi di parpol masih cenderung ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatis yang diantaranya adalah pertimbangan kekayaan kader," kata Lucius, Kamis (21/10).

Menurutnya, selagi praktik-praktik kaderisasi di partai tidak meletakkan integritas sebagai pertimbangan mendasar menentukan seorang kader, maka korupsi yang melibatkan kader selanjutnya adalah sesuatu yang mudah ditebak.

Selain itu, upaya setengah hati parpol untuk menjadikan integritas kader sebagai pertimbangan utama dalam rekrutmen di internal partai, akan membuka celah lolosnya kader-kader bermental korup atau kader-kader yang sudah besar karena praktik korupsi.

"Dengan tata kelola parpol-parpol yang ada saat ini, saya kira sih bicara soal solusi mengatasi korupsi jadi seperti lingkaran setan saja. Sulit mengharapkan perubahan itu ketika elit partai saja tak berubah orang-orangnya," tuturnya.

Lucius menambahkan, terus berulangnya kader parpol dalam kasus korupsi menandakan bahwa korupsi masih merupakan pilihan politisi untuk memperkaya diri. Korupsi masih menjadi ancaman serius yang selalu akan terjadi jika tak ada semacam keseriusan Pemerintah, Penegak Hukum, dan DPR dalam mengatasinya.

Terlebih, berbagai upaya akhir-akhir ini memperlihatkan kecenderungan mulai melemahnya semangat pemberantasan korupsi dari DPR dan Pemerintah. Kecenderungan ini menjadi peluang emas bagi politisi untuk mendulang uang dari sumber ilegal.

"Berulangnya kasus korupsi yang dilakukan politisi menunjukkan bahwa praktik korupsi kembali menjadi rutinitas yang jika dikontrol ketat akan menjerat semakin banyak politisi," ujarnya.

Maka, Lucius menilai, jika ada 4 kader Golkar yang dalam waktu berdekatan ditangkap KPK, bukan berarti politisi partai lain tidak melakukannya. Dia menduga praktik korupsi ini kian masif saja di tengah makin kendornya upaya pemberantasan korupsi.

"Mungkin saja politisi Golkar yang tertangkap ini adalah hasil dari amatan cepat KPK dan Kejaksaan. Atau karena ada pihak lain yang juga terlibat yang memungkinkan KPK bisa mengendus pihak lain dari politisi. Keterbatasan kekuatan penegak hukum yang menyelamatkan banyak kasus korupsi lain yang mungkin melibatkan politisi partai lain," kata dia.

"Jadi ini bukan semata-mata masalah Golkar saja, tetapi ini masalah parpol secara umum, masalah politisi umumnya," kata Lucius.

Sebelumnya, Partai Golkar kembali diterpa isu korupsi bertubi-tubi. Empat kader partai beringin tersebut ditangkap penegak hukum dalam sebulan terakhir.

Bahkan mereka yang ditangkap bukan kader sembarangan di Golkar. Mulai dari Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin, mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin hingga dua kepala daerahnya. Semuanya telah ditetapkan tersangka dan ditahan dengan berbagai kasus serta modus masing-masing. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini