15 Tahun perjalanan tiga sekawan menguak kehidupan Desa Tenganan

Selasa, 23 Agustus 2016 11:15 Reporter : Tim Merdeka
15 Tahun perjalanan tiga sekawan menguak kehidupan Desa Tenganan tim Mata Jiwa. ©2016 Merdeka.com/Haris Jauhari

Merdeka.com - Di Desa Tenganan Pagringsingan yang indah dan damai, masyarakatnya memegang teguh adat dan tatakrama kuno warisan leluhurnya sejak ribuan tahun lalu. Mereka menganut endogami yaitu perkawinan antarkerabat dalam lingkungan yang sama.

Bila ada lelaki yang menikah dengan wanita luar, dia tak boleh menjadi pengurus inti desa. Upacara yang boleh diikutinya pun terbatas. Bila perempuan menikah dengan pria luar, maka dia harus keluar dari desa dan seluruh haknya sebagai anggota suku dicabut selamanya.

Begitulah cara Wong Paneges, sebutan masyarakat desa di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, ini menjaga kemurnian keturunan dan tradisi mereka dari pengaruh luar.

Hari-hari mereka penuh dengan upacara, hingga desa ini sering disebut "negara upacara". Sebagian upacara itu, juga kalendernya, sangat berbeda dengan wilayah lain di seluruh Bali. Mereka satu-satunya penganut aliran Dewa Indra, yaitu Dewa Perang dalam agama Hindu, di Pulau Dewata.

Seluruh aktivitas ritual religius mereka beserta filosofi yang mendasarinya, terangkum dalam satu benang merah yang selalu hadir dalam tiap upacara penting, yaitu kerajinan kain tenun paling unik di dunia. Tenun Gringsing.

Tapi, bagaimana merangkum seluruh aktivitas itu dan menggambarkan filosofi hidup yang abstrak menjadi cerita puitik fotografis yang bisa dinikmati semua orang di seluruh belahan dunia?

Itulah tantangan terberat Marinta Serina Singarimbun dan Amalia Firman dalam menggarap buku "Mata Jiwa, A Memoir of Tenganan Pagringsingan". Buku ini diterbitkan Citaruci Mandalika. Minggu petang lalu diluncurkan oleh Ceva Bali di Taman Bhagawan yang indah di Nusa Dua, Bali.

Namun, untuk sampai ke saat peluncuran itu, butuh waktu 15 tahun yang dimulai dari pertemuan Marinta dengan Mangku Widia dan I Nyoman Sudra, dua tokoh masyarakat Tenganan Pagringsingan. Lahirlah niat membuat buku tentang tenun gringsing dan filsafatnya. Saat itu sekitar tahun 2000.

Tiga sekawan, Marinta, Amalia, dan Yuyun Yunia Ismawati Drwiega yang ketika itu bekerja di sebuah yayasan, menjadi rajin mondar-mandir ke Tenganan.

"Awalnya, saya pikir tak akan terlalu sulit mewujudkannya. Bahkan jujur saja, aneka ambisi pribadi mulai terbit di dalam diri," cerita Marinta yang menuliskan kisah puitik dalam "Mata Jiwa".

"Berawal dari ketertarikan pada kain tradisional, kami bertiga bermaksud mempelajari dan mendokumentasikan tenun gringsing," cerita Amalia yang mengilustrasikan kisah puitik Marinta secara fotogafis yang indah dan dalam.

Semua terlihat mudah pada awalnya. "Yang terjadi selanjutnya, sungguh di luar bayangan. Selama lima tahun saya sulit mencerna semua keterangan mengenai kain gringsing dan Tenganan Pagringsingan. Bahkan saya tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan," kata Marinta.

Makin dalam mereka masuki kehidupan sosial dan spiritual masyarakat desa itu, makin mereka seperti orang yang ingin menggapai lebih jauh dan lebih jauh lagi di laut yang luas.

"Niat mendokumentasikan kain tenun ganda gringsing, berubah menjadi lebih luas dan lebih dalam lagi, yaitu mengulas filsafat hidup Tenganan yang ternyata bernilai universal," kata Amalia yang mengaku ketika itu fotografi baru sebatas hobi saja baginya.

Mereka tampaknya menghadapi dilema. "Di puncak kelelahan mental, saya beberapa kali mengutarakan niat untuk undur diri. Pak Mangku Widia yang kini sudah almarhum dan Pak Sadra dengan sabar membesarkan hati saya," tutur Marinta.

Akhirnya, Marinta memutuskan istirahat total. Juga otomatis Amalia. Dalam masa rehat sekitar 4-5 tahun, Marinta mengaku mengalami beragam peristiwa. "Getir lagi beruntun. Ternyata, itulah masa kontemplasi dan pematangan pribadi saya," katanya.

Mereka akhirnya pulih. Tahun 2010-2011, Marinta dan Amalia mulai mondar-mandir Tenganan lagi. Yuyun keburu berkarir di luar negeri. Maka, mereka berdua mulai melibatkan teman yang lain. Ratna yang ahli bahasa Bali, punya peran penting menjadi penerjemah bagi Marinta yang berasal dari Tanah Batak dan Amalia dari Bumi Parahyangan.

Bergabung pula fotografer dan graphic designer Janny H.F. Rotinsulu dan fotografer profesional Hendra Lumillian. Tim ini mulai menemukan bentuk dan tujuannya. "Perlahan-lahan, kata-kata kunci disusun dalam sebuah alur. Alinea demi alinea tercipta, bab demi bab terangkai," tutur Marinta.

Mereka akhirnya menemukan ritme yang tepat, sejalan dengan keberhasilan memahami esensi keluhuran adat istiadat Tenganan Pagringsingan yang mengutamakan harmoni dengan alam.

"Keseimbangan adalah inti mencapai kebahagiaan," kata Putu Yudiana Krenteng, Kepala Desa Tenganan Pagringsingan.

Entah karena telah menemukan keseimbangannya atau ada semangat magis yang mendorong mereka, yang jelas tim itu kemudian ngebut.

Tahun 2013, hasilnya telah bisa diperlihatkan kepada sejumlah orang untuk mendapat masukan. Tak kurang dari tiga fotografer terkemuka nasional yang mewakili tiga aliran besar fotografi, yakni Darwin Triadi, Oscar Motuloh, dan Arbain Rambe, pendiri Pewarta Foto, memuji hasilnya.

Dan, ketika buku itu diluncurkan oleh Ceva Bali yang digawangi Siti Syahwali dan Rossy Talib, mereka berdua berujar, "Kami sangat bangga dan berterima kasih. Kearifan adat Tenganan Pagringsingan sangat kaya, relevan, dan universal. Sudah sepatutnya diketahui masyarakat luas."

Perjalanan 15 tahun itu mungkin telah menemukan tujuannya yang sepadan bagi mereka semua. Namun, mungkin hanya satu tahap saja bagi Wong Paneges menghadapi sejarahnya sendiri.

"Masyarakat Tenganan Pagringsingan meskipun menjalankan tatakrama kuno dengan taat dan ketat, mereka juga mengadaptasi kehidupan modern," tulis sebuah banner yang dipajang di Taman Bhagawan pada hari itu.

Itu masih hari yang sama untuk mengatakan tantangan mereka adalah menjaga keseimbangan sebagai anggota masyarakat desa adat sekaligus anggota masyarakat global. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini