KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

3 Mi instan mengandung Babi beredar, pemerintah harus tanggung jawab

Selasa, 20 Juni 2017 07:04 Reporter : Fikri Faqih
Mie Korea mengandung babi. ©instagram.com/bpom_ri

Merdeka.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia menemukan tiga produk atau merek mi instan asal Korea ternyata mengandung Babi. Ketiga merek mi tersebut adalah Samyang, Nongshim, dan Ottogi.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Fadli Zon menyalahkan importir dan pemerintah terkait beredarnya produk mi yang mengandung unsur Babi. Dia menyayangkan adanya peredaran mi haram itu di masyarakat.

"Menurut saya, (kelalaian) ada dari importir dan pemerintah sebagai instansi yang punya kewenangan untuk menyeleksi mana haram mana halal," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/6).

Dia mengungkapkan, seharusnya pemerintah yang berwenang dalam hal itu, bisa mengantisipasi agar tidak ada peredaran produk haram. Fadli juga meminta pertanggungjawaban dari importir mi asal Korea tersebut.

"Harusnya BPOM dan lembaga terkait bisa mengantisipasi lebih awal. Tidak boleh ada satu produk yang keluar di supermarket tanpa proses, teliti unsur-unsurnya. Jadi karena kejadian ini, kan bisa saja pada produk lain yang masih banyak seperti itu. Importir juga harus diminta pertanggungjawaban," tegas politisi Gerindra ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay mempertanyakan, kinerja BPOM dalam mengawasi peredaran pangan di Tanah Air. Biasanya, sebelum izin import diperoleh, pengusaha impotir terlebih dahulu meminta izin kepada berbagai instansi terkait, termasuk kepada BPOM untuk melihat tingkat keamanan pangan yang akan diimpor tersebut.

"Waktu mengeluarkan izin, apakah BPOM tidak mengecek ini. Mestinya soal kandungannya juga harus diperiksa. Kenapa setelah masuk ke Indonesia baru kemudian ada temuan seperti ini?" ujarnya.

Saleh menegaskan, BPOM harus menjelaskan ke publik sejak kapan mie-mie tersebut ada di tanah air. Bisa jadi, mie-mie tersebut telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat tanpa mengetahui bahwa ada kandungan Babi di dalamnya.

"Kalau itu betul, bisa jadi ini kelalaian pihak BPOM untuk melakukan antisipasi. Ini harus betul-betul menjadi perhatian BPOM. Perlu ada penjelasan resmi dari BPOM," pungkasnya.

Sebelumnya, mi instan mengandung Babi ini diketahui dari Surat edaran BPOM bernomor IN.08.04.532.06.17.2432 untuk Kepala Balai Besar POM seluruh Indonesia. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan ketiga merek mi instan tersebut positif mengandung fragmen DNA spesifik Babi.

"Tidak mencantumkan peringatan 'Mengandung Babi' pada label," seperti tercantum dalam surat BPOM yang dikutip merdeka.com.

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DKI Jakarta Dewi Prawitasari mengatakan, tidak dijelaskan daerah mana saja ditemukan mi dengan kandungan Babi tersebut. Menurutnya, belum tentu itu ditemukan di semua provinsi di Indonesia. Khusus Jakarta, pihaknya mengaku belum melakukan pengecekan.

"Kami belum bisa memastikan di Jakarta. Kan kami baru dapat perintah. Kira-kira Senin akan kita mulai turun."

Surat tersebut memerintahkan untuk menarik ketiga produk mi instan yang mengandung Babi terhitung mulai Kamis (15/6). BPOM telah memerintahkan para importir untuk melakukan penarikan produk-produk dari peredaran.

"Kami informasikan target pemantauan antara lain di sarana distribusi retail produk yang menjual produk termasuk di antaranya importir distributor, toko, supermarket, hypermarket, pasar tradisional atau sarana yang sering melakukan pelanggaran di wilayah kerja saudara masing-masing," tulis surat itu.

BPOM Jakarta akan menyasar importir dan distributor yang menyalurkan mi instan asal Korea itu. "Kita tidak ke toko. Kewajiban importir penyalur untuk melakukan penarikan," tegasnya. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Makanan Dari Babi
  2. BPOM
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.