2 Insiden mengenaskan selama perburuan kelompok teroris Santoso

Jumat, 29 Juli 2016 05:36 Reporter : Ya'cob Billiocta
2 Insiden mengenaskan selama perburuan kelompok teroris Santoso Kedatangan jenazah Serda Muhammad Ilman. ©2016 merdeka.com/mappesona

Merdeka.com - Setelah melakukan perburuan sekian lama, Satgas Tinombala akhirnya berhasil menembak mati ketua kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah. Satgas juga sukses mempreteli satu persatu kekuatan kelompok teroris tersebut. Saat ini dipastikan tinggal 18 sisa anggota kelompok Santoso.

Namun di balik keberhasilan tersebut, harus dibayar mahal. Sejumlah insiden terjadi selama masa perburuan Santoso.

Seperti yang terjadi Minggu (20/3) lalu. Helikopter milik TNI Angkatan Darat jenis Bell 412 EP nomor HA 5171 mengalami kecelakaan sekitar pukul 17.55 WITA. Helikopter buatan Amerika Serikat itu ditumpangi 13 orang disambar petir karena cuaca buruk.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Tatang Sulaiman menyatakan, 13 penumpang itu terkait operasi Tinombala.

"Musibah jatuhnya Helikopter milik TNI AD sedang melaksanakan tugas operasi perbantuan kepada Polri di Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah," kata Mayjen Tatang kala itu.

Dia mengatakan, kronologis kecelakaan berawal ketika helikopter berangkat dari Desa Napu menuju Poso sekitar pukul 17.20 WITA. Helikopter itu jatuh tersambar petir di atas perkebunan Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir.

"Heli Bell itu masih kategori heli baru pengadaan 2012 dari Amerika Serikat. Semestinya pendaratan dekat Stadion Poso, 35 menit selama terbang," kata Tatang.

Adapun 13 korban yang meninggal dunia di dalam Helikopter yaitu 7 penumpang dan 6 kru, sebagai berikut :

1. Kolonel Inf Saiful Anwar (Danrem 132/Tdl)
2. Kolonel Inf Heri
3. Kolonel Inf Ontang R. P.
4. Letkol Cpm Tedy
5. Mayor Inf Faqih
6. Kapten Dr.Yanto
7. Prada Kiki
8. Kapten Cpn Agung
9. Lettu Cpn Wiradi
10. Letda Cpn Tito
11. Serda Karmin
12. Sertu Bagus
13. Pratu Bangkit

Insiden yang terbaru yaitu tewasnya satu anggota Tim Intelrem 132/Tadulako bernama Serda Muhammad Ilman. Korban tewas akibat salah tembak dari seorang anggota Brimob.

Serda Ilman tertembak saat bersama beberapa personel Satgas 1 Intelijen Tinombala yang dipimpin Kapten Inf Khalef, hendak mengecek kebenaran adanya penimbunan senjata di suatu tempat di dalam wilayah operasi.

Tim intel ini melintasi pos dekat Desa Towu, Kecamatan Poso Pesisir Utara, pada Rabu (27/7) sekitar pukul 12.30 WITA. Dan sejurus kemudian terjadi penembakan oleh personel Brimob karena menduga mereka adalah DPO kasus terorisme yang diburu dalam Operasi Tinombala. Kontak tembak ini menyebabkan Serda Ilman gugur.

"Gugur artinya Ilman sedang menjalankan tugas. kata-kata gugur adalah idaman setiap prajurit TNI termasuk saya, karena artinya meninggal sahid untuk negara dan agama," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (28/7).

"Kata-kata ter artinya tidak disengaja. berawal dari satgas intel tim Sandhi Yudha lima orang militer, Kopassus tiga dan dua tim intel, karena masyarakat mendapatkan informasi ada timbunan senjata. Maka timbunan tersebut digali. Mereka hanya bersenjata pistol di dalam tas. Satgas ini (anggota Brimob) mengaku mendapat informasi juga bahwa ada orang tidak dikenal juga dari masyarakat," jelas Gatot.

Kemudian saat penggalian tanah yang diduga berisi senjata, terjadi insiden tersebut. Gatot menegaskan tak ada baku tembak antara Sat Bravo Brimob dengan Kopassus.

"Saya ulangi tidak ada baku tembak. Karena tim intel juga mengetahui bahwa itu adalah teman sendiri. Dengan senjatanya, hanya berteriak-teriak hingga menyebabkan Serda Ilman meninggal dunia," kata dia.

Gatot meminta seluruh prajurit tidak dendam atas meninggalnya Serda Ilman. Sebab, Gatot menyakini anggota Brimob tak mempunyai niat untuk membunuh Serda Ilman.

"Saya perintahkan seluruh prajurit tidak ada yang menyampaikan pernyataan pers tentang ini. Saya ulangi. Tugas Satgas Tinombala, teman tim bravo tidak ada niat membunuh, tapi tertembak. Mereka sama-sama kerja untuk keberhasilan. Saya prajurit, mengalami hal seperti ini tidak ada kata-kata dendam," tegasnya.

TNI dan Polri lantas membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus ini. Dia meminta semua pihak menunggu hasil investigasi tersebut.

"Ini saya sampaikan sehingga tidak ada simpang siur lagi kejadian seperti itu kita tunggu hasil investigasi. Biarkan tim tinombala menjadikan momen tertangkapnya Santoso untuk melanjutkan tugas pemberantasan," kata Panglima TNI.

Dia menyakini Sat Bravo Brimob merasa bersalah lantaran Serda Ilman tertembak yang juga menjalankan Satgas Tinombala. "Karena kejadian seperti ini pun merupakan hukuman luar biasa bagi tim Bravo. Menembak teman sendiri itu merupakan hukuman luar biasa, seumur hidup," kata dia.

Atas insiden tersebut, dia meminta prajurit terus melanjutkan operasi Satgas Tinombala untuk memburu sisa kelompok Santoso 18 orang. Dia juga mengimbau sisa kelompok Santoso untuk menyerahkan diri.

Kemarin, tim investigasi gabungan yang dimaksud sudah tiba di Poso. Begitu mendarat di Bandara Kasiguncu Poso, tim kemudian bergerak menuju Posko Operasi Tinombala 2016 Sektor II Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir untuk bertemu dengan para personel TNI-Polri. Hingga kini penyelidikan masih berlangsung.

[cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini