Kembangkan wirausaha Fakultas Ekonomi UT gelar Seminar Nasional ke IX

Sabtu, 11 November 2017 14:32 Reporter : Endang Saputra
Fakultas Ekonomi UT gelar Seminar Nasional ke IX. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka (FE UT) bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IKA UT) menyelenggarakan Seminar Nasional ke IX dengan tema 'Entrepreneurship At Global Crossroad Challenge and Solutions di Gedung Universitas Terbuka Conventional (UTCC) Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (11/11).

Seminar nasional ini merupakan rangkaian dari kegiatan Dies natalis UT ke-33 yang jatuh pada tanggal 4 September 2017 lalu.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Ojat Darojat,M.Bus.,Ph.D, mengatakan bahwa pemilihan tema Entrepreneurship At Global Crossroad Challenge and Solutions sangat tepat karena kendati banyak program pembangunan yang sudah digulirkan agar mampu mengatasi masalah pengangguran, namun hingga detik ini masalah tersebut masih mencuat di banyak negara, tak terkecuali negara-negara besar.

"Hal itu tidak lain karena belum kuatnya jiwa kewirausahaan di negara tersebut. Para wirausahawan inilah yang menggerakan roda perekonomian suatu negara. Mereka jeli melihat peluang, kemudian berani mengembangkan menjadi unit bisnis yang akhirnya mampu menyerap tenaga kerja," kata Rektor UT Ojat saat memeberikan sambutan dalam Seminar Nasional IX.

Lebih lanjut Rektor mengatakan bahwa Indonesia yang berpenduduk 262 juta sebenarnya mempunyai potensi besar dalam pengembangan kewirausahaan jika digarap secara serius. Sebagai gambaran, menurut data Kementerian Koperasi di UKM, rasio wirausaha tahun 2016 di tanah air mencapai 3,1 persen, meningkat dari rasio sebelumnya yakni hanya 1,67 persen.

"Ini berani rasio kewirausahaan Indonesia sudah lampaui batas minimal rasio yang digagas Mc Clelland, yaitu 2 persen. Namun demikian jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam,rasio jumlah kewirausahaan kita di bawah mereka di mana Singapura mencapai angka 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen dan Vietnam 3,3 persen. Negara Amerika Serikat dan Jepang sudah melejit jauh yaitu 10 persen," ujarnya.

Selanjutnya Rektor menjelaskan kendati jumlah wirausaha di Indonesia melebihi 2 persen dari jumlah penduduk,namun dari aspek kualitas masih merupakan kendala, dimana sebagaian besar mereka merupakan kelompok kewirausahaan yang didasarkan atas desakan kebutuhan untuk hidup (necessity enterneurship), bukan kelompok kewirausahaan atas dasar merespons peluang (opportunity entrepreneurship).

"Dampak dari kondisi tersebut,kontribusi wirausaha-teruama UKM terhadap pendapatan per kapital masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara lain yang memiliki jumlah wirausaha yang lebih kecil dari Indonesia. Keadaan seperti ini sangat disayangkan mengingatkan potensi Indonesia yang cukup besar untuk menjadi negara maju karena mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar dengan sumber daya alam yang melimpah," katadia.

Selain itu, kata Rektor untuk mencetak wirausaha yang handal memang tidak semudah membalikan telapak tangan.

"Apa lagi dalam masyarakat kita masih ada pandangan bahwa menjadi pengawai pemerintah mempunyai kedudukan yang mulai dibandingkan berwirausaha," jelasnya.

Rektor pun menghimbau untuk berani memulai langkahnya menerjuni dunia usaha. Dunia mencatat para enterpreneur kelas dunia berikut ini memulai usahanya ketika usia 20-an, seperti Bill Gates dan Paul Allen (Microsoft), Michael Dell (Dell Computer), Steve Jobs (Apple), Fred Smith (Federal Ekpres), Larry Page dan Sergey Brin (Google) dan masih banyak contoh lainnya.

"Di Indonesia pun telah muncul beberapa entrepreneur muda yang memulai usaha ketika di usia yang sangat belia, misalnya Achmad Zaky (Bukalapak.com), Andrew Darwis (Kaskus), Nadiem Makarim (Gojek), William Tanuwijaya (Tokopedia)n Natalie Ardianto (Tiket.com), Ferry Unardi (Traveloka) dan lain-lain," katanya.‎

Di era digital ini, kata Rektor yang telah melanda kalangan muda dewasa ini memudahkan mereka untuk memulai bisnis. Dengan modal kreativitas dan keberanian, siapapun bisa membuka gerai online tanpa harus mempunyai toko secara fisik terlebih dahulu. Bisnis makanan, mainan, buku aplikasi, jasa, apapun bisa dipasarkan secara online.

"Demikian juga promosi bisa dilakukan lebih mudah dan cepat dilakukan melalui sosial media. Dengan perangkat teknologi digital,wirausaha muda pelalui UKM bisa melakukan disruptive innovation yang memungkinkan mengambil pangsa pasar perusahan-perusahaan besar,"kata dia.

Sebagai contoh, lanjut Rektor fenomena hadirnya Gojek berpotensi mendistrupt jasa logistik atau courier berupa pengantaran barang dalam kota yang selama ini tidak bisa dilayani oleh perusahaan courier besar.

"Berangkat dari kondisi itulah Rektor UT mengajak para pelaku wirausaha terutama UKM untuk melakukan disruptive innovation agar tidak terjebak di persimpangan jalan (crossroad) dalam mengadapai gelombang persaingan dan perubahan yang begitu cepat,"katanya.

Diketahui, untuk pembicara kunci dalam seminar tersebut adalah Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) yang diwakili oleh Maman Rahmawan. Adapun dalam sesi panel yang menjadi pembicara adalah Achmad Zaky,Founder sekaligus CEO Bukalapak.com dan Lendo Novo, pendiri Sekolah Alam pertama di Indonesia. Sebanyak 106 pemakalah dari berbagai perguruan tinggi UGM,Unpad,IPB, UNS, UNDIP dan lain-lain berpartisipasi dalam seminar tersebut. Tercatat sekitar 100 orang peserta mengikutin seminar ini. [hrs]

Topik berita Terkait:
  1. Pendidikan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.