2 Tahun tak mau melapor RT, warga Samarinda ini menghilang usai bom Surabaya

Rabu, 16 Mei 2018 15:52 Reporter : Saud Rosadi
rumah warga mencurigakan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang warga Jalan AW Syachranie Gang Pandan Mekar RT 30 Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu, Sd, bersama istrinya menghilang usai ledakan bom Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5) sore lalu. Pasangan suami istri itu memang gelagat mencurigakan lantaran sejak tinggal 2016 lalu, menolak untuk melapor ke ketua RT setempat.

Pantauan merdeka.com di lokasi, Rabu (16/5), sekitar pukul 13.00 Wita siang tadi, menyambangi rumah yang sebelumnya dihuni Sd. Rumah kontrakan bernomor 10A di RT 30 itu memang sudah tidak berpenghuni.

Sebelumnya, Selasa (15/5) sore kemarin, Babinsa dan Babinkamtibmas bersama dengan Lurah dan unsur Muspida lain, memang mendatangi rumah itu. Ditemukan barang-barang mencurigakan dari rumah itu.

Seperti 3 jeriken berisi cairan hitam dan juga pecahan batu koral berukuran kecil, diamankan petugas. Belum diketahui pasti jenis cairan di dalam jeriken itu.

"Kalau si suami agak tertutup. Tapi istrinya sering ngobrol sama istri saya. Mereka pindah angkut barang hari Senin kemarin sekitar jam 5 sore," kata Hendri, tetangga sekitar, ditemui merdeka.com di lokasi, Rabu (16/5).

"Memang pindahan rumah itu seperti terburu-buru. Tidak banyak ngobrol dengan istri saya. Angkut barangnya pakai truk," ujar Hendri.

Keterangan dihimpun di lokasi, ketua RT sudah bolak balik meminta Sd dan istrinya, melapor sebagai warga RT 30. Namu Sd dan istrinya, terlihat acuh. Sd sendiri diketahui sebagai salah satu pegawai di salah satu kampus di Samarinda.

Camat Samarinda Ulu Muhammad Fahmi yang juga mengecek rumah itu mengatakan, pascaledakan bom di Surabaya, ketua RT memang diinstruksikan untuk mendata warga pendatang, terlebih lagi tidak melapor. "Saya ingatkan ketua RT semuanya, agar waspada dengan pendatang. Pemilik rumah kontrakan dan bangsalan, mendata warga pendatang juga. Ini sebagai kewaspadaan dini," ujar Fahmi.

Diterangkan, memang dia menerima laporan, warga yang kini sudah menghilang itu, menolak untuk melaporkan diri. "Ketua RT mendatangi sampai 5 kali, meminta identitas, tapi tidak diindahkan. Jadi kan kita tidak tahu asalnya darimana," tambahnya.

Fahmi meminta ketua RT ekstra memerhatikan para warga pendatang bukan tanpa sebab. "Karena di kecamatan Ulu ada 8 kelurahan, 324 RT dengan jumlah jiwa 115.101 jiwa. Sekarang tidak tahu pindah kemana. Yang jelas, kita lakukan kewaspadaan dini," demikian Fahmi. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini