Terancam Rugi, Industri Otomotif RI Menatap Volume Produksi 70 Persen di 2021

Kamis, 7 Januari 2021 14:23 Reporter : Syakur Usman
Terancam Rugi, Industri Otomotif RI Menatap Volume Produksi 70 Persen di 2021 Ekspor mobil Tanjung Priok. ©2017 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Anjlok, begitulah gambaran volume produksi industri otomotif RI yang terpuruk akibat pandemi sejak kuartal II 2020.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), jumlah produksi mobil ‘made in' Indonesia anjlok 48 persen menjadi 621.873 unit per November lalu.

Pabrikan terpaksa menghentikan produksi beberapa kali dengan beberapa pertimbangan. Seperti menyesuaikan dengan volume permintaan (demand) yang cenderung menurun dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi mencegah penularan Covid-19 di kalangan pekerja.

Berdasarkan data Gaikindo, raja otomotif RI, Toyota, mengalami penurunan produksi 46 persen menjadi 255.796 unit per November tahun lalu. Artinya, volume produksi Toyota hanya 54 persen!

Bob Azzam, Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, mengakui masalah penurunan volume produksinya. Dibandingkan negara lain, industri otomotif Indonesia memang lebih lambat pemulihannya. Padahal negara lain pemulihannya di atas 70 persen dari sebelum pandemi.

"Volume produksi 70 persen itu sangat penting karena patokan titik recovery. Artinya, industri otomotif bekerja di atas break even point (BEP) dan meraih profit. Namun, jika volume produksi masih di bawah 70 persen, kami berada dalam tekanan sehingga harus melakukan berbagai efisiensi produksi," ujar Bob saat jumpa pers akhir tahun, baru-baru ini.

Di pabrik Sunter-Jakarta dan Karawang-Jawa Barat, Toyota memproduksi model Vios, Yaris, Sienta, Avanza, Rush, Kijang Innova, Fortuner, Agya, dan Calya. Selain untuk pasar domestik, produksi itu juga untuk pasar ekspor.

Sayangnya, kinerja ekspor Toyota juga terpuruk: turun 42,5 persen menjadi 47.846 unit. Model yang diekspor adalah Fortuner, Kijang Innova, Yaris, Vios, Sienta, Avanza, Rush, dan Wigo.

Karena itu, lanjut Bob, Toyota berharap pada 2021 volume produksinya bisa mencapai 70 persen dari sebelumnya supaya bisa masuk ke fase new normal.

Artinya, pabrikan berharap bisa meraih untung, dengan berada di tahapan BEP atau minimal kondisi yang sama (impas) antara biaya produksi dan jumlah pendapatan hasil penjualan kendaraan.

Usulkan Bebas PPnBM

Gaikindo sebagai Asosiasi industri otomotif RI pun tak tinggal diam melihat belum dicapainya 'posisi aman' rerata volume produksi pabrikan itu.

Jongkie Sugiarto, Ketua I Gaikindo, mengaku Asosiasi mengusulkan kembali insentif pajak untuk mendongkrak volume produksi industri. Kali ini, pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil diusulkan dibebaskan alias 0 persen selama enam bulan di 2021.

"Pembebasan PPnBM ini bersifat sementara, yakni berlaku 6 bulan pertama dan hanya untuk kendaraan produksi di Indonesia dalam kisaran harga di bawah Rp 300 juta. Harapannya harga jual kendaraan itu semakin menarik sehingga penjualan dan produksinya juga meningkat," ujar Jongkie saat diwawancarai oleh stasiun TV CNBC Indonesia, kemarin.

Menurutnya, kendaraan 'made in' Indonesia dengan kisaran harga Rp 300 juta itu mendominasi pasar otomotif selama ini. Pada tahun lalu saat penjualan sekitar satu juta unit, 60 persennya berasal dari model kendaraan tersebut.

Baca Selanjutnya: Volume Produksi Suzuki di Atas...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini