Menjawab persaingan global bersama Universitas Gunadarma

Kamis, 25 Mei 2017 12:03 Reporter : Ibnu Siena
Menjawab persaingan global bersama Universitas Gunadarma Rektor Gunadarma Margianti. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Perekonomian, baik secara nasional maupun internasional atau global, terus mengalami perkembangannya. Seperti ekonomi syariah yang tengah menjadi tren dan sebagai salah satu sistem yang dinilai bisa menjadi alternatif di tengah krisis global. Bahkan beberapa negara barat telah menggunakan konsep ekonomi syariah sebagai salah satu instrumen kebijakan ekonomi dalam menarik investor.

Hal itulah yang dilihat Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma untuk menggelar seminar berskala internasional bertajuk Enhancing Sustainable Development and Welfare Distribution Through Waqf.

Rektor Gunadarma, Margianti mengungkapkan, ekonomi syariah sebetulnya sudah dikembangkan sejak lama dan terbukti lebih tahan terhadap permasalahan ekonomi.

"Sudah dibuktikan ada karakteristik khusus secara ekonomi, bukan agama, yang ternyata lebih tahan terhadap turbulen atau permasalahan ekonomi yang ada. Seperti bagi hasil, itu secara ekonomi, secara logis, terbukti lebih tahan. Itu landasan filosofisnya," kata Margianti kepada merdeka.com di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, Rabu (24/5).

Simak wawancara merdeka.com selengkapnya bersama Rektor Universitas Gunadarma Margianti mengenai ekonomi syariah dan peran Gunadarma untuk menjawab persaingan global:

Kenapa Gunadarma ingin mengadakan seminar internasional?

Mengadakan seminar ini bukan karena ingin, tapi kewajiban dari setiap program studi untuk melakukan pendalaman pengembangan ilmu baik untuk lokal maupun internasional. Jadi itu memang sudah kewajiban program studi, centre, atau lembaganya sendiri. Sudah koridor yang harus dilakukan.

Kenapa harus wajib?

Karena memang salah satu sarana pengembangan ilmu. Untuk kita melakukan penelitian, seminar-seminar, mendapat ide-ide baru dari pihak lain. Jadi di situlah proses berkembangnya. Bisa diterangkan juga di sini bahwa para Kaprodi, Dekan dan lain sebagainya mereka tidak mendapat kewajiban administratif. Artinya mereka tidak diwajibkan mencari massa baru, mahasiswa baru dan lain sebagainya. Kewajiban mereka melakukan pengembangan dan pendalaman keilmuan melalui seminar, penelitian, kerja sama, dan juga melalui pengabdian masyarakat. Karena semua dukungan administrasi akademik dan keuangan itu dilakukan desentralisasi.

Gunadarma gelar seminar internasional bertajuk Enhancing Sustainable Development and Welfare Distrib 2017 Merdeka.com


Seminar ini apakah tema yang selalu berubah atau memang Gunadarma sedang fokus ekonomi syariah?

Ekonomi syariah ini di Gunadarma programnya baru berjalan belum satu tahun, per September 2016. Jadi di sini yang baru itu ada tiga: ekonomi syariah, agrotech, dan pariwisata. Jadi tema ini mengenai Enhancing Sustainable Development and Welfare Distribution Through Waqf, saya kira bebas pilihan mereka (program studi), apa topik yang sedang "in". Kebetulan bagi program studi ekonomi syariah yang baru itu pilihannya ke sana. Dan mereka punya keleluasaan akademik mengundang siapa saja. Tidak ada ketentuan dari kami (Rektorat) untuk mengundang ini mengundang itu.

Tapi sebelum itu, karena ini program baru, itu tidak mulai tiba-tiba. Di Gunadarma sendiri sudah aktif sekali Syariah Ekonomi Forum (SEF). Kegiatannya, salah satunya, mereka juara debat internasional. Prestasinya bagus sekali. Setiap kali kegiatan mereka ada, mereka juga bertanya, "Kapan program ekonomi syariah di Gunadarma ada?", dengan ini kami jawab. Tentu, setelah kami melakukan persiapan. Jadi topiknya, apa yang berkembang saat ini, menjadi bahan kajian.

Pertimbangan Gunadarma untuk membuka ekonomi syariah?

Ekonomi syariah memang sebetulnya sudah dikembangkan lama untuk memperkenalkan dan sebagainya. Dan juga sudah dibuktikan ada karakteristik khusus secara ekonomi, bukan agama, yang ternyata lebih tahan terhadap turbulen atau permasalahan ekonomi yang ada. Seperti bagi hasil, itu secara ekonomi, secara logis, terbukti lebih tahan. Itu landasan filosofisnya.

Apa yang diharapkan kepada lulusan-lulusan Gunadarma nantinya, khususnya di bidang ekonomi syariah?

Anggota SEF tadi dasarnya adalah mereka yang mengambil program studi ekonomi. Kemudian studi lanjutan di luar negeri mengambil ekonomi syariah. Bahkan ada yang dibiayai oleh Gunadarma. Jadi kita sudah punya tenaga-tenaga yang diharapkan akan kembali ke sini lagi. Harapannya tentu saja lulusannya itu dapat mengisi pangsa ekonomi syariah di Indonesia. Selama ini kan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma menjadi salah satu favorit karena diperkaya dengan ICT. Semua fakultas yang ada harus embeded dengan ICT. Semua diberi tambahan pengetahuan IT dan Komunikasi. Sekarang karena ekonomi syariah berkembang pesat, maka kita juga ingin berkiprah.

Rektor Gunadarma Margianti 2017 Merdeka.com

Termasuk dengan persaingan global?

Otomatis kalau itu. Termasuk semua yang ada di Gunadarma. Payung MoU Gunadarma untuk aktivitas internasional itu kan mencakup, termasuk yang ekonomi syariah itu. Gunadarma saat ini kan ada lebih dari 100 kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi atau bukan perguruan tinggi. Kalau memang dia bisa in-line dan itu sangat terbuka dan fleksibel.

Ekonomi syariah itu sebuah peluang atau ancaman di Indonesia?

Menurut saya tergantung bagaimana melihat. Ada istilah SWOT, dan di bagian weakness bila kita bisa melihat dari sisi lain bisa juga menjadi strengths. Begitupun dengan threats, bisa juga kita ubah menjadi opportunities kenapa tidak. Jadi kalau ada kesalahan coba kita selamatkan dan cari Win-Win Solution-nya.

Para mahasiswa akan memasuki dunia kerja, mereka kerap terkendala. Mereka sudah siap atau belum sebelumnya?

Kalau Gunadarma sudah dipersiapkan sejak awal, ini sudah dilakukan sejak dulu. Pertama, Gunadarma sekarang sudah punya gedung berlantai, dulu kan belum. Jadi kami berpikir kalau mahasiswa itu diwawancara oleh sebuah perusahaan yang multinasional dia nggak pernah naik lift, umpamanya, nanti dia bisa tidak 'tampil'. Kami memikirkan bagaimana melatih para mahasiswa ini diuji oleh orang-orang berdasi, dengan jas. Kami sudah mengharuskan para dosen itu waktu sidang S-1 pakai dasi, pakai jas, tapi tidak ada yang mau. Nah akhirnya kami sediakan. Tujuannya untuk upaya pembiasaan mahasiswa.

Permasalahan lainnya?

Permasalahan lainnya adalah mahasiswa tidak bisa 'nyetel' dari apa yang ada di universitas dengan dunia kerja. Di Gunadarma kami siapkan ada mata-mata kuliah tertentu yang ada muatan praktikum IT yang mendukung satu mata kuliah tertentu. Katakan perpajakan, di situ ada komponen praktikum perpajakan, dan mahasiswa wajib ikut. Memang di luar SKS, tapi kalau tidak ikut dia tidak akan lulus. Itu salah satu kesiapan untuk menghadapi dunia kerja. Ada juga mata kuliah lainnya.

Kalau tadi hard skill, ada lagi soft skill-nya. Karena kan mereka juga perlu memiliki bagaimana memperhatikan, bagaimana mendengar, atau bagaimana bersikap di dunia kerja. Nah itu ada di mata kuliah adapted soft skill, namanya.

Tapi belakangan pemerintah kita ini berpikir lagi, "Katanya para mahasiswa kita ini kurang aware dengan situasi sosial", terus mereka membuat suatu program hibah General Education. Jadi mereka ingin bikin suatu kurikulum tertentu di mana mata kuliah itu langsung membaur ke masyarakat. Itu ada hibahnya. Kami sedang melakukan ini melalui (program studi) Agrotech, mereka kuliah lapangan dan sebagainya. Nanti kalau ini bagus, kita bisa embeded kan pada program di universitas. Dulu soft skill juga begitu, dapat program hibah sedikit dan bagus, lalu kita jadikan program lembaga.

Apakah ada semacam monitoring kepada lulusan?

Kita monitor lulusan kita. Lulusan kita maksimum 3 bulan sudah terserap. Yang belum bekerja tapi sudah terserap juga banyak. Dan ini divalidasi dengan jumlah mahasiswa yang akan masuk.

Untuk dari itu semua, di Gunadarma ada lembaga pengembangan. Kalau di ekonomi ada Lebma, di Komputer ada Lebkom, Lebsi, Lebtek dan lain-lain. Di mana di situ disediakan short courses seminggu satu kali. Di situ banyak perkembangan baru yang disajikan. Dan semua mahasiswa itu wajib.

Ke depan sesuai dengan skema LSP sertifikat kompetensi bagi mahasiswa itu akan lebur kepada LSP-P1 Gunadarma. Lembaga Sertifikasi Profesi sudah keluar izinnya untuk 33 skema. Jadi mahasiswa nanti akan mendapat sertifikat dengan mengikuti sertifikasi dari LSP di Gunadarma. Dan Gunadarma baru mendapat izin 33 skema, itu berat sekali.

Rektor Gunadarma Margianti 2017 Merdeka.com


Pengangguran universitas tinggi, bagaimana Anda menanggapinya?

Kita sendiri membekali mereka dengan inkubator bisnis. Tujuannya, jangan hanya berharap mereka menjadi pegawai, tetapi kalau bisa menjadi pembuka kesempatan lapangan pekerjaan. Pernah dulu TPSDP itu pernah mengadakan program bagi para lulusan yang ingin punya sesuatu lebih, ada dananya.

Pengangguran itu juga kan tidak hanya salah universitasnya, tetapi juga situasi ekonomi yang ada berpengaruh.

Kalau saya belum bisa melakukan hal yang nyata untuk angka pengangguran, saat ini careness-nya untuk Gunadarma. Misalnya, kami bekerja sama yang memang dapat mendukung kepentingan Gunadarma, seperti kerja sama untuk pembuatan handphone Android di mana untuk mendukung administrasi akademik secara online, itu yang kami lakukan.

Bagaimana yang akan memasuki perkuliahan, jaminan apa yang didapat dari Gunadarma?

Kompetensi yang ada sendiri saat ini, adalah jaminan yang akan diterima mereka. Di Gunadarma sendiri dalam proses pembelajaran yang ada banyak kegiatan-kegiatan intern yang bisa berguna bagi mereka. Kemudian kedua, banyak kegiatan penelitian Gunadarma saat ini menjadi nomor satu paling banyak penerima dana penelitian dari pemerintah. Salah satunya yang baru, science and technopark.

Bagaimana dengan treatment mahasiswa baru yang datang dari berbagai latar belakang dan generasi?

Treatmen itu berbeda-beda, tergantung dari fakultas atau bidang jurusannya masing-masing, psikologi beda dengan arsitek, beda dengan ekonomi dan lain sebagainya. Di Gunadarma selalu dari awal disampaikan kita output oriented. Walaupun masing-masing beda, tapi kita selaraskan semuanya. Kami rektorat, tidak bisa masuk sampai ke situ. Pemerintah juga kan sudah menetapkan standarisasinya tiap kampus-kampus untuk menjamin kompetensinya masing-masing sesuai bidangnya.

Semua itu juga terbagi dalam tiga garis besar, Tri Dharma: proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dan mereka mahasiswa harus diwadahi ke situ. Walaupun saat ini tengah dipertanyakan apakah masih relevan dengan kondisi sekarang atau tidak, karena itu produk tahun 55.

Kemudian semua harus berbasis ICT, ada hard skill, soft skill. Sekarang juga visi misi kami berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Dan juga terkenal dan diakui secara internasional. Jadi sekarang banyak sekali kegiatan-kegiatan itu yang diarahkan ke arah internasional.

Apa yang ingin disampaikan Gunadarma kepada para calon mahasiswa dan lulusan?

Kalau yang baru tentu saja silakan datang ke Gunadarma. Tentu saja ada gate yang harus mereka lewati. Juga di Gunadarma banyak tersedia banyak kesempatan beasiswa, ke luar negeri pun ada, juga kami menerima bidik misi. Artinya kalau pemerintah daerah punya usulan untuk prestasi akademik dan nonakademik, olahraga misalnya, itu sangat dihargai di sini bila ada rekomendasi. Kita kan membuka seluas-luasnya kepada semua. Tentu, selamat datang.

Bagi yang akan lulus, apa yang sudah diterima itu belum apa-apa, harus dikembangkan. Karena setiap saat semuanya berkembang, semuanya berubah, yang tidak berubah ya hanya perubahan itu sendiri. Tetapi positif, tetap semangat, jaga nama Gunadarma. Ubah semua weaknesses dan threats menjadi kesempatan. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Pendidikan
  2. Depok
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini