33 Nyawa Melayang, Aktivis Sebut Lubang Eks Tambang di Kaltim Mirip Bom Waktu

Sabtu, 27 April 2019 05:03 Reporter : Saud Rosadi
33 Nyawa Melayang, Aktivis Sebut Lubang Eks Tambang di Kaltim Mirip Bom Waktu Lokasi kolam eks tambang. ©2017 Merdeka.com/Nur Aditya

Merdeka.com - Pegiat Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur merampungkan investigasi terkait meninggalnya RNA (14), siswi SMP di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, di kolam bekas galian tambang batu bara, Minggu (21/4) sore lalu. Jatam menduga, lubang menganga yang kini menjadi kolam itu merupakan konsesi PT MUTU.

RNA, merupakan korban ke-33 tewas di kolam bekas tambang di Kalimantan Timur sejak tahun 2011 lalu, di mana kali ini terjadi di sekitar Desa Bunga Jadi, kecamatan Muara Kaman.

Dari penelusuran Jatam, lokasi tenggelamnya RNA, diduga berada di konsesi tambang milik PT MUTU, yang memegang 2 konsesi tambang dari Pemkab Kutai Kartanegara, dengan luasan masing-masing 616 hektare dan 1.059 hektare.

Lokasi lubang bekas tambang itu, menurut Jatam, hanya berjarak sekira 57 meter dari jalan umum. Ketua RT 10 di desa itu menjelaskan, lubang itu ditinggalkan perusahaan 2-3 tahun terakhir, tanpa rehabilitasi.

"Tenggelam dan meninggalnya RNA, tak terlepas dari sikap pemerintah, baik daerah maupun pusat, yang tidak bertanggungjawab, membiarkan lubang-lubang menganga tanpa rehabilitasi dan penegakan hukum," kata Dinamisator Jatam Kalimantan Timur Pradarma Rupang, dalam keterangan tertulis diterima merdeka.com, Jumat (26/4) malam.

Menurut Jatam, ribuan lubang tambang di Kalimantan Timur, mirip bom waktu dan kapan saja bisa menimpa siapapun. "Apalagi jarak dengan pemukiman warga dan fasilitas publik seperti sekolah sangat dekat," ujar Rupang.

"Bahkan sejak Isran Noor dan Hadi Mulyadi menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, tercatat sudah empat orang yang meninggal di lubang tambang. Polda Kaltim pun demikian. Kasus tewasnya 32 orang sebelumya, mangkrak. Tidak ada penegakan hukum yang tegas, terus dibiarkan," tambah Rupang.

Jatam Kaltim merinci sejak 2011-2019, 33 nyawa korban lubang bekas tambang batubara yang didominasi anak itu 19 korban terjadi di Samarinda, 12 korban di Kutai Kartanegara, 1 korban di Penajam Paser Utara, dan 1 korban di Kutai Barat. "Sekalipun Pemilu selesai, korban keganasan lubang tambang tidak akan selesai kalau terus dibiarkan," kata Rupang. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini