1 Suro, Keraton Surakarta kirab 9 kebo bule dan 9 pusaka

Kamis, 15 Oktober 2015 07:31 Reporter : Arie Sunaryo
1 Suro, Keraton Surakarta kirab 9 kebo bule dan 9 pusaka Kirab 1 Suro di Keraton Surakarta. ©2014 Merdeka.com/arie sunaryo

Merdeka.com - Memperingati 1 Suro yang jatuh pada 14 Oktober dalam penanggalan Jawa, Keraton Kasunanan Surakarta melakukan ritual kirab pusaka.

Sembilan pusaka berupa tombak dan laonnya diarak mengelilingi tembok luar keraton. Kirab dipimpin cucuk lampah (pimpinan barisan) 9 kebo bule keturunan kiai Slamet.

Ribuan warga yang datang sejak sore sangat antusias menyambut munculnya kerbau yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai binatang kesayangan raja yang keramat.

Tengah malam, atau sekitar pukul 00.00 WIB, 9 kebo bule mulai muncul di depan Kori Kamandungan (depan pintu utama keraton). Usai prosesi upacara adat di dalam keraton, ratusan abdi dalem memulai kirab.

Suasana hening dan sakral terasa saat kirab dimulai. Aroma dupa pun menyeruak menambah suasana semakin terasa sakral. Kirab dimulai dari depan keraton menuju ringin kurung Alun-alun utara kemudian ke Gladag, Jalan Mator Sunaryo, Kapten Mulyadi, Veteran, Yos Sudarso, Slamet Riyadi dan kembali ke keraton.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan pergantian tahun Jawa yang digelar Keraton Surakarta nampak sepi penonton. Perbedaan hari perayaan dengan Istana Mangkunegaran menjadi pemicunya. Banyak warga yang mengira kirab kebo bule telah dilakukan pada hari sebelumnya.

"Saya kira kirabnya sudah kemarin. Ini tadi baru tahu dan langsung ke sini setelah diberitahu teman saya," ujar Anto Asmoro, warga Semin, Gunung Kidul.

Anto mengaku bersama keluarga selalu menyempatkan diri melihat kirab kebo bule. "Saya biasanya ikut di belakang kebo bule, siapa tahu dapat kotorannya. Kan bisa dapat berkah," katanya.

Ia mengaku masih percaya, jika mendapatkan kotoran kerbau keturunan kiai Slamet tersebut akan membawa rezeki. Bahkan sebagian pedagang juga masih percaya jika dagangannya dimakan kebo bule, maka akan mendapatkan berkah yang melimpah.

Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Solo, Kanjeng Pangeran (KP) Winarna Kusumo mengatakan kirab ini, juga untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang disebut 'Tahun Sultan Agungan' yang jatuh pada 1 Suro 1949 atau 14 Oktober 2015.

Dalam kirab tersebut, kata dia, seluruh peserta memang dilarang berbicara atau melakukan tapa bisu. Mereka diminta untuk berdoa dan melakukan introspeksi diri selama perjalanan.

"Tidak semua ikut kirab, sebagian kerabat dan abdi dalem tetap tinggal di keraton untuk melakukan salat hajad dan wiridan semalam suntuk. Sebelum kirab mulai, pukul 21.00 WIB diadakan acara 'dhukutan' atau tahlilan dan ruwatan," pungkasnya. [ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini