3 Anak di luar negeri, penjahit ini merana di tengah banjir

Senin, 20 Januari 2014 13:35 Reporter : Henny Rachma Sari
3 Anak di luar negeri, penjahit ini merana di tengah banjir hasyim penjahit. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Hasyim, pria paruh baya berusia 64 tahun ini merupakan salah satu warga Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan yang rumahnya terendam luapan air Kali Ciliwung. Rumah yang dikontraknya sejak dua tahun lalu direndam air setinggi 2 meter. Hal tersebut memaksa dirinya untuk mengungsi di bawah kolong jembatan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan seperti pengungsi lainnya.

Pria yang sehari-hari ini berprofesi sebagai penjahit pakaian menuturkan dirinya mempunyai lima orang anak perempuan yang kini telah dewasa. "Anak saya lima, perempuan semua. Tinggal yang bontot yang masih sekolah SMA," ujar Hasyim kepada merdeka.com, saat ditemui di bawah kolong jembatan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (20/1).

Hasyim terbilang salah satu contoh orang tua yang sukses, puluhan tahun berprofesi sebagai penjahit pakaian warga asal Cianjur, Jawa Barat ini bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga ke Perguruan Tinggi.

Topik pilihan: Kemacetan Jakarta | Jokowi ahok

"Alhamdulillah anak saya kuliahnya selesai. Tinggal yang bontot aja ini," tuturnya.

Selain itu, tiga dari lima anak Hasyim pun telah bermukim di luar negeri. "Tiga anak saya dibawa suaminya ke luar negeri. Di Taiwan, Singapura sama Belanda. Yang keempat sama yang kelima tinggal di Manggarai. Kalau istri saya di kampung, Cianjur sana," curhat Hasyim.

Ironisnya, meskipun saat ini kondisi hasyim tengah didera musibah banjir, tak satupun anaknya yang datang menjenguk dirinya. Hasyim mengaku bahwa dirinya telah memberi kabar kepada kelima anaknya bahwa rumah petakan kontrakannya direndam air setinggi 2 meter.

"Saya udah sms anak-anak saya. Mereka sudah tahu, katanya mau kirim uang. Tapi belum saya cek lagi, soalnya ngirimnya ke abang saya yang punya rekening," tutur Hasyim sambil membakar sebatang rokoknya.

Dalam musibah banjir tersebut, Hasyim pun hanya dapat menyelamatkan mesin jahit tua, sebuah sofa, dan pakaian ala kadarnya.

"Yah cuma ini yang bisa saya bawa dari rumah," ujar Hasyim sambil menunjukkan besi tua, alatnya mencari nafkah.

Sepekan sudah, Hasyim itu menjadikan kolong jembatan sebagai atapnya berlindung dari derasnya hujan yang turun, dan sebuah kardus yang dipakainya sebagai alas untuk tidur.

Selimut menjadi barang yang langka bagi Hasyim maupun ribuan pengungsi lainnya. "Bantuan alhamdulillah banyak, cuma selimut enggak ada. Karena kalau tidur di kolong jembatan begini kan pas malem dingin banget," ucap Hasyim pasrah.

Selain selimut, perlengkapan obat-obatan, pakaian layak pakai dan air bersih juga masih minim dirasakan ribuan pengungsi Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan tersebut.

Hasyim pun pasrah dengan sejumlah bahan jahitan pesanannya yang terendam air. "Itu di rumah TV, kipas angin sama bahan-bahan pesenan kerendam semua. Saya juga bingung ini gimana ya bilangnya sama yang mesen. Semoga ngerti mereka," pungkas Hasyim.

Baca juga:

Rumah kebanjiran, ratusan warga Pluit ngungsi di kantor polisi

BPBD: 11 Orang meninggal akibat banjir Jakarta

Terendam banjir, layanan SIM di Satpas Daan Mogot ditutup

Aksi nekat pemotor lawan arah hindari banjir di Daan Mogot

PLN belum hitung kerugian gara-gara banjir [ian]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Banjir Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini