Catatan Akhir Tahun

Stagnasi Industri Otomotif Nasional, Merek China hingga Kalahnya Chevrolet dan Datsun

Selasa, 31 Desember 2019 09:00 Reporter : Syakur Usman
Stagnasi Industri Otomotif Nasional, Merek China hingga Kalahnya Chevrolet dan Datsun booth Datsun di Telkomsel IIMS 2019. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Pasar otomotif Indonesia 2019 tidak semenarik tahun lalu. Hingga November, total penjualan mobil di Indonesia turun 11 persen menjadi 940.362 unit. Hajatan politik berupa pemilihan presiden dan parlemen pada April lalu diduga menjadi faktor lesunya pasar otomotif tahun ini.

Low cost and green car (LCGC) yang menyasar pengguna sepeda motor yang ingin naik kelas ternyata tak berdampak signifikan terhadap pasar mobil nasional sejak rilis 2014. Stagnasi ekonomi nasional yang berada di level 5 persen ditaksir menjadi penyebab muram wajah industri otomotif nasional tahun ini.

Kelesuan pasar otomotif tahun ini membawa banyak dampak buruk bagi merek otomotif di republik ini. Dengan kejam, pasar otomotif Indonesia menghukum merek-merek yang kalah bersaing. Bagai monster lapar, dia melahap merek otomotif global sekalipun.

Di kuartal akhir 2019, kita mendapat kabar bahwa General Motors (GM) sebagai prinsipal merek Chevrolet memutuskan menghentikan pemasaran dan penjualan mobil Chevrolet di pasar Indonesia, akibat volume penjualannya tidak mencapai skala ekonomis (baca: tidak mencapai untung).

Pada 28 Oktober 2019, pabrikan asal Amerika Serikat ini memilih stop menjual mobil baru di Indonesia mulai akhir Maret 2020, karena tidak mencapai profit seperti yang diharapkan. Di Indonesia, pabrikan asal Amerika Serikat ini menjual mobil dengan merek Chevrolet, khususnya segmen sport utility vehicle (SUV) seperti Chevrolet Trax, Trailblazer, dan Colorado.

“GM tidak memiliki segmen pasar otomotif yang dapat memberikan keuntungan berkesinambungan,” ujar Hector Villarreal, President GM Asia Tenggara, dikutip Merdeka.com dalam siaran pers di laman GM Indonesia.

Chevrolet memang sangat kesulitan di pasar Indonesia, terutama sejak model MPV Spin dihentikan penjualannya, bila merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Per Oktober tahun ini, penjualan ritel Chevrolet turun 39 persen menjadi 1.263 unit dibandingkan periode sama tahun lalu. Sejatinya, penjualan Chevrolet Indonesia terus turun sejak 2014. Sejak itu volume penjualannya tak pernah lebih dari 5 ribu unit dan cenderung menurun hingga tahun ini.

1 dari 2 halaman

Pasar mobil stagnan lima tahun terakhir

2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Hanya selang satu bulan, prinsipal Datsun, PT Nissan Motor Indonesia, menyusul kebijakan GM. Tepatnya pada akhir November, Nissan Indonesia memilih menghentikan produksi mobil Datsun GO dan GO+ di pabrik Purwakarta, Jawa Barat. Sebagai gantinya, pabrik Purwakarta Nissan Indonesia itu akan digunakan untuk produksi komponen mesin mobil All New Nissan Livina termasuk kembarannya, Mitsubishi Xpander. Ini bisa dimaklumi karena Nissan dan Mitsubishi tergabung dalam aliansi global Renault-Nissan-Mitsubishi sejak akhir 2017.

"Mulai Januari 2020, Datsun stop produksi Datsun GO dan GO+ di Indonesia, karena volume penjualannya tidak mencapai skala ekonomi, karena persaingan ketat di segmen mobil kecil. Akibatnya mereka tidak berhasil mencapai tahap break even point (BEP) dan memilih ganti strategi," kata Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian.

Namun, memang belum jelas apakah Nissan hanya menghentikan produksi Datsun di Indonesia tapi masih memasarkan mobil Datsun atau menghentikan produksi dan pemasarannya sekaligus. Jika pilihan kedua yang diambil, maka mobil Datsun yang dijual di Indonesia kemungkinan besar diimpor dari pabrik Nissan di India.

Keoknya merek Chevrolet dan Datsun menegaskan kejamnya pasar mobil Indonesia. Tiga tahun lalu (2016), dua merek dunia sudah menyerah lebih dulu, yakni Ford (Amerika Serikat) dan Mazda (Jepang). Meski akhirnya Mazda masuk lagi dengan menunjuk distributor tunggal di Indonesia; Eurocars Group.

Agus Tjahajana, pengamat industri otomotif, mengatakan keoknya Chevrolet dan Datsun di Indonesia disebabkan stagnannya pasar otomotif nasional dalam lima tahun terakhir. Mengutip data Gaikindo, penjualan mobil domestik memang stagnan di level satu jutaan periode 2014-2018. Dan tahun ini pasar tak lebih baik dari tahun lalu.

Menurut Agus, stagnasi pasar otomotif Indonesia dalam lima tahun terakhir sangatlah berat bagi pemain kecil seperti Datsun. Pada Januari-Oktober 2019, penjualan ritel Datsun Indonesia turun 18,5 persen menjadi 6.836 unit dibandingkan periode sama tahun lalu. Volume produksinya bahkan turun lebih besar lagi, yakni 65 persen, tinggal 3.982 unit!

Menurut Agus, biaya operasional pabrik mobil Datsun semakin berat, bila penjualannya tidak mencapai target, apalagi terus menurun. Bila penjualannya menurun, biaya overhead pabrik yang besar semakin sulit ditanggung oleh pabrikan.

Pasar yang stagnan tentu sangat berat bagi pemain kecil seperti Datsun dan Chevrolet. Sementara pesaing semakin banyak terutama dari merek China dan model kendaraan juga semakin beragam, ujar Agus pada Merdeka.com.

Di sisi lain, kata dia, pemain besar nan kuat masih sukar dikalahkan, seperti Toyota, Daihatsu, Suzuki, Honda, dan Mitsubishi. Karena merek-merek ini sudah membangun industrinya sejak 1970-an sehingga posisinya sangat mapan di pasar otomotif Indonesia. Berat sekali melawan mereka yang sangat kuat di pasar otomotif Indonesia.

2 dari 2 halaman

Penjualan mobil China cenderung naik

2019 Merdeka.com

Kue yang stagnan, tapi diperebutkan semakin banyak pemain, terutama merek asal China, membuat kompetisi di pasar otomotif Indoesia semakin sengit. Belajar dari pengalaman buruk masa lalu, ekspansi merek otomotif China ke Indonesia dilakukan dengan sangat berani berkat dukungan fulus tak terhingga.

Strateginya langsung membangun fasilitas perakitan atau completely knock down (CKD) di Indonesia supaya mendapat harga jual lebih terjangkau. Setelah strategi CKD, merek China tinggal agresif di strategi pemasaran dan brand image, ucap Agus.

Strategi merek China yang diwakili Wuling dan DFSK tersebut mulai membuahkan hasil sejak dua tahun lalu masuk ke Indonesia.

Data Gaikindo menyebutkan penjuaan ritel Wuling naik 29 persen menjadi 16.368 unit periode Januari-Oktober tahun ini dibanding periode sama tahun lalu. Volume produksi pabriknya di Cikarang, Jawa Barat, juga naik 27 persen menjadi 18.911 unit.

Merek DFSK juga alami tren kenaikan. Volume penjualan ritelnya bahkan naik lebih dari 300 persen menjadi 2.489 unit periode Januari-Oktober tahun ini. Sementara volume produksi pabriknya di Cikande, Serang, Banten, juga naik 100 persen lebih menjadi 3.310 unit di periode sama.

Jadi, sangat mungkin pangsa pasar Chevrolet dan Datsun direbut oleh Wuking dan DFSK di Indonesia.

Praktisi pemasaran Yuswohadi berpendapat kehadiran merek China di pasar otomotif Indonesia mendorong lahirnya perang fitur produk. Sebab pabrikan China menawarkan mobil dengan fitur lebih banyak, tapi harga jual lebih murah dibandingkan merek Jepang yang lebih mapan. Selain itu, pabrikan China juga bermain di segmen gemuk seperti segmen mobil keluarga (MPV) dan sport utiity vehicle (SUV) di Indonesia.

"Kondisi terjadi sekarang lebih tepat value war (perang kualitas) dibandingkan price war (perang harga). Sebab yang terjadi sebenarnya adalah perang di fitur dengan benefit harga jual tetap atau cenderung turun. Bila tidak inovasi, maka main di harga jual. Prinsipnya, more (items) for less (price)," pungkas Yuswohadi.

[sya]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini